BPN Prabowo-Sandi Bela Maruf Amin soal Disebut Jadi Penyebab Elektabilitas 01 Stagnan
logo

13 Desember 2018

BPN Prabowo-Sandi Bela Maruf Amin soal Disebut Jadi Penyebab Elektabilitas 01 Stagnan

BPN Prabowo-Sandi Bela Maruf Amin soal Disebut Jadi Penyebab Elektabilitas 01 Stagnan

GELORA.CO - PASANGAN Capres-Cawapres Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi terus berusaha meningkatkan elektabilitas menjelang Pilpres 2019. 

Hasil pemantauan terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyatakan tingkat keterpilihan pasangan nomor urut 01, Jokowi-Maruf tidak mengalami peningkatan.

Namun Ketua Tim Kampanye Jokowi-Maruf, ErickThohir, tidak merasa khawatir dengan data tersebut. 

Erick thohir meyakini elektabilitas capres dan cawapres petahana bakal terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Menurut Erick Thohir, kenaikan elektabilitas Jokowi juga dipengaruhi gerakan dari pendampingnya, sang cawapres Ma'ruf Amin.

Erick Thohir melihat Ma'ruf Amin sampai saat ini masih belum bergerak untuk berkunjung ke daerah-daerah.

"Ini nanti akan bergerak. Kan beliau jadi cawapres juga baru masuk kan," ujar Erick Thohir di Jakarta, Sabtu (8/12/2018).

Erick Thohir bahkan sudah membuat perbandingan Maruf Amin yang belum melakukan safari menyapa masyarakat ke daerah-daerah saja elektabilitas Jokowi menunjukkan angka 53 persen.

‎Apalagi sudah masif berkunjung ke daerah-daerah. "Jadi beliau belum bergerak saja nilainya 53 persen. Apalagi beliau bergerak," kata Erick Thohir.

Sementara itu Peneliti LSI Rully Akbar menilai hal itu terjadi karena tidak adanya adu gagasan antara tim kampanye masing-masing pasangan calon.

Hingga saat ini tim kampanye pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, masih berkutat pada isu-isu sensasional dan tidak substantif.  

Berdasar hasil survei November 2018, elektabilitas pasangan Jokowi-Ma'ruf berada pada angka 53,2 persen dan Prabowo-Sandiaga sebesar 31,2 persen.

Sementara itu responden yang masih belum menentukan pilihan sebesar 15,6 persen.

Elektabilitas kedua pasangan, kata Rully, tidak banyak bergerak jika dibandingkan sebelum masa kampanye.

Pada Agustus 2018, LSI mencatat elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 52,2 persen dan Prabowo-Sandiaga 29,5 persen.

Sedangkan responden yang belum menentukan pilihan sebanyak 18,3 persen. ‎Adapun pengumpulan data survei LSI dilakukan pada 10-19 November 2018.

Metode yang digunakan adalah multistage random sampling. Jumlah responden yang disurvei sebanyak 1.200 responden.

Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. LSI menyatakan margin of error survei tersebut berada di angka 2,9 persen.

Selain survei, LSI Denny JA juga melakukan riset kualitatif dengan metode FGD, analisis media dan indepth interview. LSI mengklaim dana survei berasal dari pembiayaan mandiri.

Dibela Jubir Prabowo-Sandi

Sementara itu Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade, membela calon wakil presiden kubu seberang Ma’ruf Amin soal tudingan jadi penyebab  masih stagnannya elektabilitas Joko Widodo di Pilpres 2019.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Ketua Timses Jokowi-Ma’ruf Amin Erick Thohir mengatakan elektabilitas paslonnya masih jalan di tempat karena Ma’ruf Amin belum turun kampanye.

Andre mengatakan Luhut harusnya menghormati Ma’ruf Amin yang juga berperan sebagai ulama.

“Beliau juga ulama jadi harus membagi waktu dengan umatnya jadi jangan sembarang menyalahkan demi elektabilitas,” ujar Andre di Jakarta, Rabu (12/12/2018).

“Pak Luhut dan Pak Erick harus mengerti kultur ulama, toh Pak Ma’ruf pasti paham tugasnya sebagai cawapres,” imbuhnya.

Andre juga mengungkapkan seharusnya Ma’ruf Amin tak perlu sampai turun berkampanye karena usia yang sudah uzur.

“Apalagi Pak Ma’ruf baru saja mengalami sakit di kaki, harusnya mereka memahami itu, jangan malah disuruh kampanye,” pungkasnya. [trb]
Loading...
loading...