LSI: Kalau UAS Turun, Prabowo-Sandi Berpeluang Besar Balikkan Keadaan
logo

24 Agustus 2018

LSI: Kalau UAS Turun, Prabowo-Sandi Berpeluang Besar Balikkan Keadaan

LSI: Kalau UAS Turun, Prabowo-Sandi Berpeluang Besar Balikkan Keadaan


GELORA.CO - Survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan elektabilitas pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin unggul di enam kategori pemilih umat Islam. Namun, peneliti LSI Rully Akbar mengatakan, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno masih berpeluang besar untuk membalikkan keadaan.

Menurutnya, saat ini bakal calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Prabowo-Sandiaga masih belum resmi didukung endorser dari kalangan ulama. Nama-nama ulama seperti ustaz Abdul Somad, Yusuf Masyur, Arifin Ilham, hingga Abdullah Gymnastiar, masih belum menentukan sikap.

"Jadi kalau sudah muncul Aa Gym, ustaz Abdul Somad turun, saya rasa bisa jadi membalikkan keadaan, memperkuat pasangan Prabowo-Sandi di pemilih muslim," katanya di Jakarta, Jumat (24/8).

Hingga saat ini, Ijtima Ulama GNPF juga belum menentukan sikap untuk mendukung pasangan penantang tersebut. Namun, kemungkinan besar ulama-ulama itu akan mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga, mengingat kedekatan yang selama ini terjalin. Apalagi, kata Rully, selama ini sosok Rizieq selalu berseberangan dengan Jokowi.

Ia menambahkan, ulama seperti habib Rizieq Shihab memiliki kekuatan tersendiri di kalangan Front Pembela Islam (FPI) maupun pemilih muslim secara umum. Jika Rizieq sudah memberikan dukungan, tak menutup kemungkinan akan berpengaruh besar pada peta suara di kalangan pemilih Muslim.

"Habib Rizieq punya nilai endorsment tersendiri karena dia figur bisa dibilang macan panggung," ujarnya.

Survei LSI terbaru menunjukkan elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf memiliki elektabilitas 52,7 persen di kalangan pemilih Muslim. Sementara Prabowo-Sandiaga hanya 27,9 persen. Artinya, lanjut Rully, ada ada selisih 24,7 persen.

Namun, ia mengingatkan survei ini baru fase awal yang hanya menggambarkan kontestasi persaingan saat ini. "Jadi belum tahu ada perubahan yang signifikan di 200 hari ke depan karena masih jauh perjalanan menuju 2019 nanti," kata dia. [rol]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...