GELORA.CO – Aktivis sosial sekaligus mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, melontarkan pernyataan menohok terkait dinamika internal di lingkaran pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto. Said Didu secara terbuka menuding adanya keberadaan faksi tertentu di dalam tubuh pemerintahan saat ini yang diduga kuat berpihak kepada kelompok yang ia sebut sebagai ‘Geng Solo’ serta jaringan oligarki.
Dalam pandangannya, faksi yang berada di lingkaran dalam kekuasaan tersebut ditengarai bekerja secara terstruktur, masif, dan sistematis demi merintangi jalannya pemerintahan. Tujuan utama dari pergerakan covert kelompok ini tidak lain adalah untuk menggagalkan sejumlah agenda strategis dan prioritas nasional yang sedang gencar didorong oleh Presiden Prabowo Subianto.
Secara lebih terperinci, Said Didu membeberkan bahwa sedikitnya terdapat tiga program utama nan krusial milik Presiden Prabowo yang kini berada dalam bidikan sasaran untuk ditumbangkan oleh kelompok faksi tersebut. Tiga agenda penting nasional itu mencakup komitmen tajam pemberantasan korupsi di seluruh lini birokrasi, langkah tegas penertiban kekuatan oligarki yang menggurita, serta gerakan pelepasan dan pengembalian aset-aset strategis milik negara.
Pernyataan blak-blakan ini disampaikan langsung oleh Said Didu saat membedah kondisi peta politik nasional. Pria yang dikenal vokal mendobrak kebijakan publik ini mengaku memiliki hipotesa kuat bahwa pergerakan internal tersebut memiliki garis kepentingan yang sangat bertolak belakang dengan visi kepemimpinan Presiden Prabowo.
“Hipotesa saya, bahwa betul-betul terjadi sekarang serangan geng Solo, oligarki parcok, dan mungkin sekarang sudah ditambah Parjo, terhadap agenda utama Presiden Prabowo,” tegas Said Didu sebagaimana dikutip dari tayangan di kanal YouTube Manusia Merdeka – MSD pada Rabu (29/7/2026).
Pria kelahiran Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, ini menegaskan bahwa faksi penyusup dalam tubuh birokrasi pemerintahan tersebut diduga memiliki keterikatan atau afiliasi langsung dengan jaringan kekuasaan era sebelumnya. Ia secara eksplisit menyebut istilah ‘Geng Solo’ yang merujuk pada jaringan pengaruh dari Presiden terdahulu, Joko Widodo.
“Ada faksi di dalam pemerintahan Prabowo yang memihak ke solo oligarki pacok. Dugaan saya itu yang terjadi,” ujar Said Didu menambahkan analisis kritisnya.
Ia pun mengulangi landasan kekhawatirannya tersebut agar menjadi perhatian luas bagi seluruh elemen masyarakat dan pendukung pemerintahan. Keberadaan jaringan faksi penyusup ini dinilai bakal terus berupaya mengonsolidasi kekuatan untuk melumpuhkan keberanian negara dalam mengeksekusi kebijakan-kebijakan yang berpihak pada rakyat.
“Ada faksi di dalam pemerintahan Prabowo yang memihak ke solo geng solo oligarki parcok untuk menggagalkan agenda tiga agenda utama Presiden Prabowo,” kata sosok yang juga pernah menjabat sebagai anggota DPR RI tersebut.
Ketiga pilar kebijakan yakni pemberantasan tindak pidana korupsi, penataan ulang dominasi kelompok oligarki, serta penyelamatan dan pengembalian aset-aset kekayaan negara dinilai Said Didu sebagai garis demarkasi utama. Jika ketiga hal ini berhasil dilumpuhkan dari dalam, maka roda pemerintahan Presiden Prabowo akan kehilangan legitimasi serta arah perubahan yang selama ini dijanjikan kepada publik.
Tak hanya berhenti pada polemik faksi politik di lingkar kekuasaan, Said Didu dalam keterangannya juga membongkar isu krusial lain yang kini tengah menjadi sorotan hangat khalayak luas. Ia menyoroti tajam berkembangnya narasi serta pemberitaan seputar fenomena hukum yang mengaitkan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah.
Menurut Said Didu, perkembangan berita yang beredar di ruang publik belakangan ini telah digiring melalui sebuah strategi pembentukan opini publik atau framing yang terencana. Upaya tersebut dinilainya sengaja dilancarkan untuk membunuh karakter serta sangat merugikan pihak-pihak tertentu yang sejatinya tidak terlibat sama sekali dalam pusaran kasus tersebut.
“Nah, coba lihat framingnya, menurut saya agak sangat sadis lah,” cetus Said Didu memberikan penilaian tajam atas disinformasi yang beredar pesat di tengah masyarakat.
Ia kemudian mencontohkan salah satu kekacauan narasi yang sempat meledak dan menyita perhatian publik. Hal itu berkaitan dengan simpang siur penyebaran informasi mengenai temuan tumpukan aset bernilai fantastis berupa emas murni dan uang tunai yang ditemukan di lokasi terkait Febrie Adriansyah.
Said Didu mengritik keras betapa cepatnya narasi bohong itu diproduksi dan disebarkan ke publik secara masif hanya dalam hitungan jam. Informasi miring tersebut secara sepihak dan gegabah langsung dikait-kaitkan dengan sosok Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin.
“Coba bayangkan, pada saat ketemu emas dan uang di tempatnya Febrie Ardiansyah, langsung dinaikkan berapa jam kemudian bahwa itu adalah emas dan uangnya Sjafrie Sjamsoeddin,” jelas Said Didu mengungkapkan keheranannya atas kelihaian pihak penyebar isu.
Kegeraman Said Didu atas merebaknya tuduhan tak berdasar kepada Menhan Sjafrie Sjamsoeddin bukan tanpa alasan. Eks pejabat BUMN ini menegaskan bahwa dirinya secara personal memiliki jalinan hubungan pertemanan yang sangat panjang dan telah mengenal sosok Sjafrie Sjamsoeddin selama puluhan tahun.
Berdasarkan pengenalan mendalam yang ia miliki terhadap rekam jejak serta integritas pribadi sang Menhan, Said Didu menyatakan secara tegas bahwa dirinya sama sekali tidak percaya terhadap framing liar dan narasi negatif yang dipaksakan beredar di media massa maupun media sosial.
“Saya lebih 30 tahun mengenal Sjafrie, saya betul-betul, saya bilang betapa negara ini rusaknya karena hanya framing seseorang,” tutur tokoh vokal ini prihatin dengan mudahnya opini publik dipermainkan oleh kepentingan politik tertentu.
Ia pun menyampaikan pembelaan pasang badan dan memberikan pernyataan penutup yang menohok kepada pihak-pihak yang dianggapnya bertanggung jawab di balik pembuatan isu jahat tersebut. Said Didu optimis bahwa kebenaran pada akhirnya akan menyingkap segala kebohongan yang sengaja dirancang untuk merusak reputasi pejabat negara.
“Saya paham dia. Gak mungkin melakukan itu. Kalian boleh berbohong. Kalian boleh berframing. Tapi saya menyatakan, saya paham dia,” tegas Said Didu mengakhiri keterangannya.
Kritik dan pengungkapan yang disampaikan oleh Said Didu ini menambah panjang daftar eskalasi politik nasional. Keterbukaan informasi mengenai adanya dugaan faksi penyusup serta permainan isu gelap ini diharapkan dapat menjadi alarm kewaspadaan bagi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam mengawal serta mengamankan jalannya seluruh agenda prioritas pembangunan bangsa. (*)
Sumber: bacasore
