GELORA.CO - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 135 orang meninggal dunia akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari jumlah tersebut, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa, sedangkan 87 lainnya meninggal karena dampak tidak langsung.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan data tersebut berdasarkan data pembaruan hingga Selasa (8/9/2026).
"Kami sampaikan kaitan gempa bumi 7,7 magnitudo, kami memperoleh data per hari ini jumlah yang meninggal akibat gempa bumi tersebut sebanyak 48 orang, ini warga terdampak langsung gempa bumi, namun ada 87 orang meninggal akibat dampak tidak langsung dari gempa bumi," ujar Berton kepada wartawan, Selasa (8/9/2026).
BNPB menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Selain penanganan korban, BNPB juga telah menyalurkan bantuan sebanyak 2.165 ton ke NTT untuk masyarakat yang terdampak bencana.
Berton mengatakan dampak gempa juga menyebabkan sekitar 98.860 rumah mengalami kerusakan dengan kategori rusak berat, rusak sedang, hingga rusak ringan.
Selain rumah, kerusakan juga tercatat pada berbagai fasilitas publik. BNPB mencatat sebanyak 712 bangunan fasilitas pendidikan, 157 fasilitas kesehatan, dan 663 bangunan perkantoran mengalami kerusakan.
BNPB hingga kini masih melakukan validasi dan verifikasi data kerusakan rumah yang dilaporkan dari daerah terdampak.
"Kami sampaikan juga tim dari BNPB sudah melakukan validasi dan verifikasi rumah rusak yang saat ini dilaporkan pada kami. Dari angka yang kami sebutkan tadi, kami sudah memperoleh total hasil verifikasi itu sebanyak 51.591 rumah telah diverifikasi," tuturnya.
Dari 51.591 rumah yang telah diverifikasi, sebanyak 2.382 unit masuk kategori rusak berat, 7.276 unit rusak sedang, dan 14.177 unit rusak ringan.
Sementara itu, sebanyak 27.756 unit rumah tidak masuk dalam kategori rusak berat, rusak sedang, maupun rusak ringan.
"Tidak masuk kriteria artinya tidak termasuk dilaporkan pada kami sebelumnya rusak, apakah rusak ringan atau rusak berat atau rusak sedang. Dalam hal ini tidak masuk kriteria tersebut artinya rumah tersebut baik-baik saja," katanya.
Berton menegaskan proses verifikasi masih terus dilakukan hingga diperoleh angka pasti. Data tersebut nantinya akan disesuaikan dengan keputusan pemerintah daerah berdasarkan by name by address.
"Tentu verifikasi ini masih tetap berlanjut hingga pada akhirnya nanti kami akan memperoleh angka pasti setelah dari pemimpin daerah memberikan keputusan by name by address pada BNPB untuk kami lakukan tindakan semestinya," ujarnya.
Di sisi lain, BNPB juga memindahkan Pos Pendukung Logistik Nasional yang sebelumnya berada di Halim. Mulai 7 September 2026, pos tersebut dipindahkan ke Gedung Gudang Logistik dan Peralatan BNPB di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.
Sumber: inews
