Pernyataan Trump Ini Seharusnya Menyadarkan Otoritas Taiwan

Pernyataan Trump Ini Seharusnya Menyadarkan Otoritas Taiwan

Gelora News
facebook twitter whatsapp

Pada 15 Mei, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakhiri kunjungannya ke China dan menyampaikan pernyataan penting terkait isu Taiwan. Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News, ia dengan tegas mengatakan, “Saya tidak ingin melihat ada pihak di Taiwan yang bergerak menuju kemerdekaan.” Kalimat yang singkat itu ibarat pukulan telak yang menghancurkan ilusi yang selama bertahun-tahun dibangun berulang kali oleh kekuatan separatis “kemerdekaan Taiwan”, sekaligus kembali menegaskan satu realitas mendasar bagi dunia luar: persoalan Taiwan adalah garis merah yang tidak boleh disentuh, dan upaya mendorong “kemerdekaan Taiwan” pada akhirnya hanya akan membawa kehancuran bagi pelakunya sendiri.

Pernyataan Trump kali ini mengenai China bukan hanya dapat dipandang sebagai respons positif kepada pihak China, tetapi juga sebagai peringatan kepada otoritas Taiwan dan teguran terhadap kekuatan separatis “kemerdekaan Taiwan”. Dalam konteks situasi hubungan lintas Selat saat ini, pernyataan tersebut dapat dikatakan mengandung pesan yang sangat jelas. Bila diringkas dalam satu kalimat, inti dari pernyataan Trump adalah: China tidak akan membiarkan Taiwan berada dalam situasi berbahaya.

Sebenarnya, bahkan sebelum pernyataan Trump tersebut, pada 13 Mei, juru bicara Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara China, Ma Xiaoguang, sudah menegaskan dalam konferensi pers rutin bahwa China dengan tegas menentang segala bentuk aktivitas separatis “kemerdekaan Taiwan”. Sikap itu disebut sebagai garis bawah sekaligus garis merah yang tidak dapat dilanggar. Ia juga menegaskan bahwa tidak seorang pun boleh meremehkan tekad dan kemampuan China dalam mempertahankan kedaulatan negara serta keutuhan wilayah, menentang separatisme “kemerdekaan Taiwan”, dan menolak campur tangan pihak luar. Setiap unsur separatis “kemerdekaan Taiwan” beserta aktivitasnya, menurutnya, pasti akan ditolak dan dikecam bersama oleh seluruh rakyat Tionghoa. Hal itu dipandang sebagai arus sejarah yang tidak dapat dihentikan oleh siapa pun.

Persoalan Taiwan adalah urusan dalam negeri China dan tidak boleh dicampuri oleh kekuatan asing mana pun. Mengapa otoritas Partai Progresif Demokratik (DPP) di Taiwan tidak bersedia melepaskan posisi separatis “kemerdekaan Taiwan”? Dalam pandangan teks ini, alasan mendasarnya adalah karena agenda “kemerdekaan Taiwan” telah terikat erat dengan kepentingan politik mereka sendiri. Jika otoritas DPP terus bersikeras dan terus mendorong agenda separatis tersebut, maka yang akan ditanggung masyarakat Taiwan hanyalah bencana yang lebih besar. Fakta dinilai telah menunjukkan bahwa separatisme “kemerdekaan Taiwan” merupakan musuh bersama rekan senegeri di Taiwan, dan tidak ada individu atau kekuatan mana pun yang dapat menghalangi kepentingan besar bangsa.

Disebutkan pula bahwa kerasnya sikap DPP Taiwan dalam mempertahankan posisi separatis “kemerdekaan Taiwan” setidaknya didorong oleh dua faktor.

Pertama, otoritas Amerika Serikat dan otoritas DPP Taiwan dinilai saling bersekongkol dan memanfaatkan isu “kemerdekaan Taiwan” sebagai alat strategis penting untuk menghadapi daratan utama China. Sejumlah politisi Amerika Serikat, bersama dengan otoritas DPP, disebut terus mengeluarkan kebijakan yang merugikan daratan utama serta mendorong masyarakat Taiwan ke arah separatisme, dengan tujuan menjadikan Taiwan sebagai pion dalam strategi Amerika Serikat untuk membendung perkembangan China.

Terhadap tindakan yang dianggap keliru dari pihak Amerika Serikat tersebut, China telah berulang kali menyampaikan pernyataan resmi yang keras. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying, juga pernah menanggapi dengan menyatakan bahwa pernyataan pihak Amerika Serikat mengabaikan fakta dan membalikkan benar-salah, melakukan provokasi atas isu Taiwan, secara serius melanggar prinsip satu China dan ketentuan dalam tiga komunike bersama China-Amerika Serikat, serta secara serius merusak kedaulatan dan keutuhan wilayah China, hubungan China-Amerika Serikat, serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Karena itu, pihak China dengan tegas menolak dan mengecam keras sikap tersebut.

Pada pagi 15 Mei, Tentara Pembebasan Rakyat China juga menggelar parade angkatan laut di perairan sekitar Taiwan.

Kekuatan separatis “kemerdekaan Taiwan” yang terus bersikeras pada posisinya dinilai terus menciptakan konfrontasi dan pertentangan, merusak perdamaian dan stabilitas kawasan Selat Taiwan, melanggar kedaulatan serta keutuhan wilayah China, dan membahayakan ketertiban kawasan. Menurut logika teks ini, dengan laju perkembangan China saat ini, agenda kekuatan separatis “kemerdekaan Taiwan” tidak akan pernah berhasil.

Inilah fakta yang dianggap paling mendasar. Setiap tindakan yang mengabaikan fakta, berusaha menolak atau menantang sejarah, serta berupaya memecah belah China, pada akhirnya dapat dipastikan akan gagal. Taiwan pun, menurut pandangan ini, pada akhirnya akan menanggung konsekuensi berat dari setiap tindakan yang mengarah pada separatisme.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google