GELORA.CO - Pemerintah di berbagai negara mulai mengambil langkah cepat untuk melindungi masyarakat dari dampak lonjakan harga minyak dunia.
Kenaikan harga energi ini dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah serta penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak global.
Sejumlah negara menerapkan berbagai kebijakan, mulai dari pembatasan harga bahan bakar hingga jaminan pasokan energi. Respons tersebut menunjukkan krisis energi yang kini merambat ke pasar global dan memengaruhi stabilitas ekonomi di banyak kawasan.
Pemerintah Kroasia menjadi salah satu negara yang langsung mengendalikan harga bahan bakar. Pemerintah menetapkan batas harga bensin sebesar €1,50 per liter dan solar €1,55 per liter selama dua minggu, berlaku mulai Selasa hingga 23 Maret 2026.
Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic menegaskan kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
“Prioritas pemerintah adalah memastikan pasokan energi tetap stabil sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat dan pelaku usaha,” ujarnya.
BBM Naik di Pakistan, Panic Buying di Australia
Di Asia Selatan, India memilih menahan harga bensin dan solar domestik meski harga minyak mentah dunia telah menembus lebih dari 100 dolar AS per barel. Perusahaan pemasaran minyak di negara itu menyerap selisih biaya agar harga di tingkat konsumen tetap stabil.
Namun kondisi berbeda terjadi di Pakistan. Pemerintah negara tersebut menaikkan harga BBM secara drastis pada 7 Maret 2026. Harga bensin melonjak sekitar 20 persen menjadi PKR 321,17 per liter, sementara solar mencapai PKR 335,86 per liter.
Menteri Perminyakan Pakistan Ali Pervaiz Malik menyatakan keputusan tersebut tidak dapat dihindari di tengah tekanan pasar energi global.
“Keputusan ini tidak dapat dihindari, dan kami akan melakukan peninjauan harga bahan bakar setiap pekan ke depan,” katanya.
Lonjakan harga minyak juga memicu kepanikan konsumen di Australia. Banyak masyarakat membeli bahan bakar dalam jumlah besar sehingga menekan rantai pasokan nasional.
Beberapa pemasok bahkan mulai membatasi penjualan kepada pembeli yang tidak memiliki kontrak tetap. Di wilayah regional, sejumlah pengecer melaporkan stok bahan bakar mulai menipis.
Menteri Energi Australia Chris Bowen mengatakan pemerintah masih memiliki cadangan energi yang relatif aman.
“Cadangan nasional saat ini mencapai 36 hari untuk bensin, 34 hari untuk diesel, dan 32 hari untuk bahan bakar jet, tertinggi dalam 15 tahun terakhir,” jelasnya.
Meski begitu, Bowen mengakui situasi perang di Timur Tengah masih sulit diprediksi dampaknya terhadap pasokan energi.
“Tidak mungkin mengatakan berapa lama sebelum perang menjadi masalah bagi pasokan bahan bakar Australia,” tambahnya.
Maskapai Siapkan Strategi
Lonjakan harga energi juga mulai memukul sektor penerbangan. Maskapai Air New Zealand bahkan menangguhkan proyeksi pendapatan untuk tahun fiskal 2026 karena harga bahan bakar jet melonjak tajam.
Sebelum konflik, harga bahan bakar jet berada di kisaran 85 hingga 90 dolar AS per barel. Namun dalam beberapa hari terakhir, harganya melonjak hingga 150–200 dolar AS per barel.
Baca Juga: Stok BBM dan LPG Tetap Aman Pasca Lebaran 2024
Maskapai tersebut menyebut telah melakukan lindung nilai terhadap sekitar 83 persen kebutuhan minyak mentah Brent untuk paruh kedua tahun fiskalnya. Meski demikian, perusahaan tetap menyiapkan berbagai langkah penyesuaian.
Air New Zealand menyatakan telah melakukan penyesuaian tarif awal dan tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan harga tiket serta perubahan jadwal penerbangan jika biaya bahan bakar terus meningkat.
Di kawasan Asia yang sangat bergantung pada impor energi, pemerintah juga mulai mengambil langkah darurat. Beberapa negara menerapkan pembatasan harga dan penjatahan bahan bakar setelah harga minyak dunia melampaui 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Korea Selatan bahkan mengumumkan rencana pembatasan harga BBM domestik untuk pertama kalinya sejak 1997. Sementara China menaikkan batas harga eceran BBM dengan margin terbesar dalam empat tahun terakhir.
Filipina juga memperluas pengendalian harga bahan bakar di seluruh wilayahnya untuk menekan dampak lonjakan biaya energi terhadap masyarakat.
Para analis memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, dampaknya tidak hanya pada energi tetapi juga sektor pangan, pupuk, dan industri di berbagai negara Asia yang bergantung pada impor bahan bakar.
Kondisi tersebut membuat banyak pemerintah kini berlomba mengambil kebijakan cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi daya beli masyarakat dari krisis energi global yang semakin meluas.
