Terungkap, Jeffrey Epstein Mati-matian Coba Dekati Putin, Disebut Ribuan Kali

Terungkap, Jeffrey Epstein Mati-matian Coba Dekati Putin, Disebut Ribuan Kali

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Terungkap, Jeffrey Epstein Mati-matian Coba Dekati Putin

GELORA.CO - 
Rilis dokumen terbaru kasus terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein membuka detail baru tentang upayanya mendekati Presiden Rusia Vladimir Putin.

Arsip yang dipublikasikan Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Jumat (30/1/2026) itu menunjukkan bahwa Epstein berulang kali mencoba mengatur pertemuan dengan Putin selama bertahun-tahun.

Upaya tersebut berlangsung setelah Epstein menjalani vonis pertamanya terkait kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur. Namun, tidak jelas apakah pertemuan yang diupayakan itu pernah benar-benar terjadi.

Putin disebut ribuan kali dalam dokumen Epstein


Nama Vladimir Putin muncul sebanyak 1.055 kali dalam dokumen Epstein yang dirilis AS, bagian dari lebih dari tiga juta berkas baru yang dibuka ke publik.

Banyak penyebutan itu bersifat tidak langsung, misalnya dalam buletin media yang dikirim ke alamat e-mail Epstein.

Sejumlah e-mail menunjukkan bahwa Epstein secara aktif berusaha memanfaatkan jaringan kenalannya demi mendapat akses langsung ke pemimpin Rusia.

Upaya ini disebut berlangsung setidaknya sejak 2013 hingga 2018, setahun sebelum Epstein meninggal dunia di penjara.

Namun, sejauh ini, belum ditemukan catatan pertemuan antara Epstein dan Putin.

Putin sendiri menjabat sebagai presiden sejak 2012, setelah sebelumnya menjadi perdana menteri selama empat tahun, dan secara luas dianggap sebagai pemimpin de facto Rusia sejak 2000.

Upaya mendapat visa Rusia


Arsip yang kini berjumlah sekitar 3,5 juta catatan juga menunjukkan riwayat Epstein yang mencoba memperoleh visa Rusia setidaknya sejak 2010.

Dalam satu pesan kepada seseorang, ia menulis, “Apakah saya perlu mengurus visa (Rusia)? Saya punya kenalan yang dekat dengan Putin. Haruskah saya memintanya?”

Pada Agustus 2011, ia memberi tahu pengusaha asal Uni Emirat Arab, Ahmed bin Sulayem, bahwa “Putin mungkin datang ke Amerika”, dan menambahkan bahwa ia lebih memilih bertemu di sana karena “kemungkinan bertemu di Sochi cukup kecil.”

Libatkan mantan PM Norwegia


Selama bertahun-tahun, Epstein berulang kali membahas keinginannya bertemu Putin dengan Thorbjorn Jagland, mantan Perdana Menteri Norwegia yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Eropa dan pernah bertemu pemimpin Rusia tersebut dalam kapasitas resminya.

Dalam e-mail Mei 2013, Jagland menggambarkan minat Epstein dan menegaskan bahwa Epstein harus mempresentasikan sendiri gagasannya kepada Putin.

“Kamu harus melakukannya. Tugas saya adalah mendapatkan pertemuan dengannya,” tulis Jagland. Ia menambahkan:

“Bolehkah saya mengatakan ini [kepada Putin]: Saya tahu Anda ingin menarik investasi asing untuk mendiversifikasi ekonomi Rusia [...] Saya punya teman yang dapat membantu Anda mengambil langkah-langkah yang diperlukan (dan kemudian memperkenalkan Anda) dan bertanya apakah dia tertarik untuk bertemu dengan Anda.”

Tawarkan “informasi soal Trump”


Pada 2016, Epstein kembali bertanya kepada Jagland kapan ia akan bertemu Putin. Setahun kemudian, ia memintanya untuk “Bicara pada Putin soal mata uang digital.”

Pada 20 Juni 2018, ia kembali mengirim e-mail, “Saya akan sangat senang jika bisa bertemu Putin.”

Empat hari kemudian, Epstein mencoba menyampaikan pesan kepada diplomat tertinggi Rusia melalui Jagland.

“Menurut saya, Anda bisa menyampaikan kepada Putin bahwa Lavrov dapat memperoleh ‘informasi’ jika berbicara dengan saya,” tulis Epstein, yang dalam korespondensi lain mengaitkan percakapan semacam itu dengan pemahamannya tentang Donald Trump. Sementara itu, nama Lavrov diduga merujuk pada Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Ia menambahkan, “Vitaly Churkin dulu melakukan itu, tapi dia sudah meninggal,” merujuk pada mantan Duta Besar Rusia untuk PBB yang wafat setahun sebelumnya.

Saat Jagland mengatakan akan bertemu asisten Lavrov dan akan “menyampaikan saran”, Epstein membalas, "Churkin sangat hebat. Dia memahami Trump setelah percakapan kami. Ini tidak rumit. Dia hanya perlu terlihat mendapatkan sesuatu—sesederhana itu.”

E-mail dengan “The Duke”


Dokumen baru juga memuat pertukaran e-mail tahun 2010 antara Epstein dan alamat e-mail bernama “The Duke”.

Percakapan itu menunjukkan Epstein mengatur makan malam antara Pangeran Andrew Mountbatten-Windsor dan seorang perempuan Rusia berusia 26 tahun yang disebutnya “cantik”.

Epstein menulis, “Saya punya seorang teman yang saya pikir Anda mungkin senang makan malam dengannya.”

“The Duke” menjawab, “Tentu saja. Saya di Jenewa sampai pagi tanggal 22, tapi akan senang bertemu dengannya. Apakah dia akan membawa pesan dari Anda? Tolong beri dia detail kontak saya agar bisa menghubungi.”

Saat diminta informasi lebih lanjut tentang perempuan tersebut, Epstein membalas, “Dia berusia 26 tahun, orang Rusia, pintar, cantik, dapat dipercaya dan ya dia punya e-mail Anda.”
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita