Abu Janda Sebut Sumbar dan Jabar Barbar, KDM: Tak Pantas! Orang Jabar Sejak Dulu Toleran

Abu Janda Sebut Sumbar dan Jabar Barbar, KDM: Tak Pantas! Orang Jabar Sejak Dulu Toleran

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespon pernyataan Abu Janda yang menyebut Sumatera Barat dan Jawa Barat sebagai provinsi bar bar karena sikap intolerannya. KDM menegaskan provinsi Jawa Barat sangat toleran dan terbuka bahkan masyarakat nyaman hidup dan tinggal di sini.

"Saya sih selalu melihat ya, segala sesuatu yang berkembang itu kita tanggapi secara dewasa. Bahwa hari ini saya tegaskan, orang Jawa Barat itu sudah sejak lama toleran. Orang Jawa Barat itu dari dulu toleran," ucap dia di Bale Pakuan kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).

KDM melanjutkan apabila terjadi konflik intoleransi disebabkan karena komunikasi yang keliru. Dia pun menyebut para pelaku intoleransi bukan warga asli Jawa Barat.

"Kalau ada konflik-konflik intoleransi lebih disebabkan karena satu, miskomunikasi. Yang kedua, biasanya juga para pelaku intolerannya bukan warga Jawa Barat yang asli biasanya," kata mantan bupati Purwakarta ini.

Ia menyebut pelaku intoleransi biasanya masyarakat urban yang berkonflik sesama masyarakat urban lainnya. Namun, saat ini Dedi mengklaim konflik intoleransi sudah meredup bahkan menyebut Jawa Barat sangat terbuka.

"Setelah saya pimpin kan sudah makin redup. Sudah makin redup, Insya Allah deh Jawa Barat provinsi yang terbuka. Gini aja deh kalau ngomong tentang keterbukaan Jawa Barat, provinsi mana yang seterbuka Jawa Barat. Gitu aja," kata dia.

KDM menegaskan hanya Provinsi Jawa Barat yang terbuka untuk masyarakat luar. Karena itu, tidak pantas kata bar disematkan bagi Jawa Barat.

"Jadi tidak ada kalimat kata bar bagi Jawa Barat. Buktinya Jawa Barat, semua orang bisa hidup di sini dan nyaman," kata dia.

Ia pun mengatakan tidak pernah terjadi konflik antar suku sehingga ucapan Abu Janda terpatahkan dengan kondisi kehidupan masyarakat yang harmoni. KDM menyebut masalah intoleransi terjadi biasanya karena konflik rumah ibadah.

"Biasanya yang jadi sorotan adalah persoalan konflik rumah ibadah. Itu saja konflik rumah ibadah itu bisa diselesaikan dengan pendekatan yang harmoni," kata dia.

Ia menyebut masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan dengan harmoni.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Tambahkan jadi preferensi di Google