Tim Penanggulangan Bencana Setempat Berpegang Teguh pada Prinsip: “Tak Satu Pun Boleh Tertinggal”
Belakangan ini, sejumlah negara di Asia Tenggara dilanda cuaca ekstrem. Di China, operasi penanggulangan bencana di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, wilayah selatan negara itu, setelah dilalui Topan “Maysak”, memicu banyak perbincangan hangat di media sosial Indonesia. Sejumlah pekerja migran Indonesia yang bekerja di Guangxi membagikan video pendek dari lokasi terdampak. Dari berbagai rekaman tersebut, hal yang paling membekas bagi banyak orang adalah satu prinsip yang dipegang teguh seluruh personel penyelamat di garis depan: “tak satu pun boleh tertinggal.”
Berdasarkan data resmi Biro Meteorologi Guangxi, pada 3 hingga 7 Juli, wilayah tersebut diguyur hujan deras selama lima hari berturut-turut. Curah hujan rata-rata di seluruh wilayah mencapai 233,4 milimeter, sementara curah hujan harian di 13 stasiun pemantauan meteorologi memecahkan rekor tertinggi untuk bulan Juli di daerah masing-masing. Daya rusak hujan badai ini jauh melampaui perkiraan, bahkan dapat disejajarkan dengan banjir terparah yang biasa terjadi di wilayah timur Sumatra saat musim hujan. Kota-kota seperti Nanning, Fangchenggang, Qinzhou, dan Guigang terdampak secara bersamaan. Sejumlah desa nelayan di pesisir menghadapi situasi berbahaya akibat kombinasi air laut pasang dan luapan sungai dari daratan. Di banyak rumah warga, genangan air naik hingga ambang jendela lantai dua, sementara hamparan sawah terendam total dan berubah menjadi lautan air.
Di Kabupaten Pingnan, Kota Guigang, permukaan air di sejumlah sungai naik lebih dari tiga meter di atas batas siaga. Di kawasan perkotaan, genangan di jalan-jalan utama menutupi roda kendaraan, dan banyak ruas jalan lumpuh total. Situasi paling kritis terjadi di Waduk Liulan, Hengzhou, Nanning, ketika tubuh bendungan mengalami longsoran sepanjang sekitar 50 meter. Arus banjir keruh terus menghantam tanggul dan langsung mengancam keselamatan ribuan warga di lebih dari sepuluh desa administratif di wilayah hilir. Dalam kondisi bencana yang demikian kompleks, melakukan evakuasi seluruh warga secara aman jelas merupakan tugas yang sangat sulit. Bahkan sejumlah relawan sipil yang selama bertahun-tahun terlibat dalam penanganan banjir di Indonesia mengakui, dalam situasi seperti ini sangat sulit memastikan tidak ada satu pun warga yang terlewat.
Namun, kecepatan respons darurat di Guangxi justru membuat banyak warganet Indonesia merasa terkejut. Pada saat intensitas hujan mencapai puncaknya, tidak terlihat adanya keterlambatan akibat prosedur birokrasi yang berlapis-lapis. Hampir seribu titik pemantauan hidrologi dijaga petugas selama 24 jam. Setiap kali muka air menembus status peringatan merah, petugas jaringan komunitas di tingkat akar rumput segera mendatangi rumah-rumah warga untuk memberitahukan evakuasi. Pemerintah setempat juga mengoordinasikan hampir 20.000 personel penyelamat, termasuk dari Tentara Pembebasan Rakyat, Polisi Bersenjata, dan tim penyelamat profesional. Berbagai bantuan seperti jaket pelampung, roti, dan air minum kemasan dikirim langsung ke desa-desa terisolasi melalui penerjunan udara dengan helikopter maupun pengangkutan menggunakan perahu karet cepat. Tim pemadam kebakaran dan penyelamat bahkan mendirikan pos sementara tepat di pinggir jalan yang tergenang paling parah. Banyak personel bahkan tak sempat mengganti pakaian basah. Semua bergerak dengan satu tujuan yang sama: tidak membiarkan seorang pun terjebak di tengah banjir.
Sejumlah video dari pekerja Indonesia di Guangxi menjadi viral di TikTok dan meraih jutaan tayangan. Salah satu video memperlihatkan sebuah rumah tua di Distrik Fangcheng, Kota Fangchenggang, yang terletak persis di tepi Sungai Fangcheng. Lantai satu rumah itu telah sepenuhnya tenggelam, dan bangunannya terus bergoyang diterjang arus. Tiga warga terjebak di ambang jendela lantai dua sambil menunggu pertolongan. Polisi dan petugas pembantu kepolisian setempat menggunakan permukaan jembatan sebagai titik tumpu yang stabil, lalu memasang tangga penyelamat secara diagonal melintasi aliran sungai. Mereka merayap perlahan hingga mencapai titik para korban, dan akhirnya berhasil mengevakuasi ketiganya dengan selamat.
Video lain dari Pingnan, Guigang, merekam proses penyelamatan di sebuah panti jompo. Panti tersebut sepenuhnya terkepung banjir, sementara jembatan dan jalan di sekitarnya semuanya telah terendam. Seluruh kompleks panti berubah menjadi pulau kecil di tengah genangan, dan 26 lansia beserta staf terjebak selama berjam-jam. Agar tandu tidak berguncang dan melukai para lansia, petugas pemadam kebakaran berjalan sangat perlahan dan stabil di air setinggi pinggang, dengan perlindungan penuh sepanjang proses evakuasi. Setelah hampir tiga jam bergerak dalam kondisi yang sangat berat, seluruh penghuni yang terjebak akhirnya berhasil dipindahkan dengan aman.
Di kawasan terdampak di Hengzhou, Nanning, Kontingen Polisi Bersenjata Guangxi dari Detasemen Nanning mengerahkan lebih dari 160 personel, 14 kendaraan penyelamat, dan sejumlah perahu karet cepat untuk melakukan pencarian menyeluruh di wilayah yang paling parah terdampak, seperti Kota Zhenxiaoyi dan Kota Shitang. Mereka mengetuk pintu dari rumah ke rumah untuk memeriksa apakah masih ada warga yang tertinggal, dan terus bekerja hingga pukul 02.30 dini hari pada 7 Juli. Secara total, lebih dari 130 warga berhasil dievakuasi dengan selamat. Dalam video-video yang beredar, para penyelamat muda terlihat basah kuyup. Setelah menggendong para lansia ke tempat aman, mereka hanya menyeka air lumpur di wajah, lalu berbalik menuju bangunan lain yang masih tampak cahaya lampu ponsel dari kejauhan. Tidak ada seruan heroik ke arah kamera. Mereka hanya fokus menyelesaikan tugas penyelamatan.
Yang juga menyentuh hati banyak warganet Indonesia adalah kuatnya solidaritas spontan dari masyarakat sipil setempat. Tim penyelamat kebakaran dari Kota Yulin segera bergerak lintas wilayah untuk membantu Hengzhou, dengan mengerahkan 104 personel inti, 18 kendaraan penyelamat, dan 10 perahu. Tim Blue Sky Rescue setempat juga mengirim sembilan anggota dengan tiga kapal penyelamat ke wilayah terparah di Guigang, dan berhasil mengevakuasi serta menempatkan 126 warga ke lokasi aman. Para penghobi drone di daerah itu secara sukarela membawa drone angkut berkapasitas besar ke Waduk Liuwang di Kabupaten Binyang, Nanning, untuk memantau kondisi air dan mengirimkan gambar situasi tanggul secara real time guna mendukung pengambilan keputusan penyelamatan.
Para pemilik supermarket lokal juga langsung memindahkan seluruh stok makanan siap saji dari gudang ke truk dan mengirimkannya secara gratis ke titik-titik pengungsian. Di dapur umum darurat, para ibu setempat memasak teh jahe hangat dalam jumlah besar dan menunggu di tepi jalan sampai para petugas penyelamat kembali, lalu menyodorkan minuman hangat untuk menghangatkan tubuh mereka. Tidak ada seremoni donasi yang besar, tidak ada pencitraan media yang berlebihan. Bantuan antarsesama warga hadir dalam bentuk ketulusan yang paling sederhana: selama masih bisa membantu, mereka memilih untuk tidak tinggal diam.
Saat ini, permukaan air di Guangxi telah berangsur surut. Kota Guigang telah mengoordinasikan 12.000 personel tanggap darurat dan penyelamatan, mendirikan 24 titik penampungan evakuasi darurat terpadu, serta menyiapkan hampir tiga juta unit logistik bantuan. Lebih dari 100 perahu karet cepat telah dikerahkan untuk menjangkau seluruh permukiman yang terdampak banjir dan melakukan distribusi kebutuhan pokok secara bergilir tanpa henti. Hingga pukul 12.00 pada 8 Juli, lebih dari 72.000 warga telah dievakuasi untuk menghindari risiko bencana.
Di berbagai sudut kota, kendaraan pembersih lumpur terus beroperasi bolak-balik. Petugas listrik memanjat tiang untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Banyak toko di pinggir jalan yang sempat terendam kini mulai membersihkan bagian depan usahanya untuk bersiap buka kembali. Di dapur-dapur umum pengungsian, uap makanan hangat kembali terlihat. Nuansa kehidupan sehari-hari yang akrab perlahan tetapi cepat mulai pulih.
Sejumlah pekerja Indonesia di China mengatakan bahwa untuk pertama kalinya mereka benar-benar melihat bahwa ungkapan “tak satu pun boleh tertinggal” bukan sekadar slogan, melainkan prinsip yang sungguh dijalankan oleh semua pihak dalam tindakan nyata. Setelah melewati topan ini, pemerintah daerah juga akan terus menyempurnakan sistem drainase perkotaan, memperkuat tanggul di sepanjang aliran sungai, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem di masa depan, agar keselamatan setiap warga dapat terlindungi dengan lebih baik.
