GELORA.CO - PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) berencana untuk mengimpor 105 ribu unit mobil pickup truk ringan dari India.
Bahkan, beberapa di antaranya disebut-sebut telah sampai di tanah air untuk memenuhi kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih.
Salah satunya disampaikan oleh akun Instagram @muhamadsandisyahir, lewat video yang viral di media sosial beberapa hari belakangan.
Pada keterangan video bahwa disebutkan pickup Mahindra tersebut telah sampai dan berada di Sukabumi, Jawa Barat.
“Mobil India buat koperasi merah putih siap dibagikan. Info pengiriman ke Sukabumi,” ujarnya pada caption seperti dikutip pada Selasa (10/3).
Tampak mobil pada video tersebut berjejer dan berwarna putih. Lengkap dengan nama Mahindra yang berada di bagian belakang mobil.
Lantas, hal ini menimbulkan sejumlah tanggapan dari netizen. Salah satunya akun @with_deni_*** yang menyebutkan bahwa seharusnya uang rakyat tak dipakai sembarangan.
“Uang rakyat kok dipakai sembarangan, kalau rakyat betul-betul marah bagaimana bro,” jelasnya.
Bahkan, ada netizen yang mengungkapkan bahwa gerakan bisnis yang dilakukan oleh pemerintah pusat tentu tak akan ada yang menghalangi.
“Bisnis pusat tak akan ada yang menghalangi. Dikritik dan diprotes pun bagaikan angin,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota sendiri telah mengungkap alasan di balik impor 105 ribu unit mobil pikap dari India dibanding membeli mobil buatan lokal.
Menurut dia, keputusan impor diambil setelah terjadinya negosiasi bersama sejumlah produsen otomotif dalam negeri dan hasilnya tak mencapai kesepakatan, terutama terkait harga dan kemampuan produksi.
Agrinas bahkan mengaku telah mengundang sejumlah produsen besar seperti Grup Astra, Isuzu, Mitsubishi Motors, hingga Hino Motors.
Hanya saja, sebagian besar produsen tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan dengan jumlah besar sesuai tenggat waktu yang ditetapkan.
Tak hanya itu, masalah utamanya yakni harga. Joao menekankan bahwa produsen otomotif dalam negeri tidak mau memberikan harga borongan yang lebih murah.
"Yang menjadi isu utama itu adalah bahwa kami membeli dalam jumlah besar. Sehingga kami menawarkan secara bulk, kami membeli secara gelondongan. Harusnya kan kita diberi harga yang lebih ekonomis, harusnya harga yang lebih efektif dan lebih memenuhi anggaran yang sudah kami siapkan," ujar Joao dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (24/2).
