Jenderal Gatot Sindir Tentara yang Tak Pernah Ikut Perang: 'Bisanya Hanya Perang Mulut' -->

Jenderal Gatot Sindir Tentara yang Tak Pernah Ikut Perang: 'Bisanya Hanya Perang Mulut'

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Jenderal Gatot Sindir Tentara yang Tak Pernah Ikut Perang: 'Bisanya Hanya Perang Mulut'

GELORA.CO -
Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menilai kepemimpinan di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus diisi oleh prajurit yang memiliki kemampuan, pengalaman, keberanian, dan profesionalisme.

Menurutnya, kualitas kepemimpinan menjadi faktor penting untuk menjaga TNI sebagai salah satu pilar utama pertahanan dan kedaulatan negara.

"Tiang utama untuk menjaga kedaulatan adalah TNI. Ketika TNI dipimpin orang-orang yang tidak pernah berperang atau takut perang, bisanya hanya berperang mulut, ya selesai sudah," kata Gatot dalam sebuah seminar.

Gatot menekankan bahwa orientasi utama TNI harus tetap pada kemampuan menghadapi perang. Struktur organisasi dan kepangkatan militer, menurutnya, perlu disesuaikan dengan kebutuhan pertahanan agar TNI menjadi organisasi yang efektif, kecil, dan lincah dalam menghadapi berbagai ancaman.

"Pikiran domainnya TNI itu adalah perang. Organisasi dan pangkat hanya menyesuaikan dengan perang. Itu lebih efektif, lebih kecil, lebih lincah. Itulah militer,” jelasnya.

Ia menambahkan, persoalan meritokrasi di tubuh TNI tidak hanya berkaitan dengan urusan internal organisasi. Sistem tersebut dinilai penting untuk memastikan TNI tetap profesional, solid, dan netral dalam menjalankan tugas sebagai penjaga kedaulatan negara.

Gatot mengingatkan agar TNI tidak ditarik ke dalam politik praktis maupun dibebani tugas di luar kewenangannya. Penyimpangan dari tugas dan prioritas utama militer, katanya, dapat membuka ruang bagi persoalan yang lebih besar.

Selain kepemimpinan dan profesionalisme, Gatot menyoroti pentingnya modernisasi pertahanan. Penguatan TNI tidak cukup hanya melalui penambahan alat utama sistem senjata (alutsista), tetapi juga harus mencakup peningkatan kapabilitas, interoperabilitas, serta penguasaan teknologi strategis.

Ia secara khusus menekankan pentingnya penguasaan teknologi siber sebagai bagian dari penguatan kemampuan pertahanan Indonesia.

Di sisi lain, Gatot menilai pemerintah perlu konsisten memperkuat industri pertahanan nasional. Indonesia, menurutnya, harus memiliki kemampuan memproduksi dan memelihara sistem pertahanan secara mandiri agar tidak terlalu bergantung pada negara lain.

"Pada saatnya kelak Indonesia harus mampu memproduksi dan memelihara sistem pertahanan secara mandiri,” kata eks Pangkostrad tersebut.

Penguatan industri pertahanan dalam negeri, kata Gatot, perlu berjalan beriringan dengan modernisasi TNI agar Indonesia memiliki sistem pertahanan yang tangguh sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan bentuk ancaman baru.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan