GELORA.CO - Langkah Presiden Prabowo Subianto yang mendadak merombak kursi panas Menteri Keuangan mengejutkan publik.
Bak petir di siang bolong, Purbaya Yudhi Sadewa resmi dicopot dan posisinya digantikan oleh Suahasil Nazara.
Dinamika politik tingkat tinggi ini memantik sorotan tajam, terutama soal misteri di balik layar Istana yang melatarbelakangi keputusan kilat tersebut.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti, memberikan analisis menohok yang membongkar kepingan teka-teki pencopotan ini.
Menurut Ray, pergantian yang bagai "tak ada angin dan tak ada hujan" ini sangat kental dengan nuansa kekesalan sang Presiden.
"Ini reshuffle karena jengkel," ungkap Ray secara blak-blakan dalam tayangan Kompas TV, Senin (14/9/2026).
Pangkal masalahnya, menurut informasi yang diterima Ray, diduga kuat bermula dari ketegangan antara Menkeu Purbaya dengan Danantara—lembaga yang menjadi salah satu program super-prioritas Prabowo.
Ray membeberkan adanya desakan tagihan sekitar Rp128 triliun kepada Danantara.
Sikap mengutak-atik instrumen vital ini diyakini membuat Presiden geram.
"Jangan coba-coba pembantu presiden itu mengutak-atik program unggulan," tegas Ray memperingatkan.
Lebih jauh, pengamat politik ini menyoroti fenomena unik "ciuman maut" dalam gaya kepemimpinan Prabowo.
Ray membeberkan adanya pola di mana menteri yang sempat dipuji-puji di hadapan publik justru sebenarnya berada di ambang bahaya pencopotan.
Namun, narasi emosional ini langsung ditepis keras oleh kubu Istana.
Juru Bicara Partai Gerindra, Kamrussamad, meluruskan bahwa pergantian tersebut murni hak prerogatif Presiden dan sama sekali bukan karena alasan jengkel.
Ia menyoroti adanya pekerjaan rumah besar terkait birokrasi di tubuh Kementerian Keuangan yang macet.
Kamrussamad mengungkapkan adanya miskomunikasi internal kronis, di mana kebijakan di tingkat eselon sering kali tidak sinkron dengan pernyataan publik, bahkan ada pergantian pejabat yang tidak diketahui secara merata di internal.
Bagi Gerindra, sosok Suahasil Nazara adalah figur pamungkas yang tepat memegang kemudi.
Jam terbang Suahasil dianggap mampu merangkul pasar (market friendly), serta menjalin chemistry yang kuat antar-lembaga dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Terlepas dari silang pendapat ini, publik kini menanti kiprah Suahasil Nazara dalam menyelamatkan APBN 2027.
Satu pesan tersurat yang jelas dari drama kabinet ini: di era pemerintahan Prabowo, loyalitas mutlak pada visi besar sang Presiden adalah harga mati yang tak bisa ditawar.
Sumber: Wartakota
