Sama-sama Asal Madiun, Profil Bossman Mardigu Pendiri Mie Newmind Bersama Bima Candra Karisma -->

Sama-sama Asal Madiun, Profil Bossman Mardigu Pendiri Mie Newmind Bersama Bima Candra Karisma

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
– Dua sosok pebisnis asal Madiun, Jawa Timur, kini tengah mencuri perhatian publik lewat kolaborasi bisnis kuliner yang kian berkembang. Bima Candra Karisma, S.Kom, mendirikan jaringan kuliner Mie Newmind dengan menggandeng tokoh ternama nasional, Mardigu Wowiek Prasantyo, yang lebih akrab disapa Bossman Mardigu. Rekam jejak serta latar belakang Bossman Mardigu yang mendampingi Bima Candra dalam membesarkan jenama kuliner ini pun menarik untuk diulas secara mendalam.

Kiprah Mie Newmind sendiri dimulai sejak pertama kali didirikan pada tahun 2021. Mengusung konsep usaha kuliner mi modern, bisnis ini dikembangkan melalui kerja sama strategis bersama mitra produsen berpengalaman yang berbasis di Sidoarjo. Sejak awal kemunculannya, Mie Newmind sukses menyedot perhatian publik hingga viral di berbagai media sosial sebagai salah satu unit bisnis kuliner dan gaya hidup terdepan yang didalangi oleh figur publik kondang.

Siapa sebenarnya sosok Bossman Mardigu yang berada di balik layar ekspansi bisnis ini? Pria kelahiran Madiun pada era 1960-an tersebut dikenal luas sebagai pengusaha multitalenta, pengamat geopolitik. Popularitasnya di ruang digital juga sangat melesat tajam, terutama melalui kanal YouTube “Bossman Mardigu” yang aktif sejak 2019. Kanal yang berfokus pada pembahasan isu geopolitik dan geoekonomi tersebut kini telah mengantongi lebih dari 2 juta pelanggan (subscribers) dengan total tayangan mencapai 395 juta kali per Agustus 2025.

Latar belakang kehidupan pribadi pria yang juga dijuluki “Bossman Sontoloyo” ini terbilang cukup unik. Lahir dari keluarga tentara sebagai anak seorang perwira militer Angkatan Udara, masa kecil dan remaja Mardigu diwarnai dengan kebiasaan berpindah-pindah kota mengikuti tugas dinas sang ayah. Dari Palembang saat bangku sekolah dasar, pindah ke Balikpapan pada kelas lima SD, hingga akhirnya menyelesaikan jenjang sekolah menengah atas (SMA) di DKI Jakarta.

Nama julukan “Sontoloyo” memiliki riwayat tersendiri yang berasal dari sang kakek, seorang pemilik pesantren. Sejak kecil, Mardigu dikenal sebagai pribadi yang sangat kritis dan kerap melontarkan pertanyaan-pertanyaan unik yang sulit dijawab. Julukan tersebut melekat padanya sebagai bentuk kekhasan pola pikirnya yang berani dan kerap di luar kebiasaan umum masyarakat.

Pendidikan tingginya ditempuh di Negeri Paman Sam, tepatnya di San Francisco State University, California, Amerika Serikat, dengan mengambil fokus jurusan Psikologi Bisnis selama empat tahun. Tak berhenti di situ, ia kemudian melanjutkan studi mendalam di bidang Criminal Minds and Forensic Investigation, sebuah disiplin ilmu yang khusus mempelajari karakter para pelaku kejahatan serta teknik penyelidikan kasus kriminal secara mendalam.

Sekembalinya ke Tanah Air pada tahun 2001, Mardigu sempat mengabdikan diri dan berdinas di salah satu institusi militer tinggi serta dinas rahasia militer Indonesia. Namun, masa dinas tersebut tidak berlangsung lama dan ia dicopot dari ikatan dinas lantaran penyesuaian terkait spesialisasi keilmuan yang ditekuninya. Perjalanan kariernya kemudian beralih ke dunia profesional dan bisnis, diawali dengan menjadi seorang banker di salah satu bank ternama.

Sejak dekade 1990-an, tepatnya sekitar tahun 1996, jiwa kewirausahaan Mardigu sudah mulai terlihat mapan. Ia tercatat mengelola dan memiliki beberapa badan usaha strategis, di antaranya bisnis penukaran mata uang (money changer) hingga pengoperasian kapal angkut khusus barang tambang yang beroperasi di wilayah Kalimantan.

Di panggung gagasan publik dan ekonomi, Mardigu dikenal vokal menyuarakan pengadopsian konsep MMT (Modern Monetary Theory). Menurut pandangannya, penerpan konsep ini mampu memangkas dan mengurangi ketergantungan ekonomi negara terhadap mata uang dolar AS. Sebagai solusinya, ia secara terbuka mengusulkan penciptaan mata uang baru bernama “Dinar” yang disokong oleh underlying aset emas murni agar nilai tukarnya jauh lebih stabil dan tahan terhadap inflasi.

Bukan hanya berkecimpung di sektor ekonomi dan bisnis, sosok yang mengaku pernah menjabat sebagai pembantu staf ahli kementerian pada rentang tahun 2014 hingga 2019 ini juga dikenal luas sebagai pengamat terorisme. Dalam rekam jejak pengamatannya, ia mengklaim telah melakukan wawancara langsung secara mendalam terhadap sekitar 400 orang anggota teroris.

Di samping kesibukan mengelola lini bisnis dan aktivitas digitalnya, Bossman Mardigu juga aktif menjalankan misi sosial dan kemanusiaan. Ia memproklamirkan dirinya sebagai seorang filantropis dengan mendirikan dan mengelola program Rumah Yatim Indonesia, sebuah lembaga kepedulian sosial yang kini tercatat membina dan mengasuh sedikitnya 1.000 santri dari berbagai daerah.

Kombinasi antara kepiawaian bisnis Bima Candra Karisma dan pemikiran strategis serta popularitas Bossman Mardigu kini menjadi fondasi kokoh bagi perkembangan Mie Newmind. Sinergi dua putra daerah asal Madiun ini terbukti mampu membawa merek kuliner lokal melesat menjadi salah satu pemain bergengsi di industri kuliner dan gaya hidup tanah air. (*)

Sumber: bacasore
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google