GELORA.CO - Politikus PDI Perjuangan, Guntur Romli, melontarkan kritik tajam terkait dinamika politik di sekitar Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai, meskipun Prabowo memiliki sikap demokratis, namun lingkungan di sekitarnya justru dipenuhi oleh pihak-pihak yang cenderung “menjilat” kekuasaan.
Dalam pernyataannya, Guntur menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah seharusnya menjadi bagian dari demokrasi yang sehat, bukan malah dibungkam melalui jalur hukum. Hal ini ia sampaikan menanggapi laporan terhadap dua tokoh, yakni Saiful Mujani dan Islah Bahrawi, yang dilaporkan ke polisi atas pernyataan mereka di ruang publik.
“Pak Prabowo itu demokratis, tapi masalahnya di sekeliling beliau banyak orang-orang yang tidak siap dengan kritik. Mereka ini cenderung menjilat dan anti terhadap perbedaan pendapat,” ujar Guntur, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, pelaporan terhadap Saiful Mujani dan Islah Bahrawi justru menjadi sinyal buruk bagi iklim demokrasi di Indonesia. Ia menilai langkah tersebut berpotensi menciptakan ketakutan di tengah masyarakat, khususnya kalangan intelektual dan akademisi, untuk menyampaikan pandangan kritis.
Guntur menekankan bahwa kritik yang disampaikan oleh para intelektual semestinya dipandang sebagai masukan, bukan ancaman. Ia mengingatkan bahwa dalam sistem demokrasi, ruang kebebasan berpendapat harus dijaga dan dilindungi.
“Kalau kritik saja dilaporkan ke polisi, ini bisa menjadi preseden buruk. Demokrasi kita bisa mundur,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengajak semua pihak, termasuk pendukung pemerintah, untuk lebih dewasa dalam menyikapi perbedaan pandangan. Menurutnya, loyalitas kepada pemimpin tidak boleh diwujudkan dalam bentuk pembungkaman kritik, melainkan dengan mendorong perbaikan kebijakan.
Isu ini mencuat di tengah meningkatnya tensi politik nasional, di mana perdebatan antara pendukung dan pengkritik pemerintah semakin tajam. Pelaporan terhadap tokoh-tokoh publik dinilai menjadi salah satu indikator menguatnya polarisasi di ruang publik.
Guntur pun berharap Presiden Prabowo dapat memastikan bahwa pemerintahan yang dipimpinnya tetap membuka ruang dialog dan tidak anti kritik.
“Justru pemimpin besar itu adalah yang mau mendengar kritik, bukan yang dikelilingi para penjilat,” pungkasnya.
