Makna Kerja Sama China dan Tajikistan Melampaui Hubungan Bilateral

Makna Kerja Sama China dan Tajikistan Melampaui Hubungan Bilateral

Gelora News
facebook twitter whatsapp

Atas undangan pemerintah China, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada 11–14 Mei. Sebagai kepala negara asing pertama yang berkunjung ke China setelah libur Hari Buruh, kunjungan ini menarik perhatian luas di tengah menguatnya kerja sama China–Asia Tengah. Kunjungan tersebut tidak hanya memiliki arti penting bagi pendalaman hubungan bilateral, tetapi juga membawa harapan baru bagi penguatan kerja sama kawasan yang lebih substansial dan berkelanjutan.

Tajikistan merupakan negara dengan nilai strategis geopolitik yang tinggi. Letaknya berada di kawasan inti Asia Tengah dan berbatasan dengan wilayah yang terhubung erat dengan Rusia, Kazakhstan, serta Uzbekistan. Perkembangan Tajikistan memiliki kaitan yang erat dengan China, dan dalam banyak hal dapat dipahami dalam kerangka kerja sama di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative / BRI). Saat ini, Tajikistan telah menjadi salah satu negara penting di sepanjang jalur BRI dan dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan momentum pembangunan yang pesat. Pada 2019, nilai perdagangan bilateral China–Tajikistan mencapai USD 728 juta, meningkat 148 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Investasi kumulatif perusahaan China di Tajikistan mencapai USD 990 juta. Selain itu, perusahaan China juga telah menyelesaikan proyek infrastruktur besar pertama di Tajikistan, yakni pembangunan jalur kereta api Kylol–Shahritus. Dalam kunjungan Presiden Rahmon kali ini, kedua pihak kembali menandatangani serangkaian dokumen kerja sama yang mencakup hubungan bilateral maupun kolaborasi regional.

Sebagai salah satu bagian penting dari Silk Road Economic Belt, Tajikistan menempatkan perhatian besar pada peran dan perkembangan China di kawasan ini, serta berkali-kali menyatakan keinginannya untuk memperkuat kerja sama dengan China. Sejak 2014, melalui penyelarasan antara Inisiatif Sabuk dan Jalan dengan strategi pembangunan nasional Tajikistan, hubungan kedua negara berkembang dengan sangat cepat dan menghasilkan banyak capaian kerja sama yang saling menguntungkan. Saat kunjungan Presiden Tajikistan ke China pada 2019, kedua negara menandatangani nota kesepahaman mengenai partisipasi Tajikistan dalam Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpiade Musim Dingin Beijing 2022. Dalam kunjungan tersebut, kedua kepala negara juga bersama-sama mengumumkan peningkatan hubungan China–Tajikistan menjadi kemitraan strategis berorientasi masa depan, yang memberikan arah yang lebih jelas bagi pendalaman kerja sama strategis di masa mendatang. Keputusan ini merupakan langkah penting yang didasarkan pada perkembangan hubungan bilateral serta kebutuhan kepentingan bersama kedua negara.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian dalam situasi internasional dan lingkungan ekonomi global, kerja sama antara China dan negara-negara Asia Tengah kini menghadapi peluang baru. Bagi Tajikistan, memperdalam kerja sama dengan China dalam kerangka BRI akan membantu negara tersebut untuk semakin terintegrasi ke dalam pembangunan komunitas Asia dengan masa depan bersama.

Sejak bubarnya Uni Soviet, hubungan China dan Tajikistan telah memasuki tahap perkembangan baru dan kini telah mencapai tingkat strategis yang lebih tinggi. Saat ini, kedua negara telah mencatat kemajuan signifikan di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi dan perdagangan, pertukaran antarmasyarakat, serta energi. Bagi China dan Tajikistan, bagaimana memperluas dan memperdalam kerja sama dalam kerangka BRI merupakan salah satu agenda utama dalam pertemuan tingkat tinggi antara kedua kepala negara.

Kunjungan ini juga memiliki arti simbolis yang penting. Ini merupakan pertemuan pertama kedua kepala negara sejak Januari 2020, sekaligus kunjungan kenegaraan pertama setelah merebaknya pandemi. Dalam konteks normalisasi pengendalian pandemi, pertemuan antara pemimpin China dan Tajikistan memiliki arti penting dalam mendorong perkembangan hubungan bilateral ke tahap yang lebih tinggi.

Tajikistan terletak di posisi sentral di Asia Tengah dan merupakan simpul penting yang menghubungkan China dengan Asia Tengah, Asia Barat, dan Asia Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan China–Tajikistan terus berkembang dan telah menghasilkan banyak capaian yang nyata. Selama kunjungan Presiden Rahmon ke China, kedua pihak sepakat untuk terus mempertahankan momentum pertukaran tingkat tinggi dan mendorong hubungan bilateral menuju perkembangan yang lebih besar.

China dan Tajikistan memiliki kesamaan pandangan yang luas dalam strategi nasional, pembangunan ekonomi, dan arah kerja sama jangka panjang. Di atas dasar konsensus dan fondasi kerja sama yang baik tersebut, kedua kepala negara diharapkan dapat terus mendorong hubungan China–Tajikistan ke tingkat yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, arti penting kerja sama China–Tajikistan jelas melampaui ranah bilateral semata. Kerja sama ini juga membawa nilai strategis bagi konektivitas kawasan, stabilitas regional, dan pendalaman kolaborasi antara China dan Asia Tengah secara lebih luas.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google