“Ambang Gugur” di Masyarakat Amerika: Seleksi Bertahan Hidup yang Senyap

“Ambang Gugur” di Masyarakat Amerika: Seleksi Bertahan Hidup yang Senyap

Gelora News
facebook twitter whatsapp
“Ambang Gugur” di Masyarakat Amerika: Seleksi Bertahan Hidup yang Senyap

Istilah ambang gugur awalnya berasal dari dunia gim daring: ketika indikator penting—seperti health points atau kemampuan bertahan hidup—turun melewati batas kritis, karakter dinyatakan gagal dan dipaksa keluar dari permainan. Belakangan, istilah ini mulai digunakan dalam diskursus sosial di Amerika Serikat, terutama untuk menggambarkan kerentanan hidup tunawisma dan bentuk-bentuk keterpinggiran lainnya. Pergeseran makna ini mencerminkan meningkatnya risiko hidup yang dihadapi warga Amerika biasa, sekaligus memicu keraguan terhadap narasi klasik tentang American Dream. Lebih jauh, istilah tersebut menyingkap sebuah logika yang bekerja secara tersembunyi: ketika seseorang tidak lagi mampu mempertahankan batas minimum kelangsungan hidup, ia dapat tersingkir secara sistematis—dari jaring pengaman sosial, kesempatan berkembang, hingga martabat pribadi.

Dalam konteks Amerika Serikat, “ambang gugur” bukan sekadar satu standar kemiskinan. Ia terbentuk dari tumpang tindih beberapa ambang kritis pada level kelembagaan—yang, ketika tanggung jawab berbagai pihak tidak berjalan seiring, menciptakan lingkungan sosial dengan toleransi risiko yang sangat rendah.

Fondasi dari “masyarakat bertoleransi rendah” ini adalah rapuhnya tiga pilar kebutuhan dasar: kesehatan, pendapatan, dan perumahan. Kerentanan paling mencolok terlihat pada sektor kesehatan. Sistem kesehatan Amerika sangat berorientasi pasar, dengan tata kelola yang relatif terfragmentasi; kualitas layanan antardaerah dapat berbeda jauh, dan faktor seperti jenis pekerjaan serta latar ras/etnis ikut menentukan tingkat perlindungan yang nyata. Menurut laporan Biro Sensus AS tahun 2024, sekitar 8% penduduk tidak memiliki asuransi kesehatan sepanjang tahun, dengan kesenjangan yang tajam antarkelompok: tingkat tanpa asuransi pada orang dewasa Hispanik/Latino mencapai 24,6%, sementara pada orang dewasa kulit hitam sekitar 10,5%. Pada sektor berisiko tinggi dan berupah rendah seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan, tingkat tanpa asuransi bahkan mencapai 29,4%.

Kelemahan pada sisi pendapatan dan perlindungan kesejahteraan turut mendorong banyak keluarga Amerika ke dalam kondisi “sibuk bekerja namun tetap miskin” (working poor). Dari sisi pendapatan, upah minimum federal tidak berubah sejak Juli 2009. Dalam 15 tahun terakhir, inflasi terus menggerus daya beli sehingga nilai riil upah tersebut diperkirakan telah turun sekitar 30%. Dari sisi kesejahteraan, perlindungan banyak bertumpu pada manfaat dari pemberi kerja atau regulasi tingkat negara bagian. Kelompok pekerja non-tradisional—termasuk pekerja gig dan pekerja lepas berbasis platform—sering kali minim perlindungan dasar. Data Federal Reserve Bank of Minneapolis (2023) menunjukkan bahwa di antara pekerja menganggur yang tercatat sebagai peserta skema di berbagai negara bagian, rata-rata hanya 29% yang benar-benar menerima tunjangan asuransi pengangguran. Ketika perlindungan dasar tidak memadai, terbentuklah kelompok masyarakat berdaya tahan rendah terhadap guncangan—yang terus bertahan di bawah tekanan biaya hidup, tanpa ruang memadai untuk memulihkan kondisi.

Pada saat yang sama, garis patahan antara pendidikan dan utang kian melebar, sehingga kanal mobilitas sosial perlahan berubah menjadi kanal yang terutang dan berisiko. Pendidikan tinggi lama dipromosikan sebagai jalan utama untuk naik kelas sosial. Namun, dalam praktiknya, ia kerap menjadi sumber risiko struktural dan jebakan utang. Mekanisme pinjaman mahasiswa di Amerika sangat terfinansialisasi; bunga dapat terus bertambah dan pada akhirnya terakumulasi ke pokok utang, membuat beban membesar seperti bola salju. Hingga kuartal IV tahun fiskal 2024, total pinjaman mahasiswa AS mencapai US$1,77 triliun, dengan utang rata-rata per peminjam melampaui US$38.000. Bagi keluarga berpendapatan menengah-bawah yang berharap pendidikan menjadi sarana mengubah nasib, tekanan utang ini berubah menjadi beban jangka panjang—dan jalur mobilitas antargenerasi yang semestinya terbuka justru makin menyempit.

