Rocky Gerung: Satu-satunya yang Membuat Jokowi Aman adalah Gibran Jadi Presiden -->

Rocky Gerung: Satu-satunya yang Membuat Jokowi Aman adalah Gibran Jadi Presiden

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Rocky Gerung: Satu-satunya yang Membuat Jokowi Aman adalah Gibran Jadi Presiden

GELORA.CO -
Hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) terus menjadi sorotan, terutama setelah posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden ikut dikaitkan dengan dinamika politik kedua tokoh tersebut.

Di tengah berbagai spekulasi soal arah politik menuju Pemilu 2029, pengamat politik Rocky Gerung melihat ada kepentingan jangka panjang yang ikut bermain di balik hubungan Prabowo, Jokowi, dan Gibran.

Rocky bahkan menyoroti aktivitas politik Jokowi yang masih cukup intens setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Menurutnya, safari politik dan blusukan Jokowi ke sejumlah daerah bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan bagian dari upaya menjaga panggung politik bagi Gibran sekaligus mempertahankan pengaruh keluarga Solo.

Dalam diskusi yang tayang di kanal YouTube Total Politik, Rocky menguliti sejumlah gestur politik yang berkembang antara kubu Solo dan Hambalang. Ia melihat manuver tersebut tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi politik menuju 2029, termasuk bagaimana posisi Gibran ke depan dapat memengaruhi keamanan politik Jokowi.

"Bagi Pak Jokowi, satu-satunya yang bisa membuat dia aman adalah kalau Gibran jadi presiden. Tagihan politik Jokowi masih akan berlangsung pada Prabowo," kata Rocky.

Rocky menilai, bagi seorang presiden yang telah menyelesaikan masa jabatannya, keberadaan penerus yang masih berada dalam lingkaran keluarga atau loyalis menjadi salah satu bentuk perlindungan politik. Karena itu, menurutnya, keberlanjutan karier politik Gibran memiliki arti penting bagi Jokowi.

Situasi tersebut kemudian memunculkan persepsi mengenai tarik-menarik pengaruh antara kubu Solo dan Hambalang. Apalagi, dinamika hubungan Prabowo dan Gibran belakangan turut dibaca publik melalui berbagai gestur yang terlihat dalam acara kenegaraan.

Salah satu yang menjadi bahan spekulasi adalah tata letak tempat duduk atau sitting arrangement dalam sejumlah agenda resmi. Perubahan posisi tersebut bahkan dianggap sebagian pihak sebagai tanda adanya persoalan antara Prabowo dan Gibran.

Rocky melihat persoalan itu bukan semata-mata soal posisi duduk. Ia menilai gestur semacam itu dapat dibaca sebagai sinyal psikologis sekaligus berkaitan dengan performa politik masing-masing pihak.

Kendati protokol kenegaraan memang memiliki aturan tersendiri, perhatian publik terhadap detail tersebut menunjukkan bahwa hubungan keduanya kini berada dalam sorotan.

Di sisi lain, Rocky menilai Prabowo tentu memiliki pertimbangan sendiri dalam menghadapi situasi tersebut. Presiden harus memperhitungkan bukan hanya hubungan personal maupun politik, tetapi juga dampaknya terhadap citra pemerintahan dan elektabilitas menjelang pertarungan politik berikutnya.

"Masing-masing pihak punya kalkulasi politik. Prabowo tentu menghitung sejauh mana dampak elektoral dan persepsi publik jika terus dikaitkan dengan beban politik masa lalu," ujar Rocky.

Dengan kondisi tersebut, hubungan Prabowo, Jokowi, dan Gibran dinilai tidak bisa dilihat sebatas hubungan antara presiden, wakil presiden, dan mantan presiden. Di baliknya terdapat kepentingan politik menuju 2029 yang berpotensi membuat setiap langkah maupun gestur ketiganya terus menjadi bahan pembacaan publik.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan