GELORA.CO - Ketegangan global mencapai titik kritis setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman paling keras terhadap Iran.
Trump menyebut seluruh peradaban Iran bisa mati malam ini, jika Teheran tidak memenuhi ultimatum Washington untuk membuka blokade Selat Hormuz.
Pernyataan itu muncul menjelang tenggat waktu yang ditetapkan AS agar Iran membuka kembali jalur vital Selat Hormuz yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia yang kini menjadi pusat konflik.
Di tengah ancaman tersebut, Gedung Putih bergerak cepat meredam spekulasi bahwa AS akan menggunakan senjata nuklir.
Sebab banyak pihak menilai dan khawatir maksud ucapan Trump adalah opsi penggunaan nuklir.
Gedung Putih Bicara Soal Sinyal Nuklir
Wakil Presiden AS, JD Vance, sebelumnya menyebut bahwa Washington memiliki 'alat-alat' yang belum digunakan dalam menghadapi Iran.
Pernyataan ini memicu spekulasi luas bahwa yang dimaksud adalah opsi penggunaan nuklir mungkin sedang dipertimbangkan.
Namun Gedung Putih dengan tegas membantah tafsir tersebut, menyebut tidak ada indikasi Vance mengarah ke penggunaan senjata nuklir.
Meski demikian, pernyataan Trump yang ekstrem memperkuat kecemasan global.
“A whole civilization will die tonight,” tulis Trump.
Ia ,emperingatkan potensi kehancuran besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ultimatum dan Ancaman Infrastruktur Sipil
Ancaman Trump tidak berhenti pada retorika.
Ia sebelumnya menyatakan kesiapan untuk menghancurkan infrastruktur vital Iran—termasuk pembangkit listrik, jembatan, hingga fasilitas energi—jika tuntutan AS tidak dipenuhi.
Langkah ini memicu kontroversi, bahkan di dalam negeri AS sendiri.
Senator Republik Ron Johnson memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil berpotensi menjadi kejahatan perang.
“Saya tidak ingin melihat kita mulai menghancurkan infrastruktur sipil,” ujarnya.
Kritik juga datang dari komentator konservatif Tucker Carlson, yang menyebut ancaman tersebut “vile” dan berbahaya secara moral.
Retakan di Internal Pendukung Trump
Ancaman keras Trump terhadap Iran justru memicu perpecahan di basis politik Trump sendiri.
Tokoh MAGA seperti Marjorie Taylor Greene bahkan menyebut pernyataan Trump sebagai 'gila' dan 'jahat'.
"Kita tidak bisa membunuh seluruh peradaban. Ini adalah kejahatan dan kegilaan," tegas Greene.
Serta menyinggung kemungkinan penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot presiden.
Perdebatan juga meluas ke kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke Iran.
Hal itu adalah opsi yang ditolak sejumlah politisi Republik karena dinilai berisiko tinggi dan mahal.
Dunia Menahan Napas
Di balik manuver politik dan militer, ada kecemasan nyata yang dirasakan jutaan warga sipil—baik di Iran maupun kawasan Timur Tengah.
Serangan terhadap infrastruktur listrik, misalnya, berpotensi melumpuhkan rumah sakit, mematikan alat medis, dan berdampak langsung pada kelompok paling rentan.
Di sisi lain, ketidakpastian semakin diperparah oleh dinamika tenggat waktu yang terus berubah, membuat dunia berada dalam kondisi siaga tinggi.
Hingga kini, belum ada kejelasan apakah ancaman tersebut akan benar-benar direalisasikan atau hanya bagian dari strategi tekanan diplomatik.
Namun satu hal pasti: malam ini bisa menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah konflik modern—dengan risiko yang jauh melampaui batas wilayah Iran.