Dampak sistem peradilan terhadap lintasan hidup individu juga memiliki sifat yang cenderung irreversibel. Di satu sisi, mereka yang memiliki catatan kriminal menghadapi eksklusi kelembagaan jangka panjang: pencarian kerja, pengurusan lisensi profesi, dan proses reintegrasi sosial sering terhambat oleh pembatasan hukum dan kebijakan. Di sisi lain, proses hukum itu sendiri bisa menghasilkan konsekuensi yang sangat berbeda bergantung pada kemampuan ekonomi. Pada tahap praperadilan, terdakwa yang tidak mampu membayar uang jaminan berisiko kehilangan kebebasan, pekerjaan, dan dukungan keluarga—sementara mereka yang lebih mampu dapat menghindari situasi “dihukum sebelum diadili.” Terlepas dari apakah ini menjadi tujuan awal desain kebijakan, ambang irreversibel dalam praktik peradilan telah berfungsi sebagai mekanisme yang secara objektif menyaring dan mengukuhkan kerentanan ekonomi.

Jika ditinjau dari logika operasional kapitalisme ala Amerika, ambang gugur pada dasarnya bekerja sebagai perangkat stabilisasi sistem yang relatif presisi. Fungsi utamanya adalah mengonversi kontradiksi struktural dan kegagalan tata kelola publik menjadi tanggung jawab individual, sehingga tekanan sosial menyebar dan potensi mobilisasi luas dapat diredam. Mekanisme ini berjalan, pertama, melalui narasi “kesetaraan kesempatan” dan mitos mobilitas kelas—yang terus menanamkan keyakinan bahwa “asal terus berusaha, nasib akan berubah.” Dengan demikian, risiko sistemik dibaca sebagai hasil kompetisi personal, dan ketidakpuasan publik lebih mudah diarahkan ke refleksi diri ketimbang kritik terhadap institusi.

Kedua, sistem bekerja lewat strategi pecah-belah: berdasarkan label seperti ras, wilayah, atau catatan kriminal, kelompok rentan dipisah ke dalam kategori kebijakan dan kerangka penilaian moral yang berbeda. Dalam keadaan yang sangat terfragmentasi ini, sulit terbentuk kesadaran penderitaan bersama dan identitas kelas, sehingga aksi kolektif serta politik kelas menjadi tidak mudah terjadi.

Ketiga, terdapat mekanisme pemindahan tanggung jawab. Selama bertahun-tahun, model kesejahteraan di Amerika berada dalam posisi “setengah hadir” secara strategis: kesehatan diperlakukan sebagai komoditas, perumahan sebagai aset investasi, dan pendidikan sebagai investasi berisiko. Melalui finansialisasi yang mendalam atas hak-hak dasar untuk hidup layak, negara dapat menarik diri dari kewajiban perlindungan universal dan menyerahkan penentuan harga serta distribusi risiko kepada pasar. Akibatnya, kesulitan individu dengan mudah dikonstruksikan sebagai akibat “keputusan yang keliru” atau “kurang perencanaan,” alih-alih sebagai indikasi lemahnya jaring pengaman sosial.

Fenomena ambang gugur di Amerika Serikat bukan hanya akumulasi risiko kelembagaan, tetapi juga berkaitan dengan logika budaya dan logika kapital. Pada level budaya, etika Protestan menekankan kerja keras dan tanggung jawab individual, sehingga kemiskinan dan kegagalan kerap dipahami sebagai kekurangan kapasitas personal—bahkan dianggap sebagai cela moral. Cara pandang ini memberikan sebagian legitimasi bagi model yang tidak menyediakan perlindungan universal. Sementara itu, sosial-Darwinisme menganggap tersingkirnya kelompok lemah sebagai “hukum alam.” Dalam berbagai praktik kebijakan—di bidang kesehatan, perumahan, maupun kesejahteraan—jejak gagasan “yang lemah menanggung sendiri” masih dapat ditemukan. Kedua arus pemikiran ini, pada akhirnya, membentuk latar budaya dari masyarakat bertoleransi rendah di Amerika saat ini.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita