GELORA.CO - Berakhirnya perjanjian New START diprediksi bakal memicu perlombaan senjata nuklir baru yang berbahaya. Tanpa batasan hukum, salah perhitungan sekecil apa pun dari pihak-pihak yang terlibat berpotensi menyebabkan bencana kemanusiaan global.
Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START), satu-satunya kesepakatan tersisa antara Amerika Serikat dan Rusia terkait pengendalian senjata nuklir, resmi berakhir pada pukul 00.00 GMT pada Kamis (5/2/2026). Hal ini terjadi setelah kedua negara menolak melakukan perpanjangan.
Momen ini menandai pertama kalinya dalam lebih dari 5 dekade, dua kekuatan nuklir terbesar dunia beroperasi tanpa "pagar pembatas" terhadap persenjataan pemusnah massal masing-masing.
Para ahli memperingatkan bahwa absennya perjanjian pengganti akan mendorong AS dan Rusia untuk secara bebas meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir serta sistem pengirimannya. Masalahnya, kepercayaan strategis antara Washington dan Moskow saat ini berada pada titik terendah.
"Skenario terburuk adalah situasi menjadi di luar kendali, dan kemudian sebuah insiden memicu konflik yang dengan cepat meningkat menjadi perang nuklir," tegas Thomas Countryman, mantan Pelaksana Tugas Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata, kepada CNN.
Sejarah New START
Ditandatangani pada 2010 dan mulai berlaku setahun kemudian, New START (atau START III) menetapkan batasan ketat bagi kedua negara, yaitu:
- Maksimal 700 rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal kapal selam, dan pesawat pengebom nuklir.
- Maksimal 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan.
Perjanjian ini awalnya memungkinkan inspeksi langsung guna meningkatkan transparansi. Namun, aktivitas tersebut terhenti sejak pandemi Covid-19 dan kian memburuk seiring meningkatnya tensi politik.
Pada Januari 2026, Presiden AS Donald Trump telah memberi sinyal untuk membiarkan perjanjian ini gugur. "Jika perjanjian itu berakhir, biarkan saja. Kami akan menandatangani kesepakatan yang lebih baik," ujar penghuni Gedung Putih tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan bahwa Presiden Trump menginginkan kerangka kerja baru yang melibatkan China. Washington menilai, mustahil melakukan pengendalian senjata yang nyata di abad ke-21 tanpa melibatkan Beijing, mengingat pertumbuhan pesat persenjataan nuklir mereka.
Di sisi lain, Moskow menyatakan telah berupaya mempertahankan kerangka kerja ini, tetapi mengeklaim tidak menerima respons resmi dari AS. "Kewajiban Rusia berdasarkan New START telah berakhir, dan kami bebas memutuskan langkah selanjutnya," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.
Dampak Bagi Dunia
Darya Dolzikova, peneliti senior di Institut RUSI Inggris, menilai berakhirnya New START sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, perluasan kemampuan militer yang berkelanjutan hanya akan mempersulit tercapainya kesepakatan baru di masa depan.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut berakhirnya perjanjian ini terjadi pada "waktu yang paling buruk." Ia menyerukan agar Moskow dan Washington segera kembali ke meja perundingan guna memulihkan batasan yang dapat diverifikasi demi keamanan bersama.
Kini, dunia hanya bisa menunggu apakah diplomasi normal dapat meredam perlombaan senjata tiga arah antara AS, Rusia, dan China, atau justru terjebak dalam ketidakpastian yang mematikan.
