GELORA.CO – Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki fase berbahaya. Washington kini menerapkan strategi baru dengan menargetkan kapal tanker milik pemerintah Iran dalam kebijakan yang disebut “tanker for tanker”.
Langkah tersebut menjadi babak baru setelah perang AS-Iran sempat mereda selama sekitar sebulan. Eskalasi kembali pecah setelah militer AS menyerang Pulau Larak, dekat Selat Hormuz, pada Senin (31/8/2026).
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania. Serangkaian serangan itu membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat.
Dalam perkembangan terbaru, militer AS menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran pada Selasa (1/9/2026) waktu setempat. Kedua kapal tersebut disebut sedang berada di lepas pantai Iran.
Serangan terhadap tanker itu disebut sebagai bagian dari kebijakan baru yang telah disetujui Presiden AS Donald Trump. Strategi tersebut diarahkan untuk memberikan respons langsung terhadap serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Laporan Axios yang dikutip Anadolu Agency menyebut serangan terhadap kapal tanker Iran menjadi tindakan yang berbeda dari operasi AS sebelumnya. Washington kali ini tidak menjadikan pelanggaran blokade angkatan laut sebagai alasan utama penargetan.
Seorang pejabat AS mengatakan kebijakan “tanker for tanker” dirancang untuk mencegah Iran menyerang kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif dalam konflik kedua negara. Jalur laut strategis tersebut merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.
Sebagian besar jalur tersebut telah mengalami blokade sejak perang kembali berkecamuk pada akhir Februari. Perebutan kendali atas Selat Hormuz pun berpotensi memperluas dampak konflik dari ranah militer ke sektor energi dan perdagangan global.
Dengan strategi baru tersebut, Washington menunjukkan bahwa respons terhadap serangan Iran tidak lagi terbatas pada sasaran militer. Kapal tanker pemerintah Iran kini turut menjadi sasaran, membuka risiko eskalasi baru di jalur energi paling strategis di dunia
Sumber: monitorIndonesia
