GELORA.CO — Polda Metro Jaya menetapkan tiga orang sebagai tersangka pengeroyokan yang menewaskan pedagang cermin Bambang Setyawan (juga disebut Setiawan/Setiyawan), 59 tahun, di Jalan Raya Pejompongan, Jakarta Pusat, pada 27 Agustus 2026. Ketiga tersangka berinisial FP (23), DS (33), dan DDS (29) ditangkap di Babakan Madang, Kabupaten Bogor, pada 11 September 2026.
Dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya pada 12 September 2026, ketiga tersangka diperlihatkan kepada media dengan seragam tahanan dan wajah tertutup balaclava hitam. Mereka tidak menghadap kamera. Polisi menampilkan barang bukti seperti potongan kayu, batu, piring, dan gelas.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin mengatakan motifnya adalah rasa kesal karena mata pencaharian mereka terganggu. Ketiganya disebut pekerja kasar atau serabutan yang biasa mencari nafkah di sekitar lokasi. Saat kerusuhan pecah setelah demo di depan Gedung DPR, mereka ikut serta. Bambang, yang bukan demonstran dan sedang hendak menutup tokonya, diseret dan dianiaya. FP disebut sebagai pelaku utama yang memukul dengan kayu, sementara DS dan DDS ikut memukul, menendang, dan menyeret korban.
Polisi menegaskan ketiga tersangka tidak terafiliasi dengan organisasi masyarakat mana pun, termasuk GRIB Jaya yang sempat dikaitkan publik karena kehadiran massa berikat kepala putih dan membawa bambu di kawasan itu. “Kami pastikan tidak ada. Itu berdasarkan hasil keterangan yang disampaikan oleh para pelaku itu sendiri,” kata Iman. Penetapan tersangka didasarkan pada 16 saksi, analisis CCTV dan video, visum, serta pencocokan sidik jari pada barang bukti di TKP. Mereka dijerat pasal terkait penganiayaan yang merenggut nyawa dengan ancaman pidana hingga belasan tahun.
Sebelumnya, polisi sempat merilis dua sketsa wajah terduga pelaku berdasarkan saksi dan rekaman. Nama GRIB Jaya dan isu keterlibatan ormas sempat ramai karena video viral yang menunjukkan kekerasan terhadap Bambang dan tetangga Faturrohman.
Komentar Netizen: Kecurigaan soal Wajah Tertutup dan Klaim Bukan Ormas
Pernyataan polisi dan penampilan tersangka dengan wajah tertutup memicu spekulasi di media sosial. Banyak netizen meragukan klaim “bukan anggota ormas” dan mempertanyakan alasan wajah ditutup.
Akun @ArusPolitik_ menulis, “Akhirnya ketemu kambing hitamnya!! Biasa wereng cokelat jadi tukang cuci untuk membersihkan nama ormas peliharaan rezim!? ‘Polisi tangkap 3 pengeroyok Bambang Setiawan hingga tewas, ternyata bukan ormas’.”
Sebelum penangkapan, @reaafterdark merespons sketsa polisi: “Dari CCTV udah jelas ya, itu juga sketsa dari foto asli. Tinggal tangkap aja apa susahnya? Langsung ke markas GRIB nanti ketemu. Nangkap kasus lendir cepet, kek ginian lama. Heran.”
Warganet lain menyinggung kontradiksi antara video yang beredar, kehadiran massa berikat kepala, dan pernyataan polisi. Ada yang menilai penutupan wajah dan pengakuan pelaku sendiri sebagai cara meredam isu keterlibatan kelompok tertentu. Video kekerasan sempat viral lalu sebagian dihapus, yang juga menambah ketidakpercayaan.
Keluarga dan warga Pejompongan sebelumnya mendorong pengusutan tuntas karena wajah pelaku sempat terekam. Polisi menyatakan penyidikan masih berlanjut, termasuk soal aktor intelektual kerusuhan 27 Agustus.
Kasus ini masih dalam proses hukum. Klaim afiliasi atau tidaknya tersangka dengan ormas menjadi bagian dari pemeriksaan yang akan diuji di pengadilan.
