Fenomena Langka 2026, Tiga Kalender Dunia Bertemu

Fenomena Langka 2026, Tiga Kalender Dunia Bertemu

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Tahun 2026 menghadirkan fenomena yang jarang terjadi dalam sejarah penanggalan dunia.

Tiga tradisi besar, yakni Tahun Baru Imlek, awal Ramadan, dan dimulainya Prapaskah, berlangsung dalam waktu yang sangat berdekatan.

Peristiwa ini terjadi karena perbedaan sistem kalender yang digunakan masing-masing tradisi.

Kalender Lunisolar Tionghoa, kalender Hijriah berbasis peredaran bulan, serta kalender Masehi yang mengikuti peredaran matahari, secara matematis jarang berada pada irisan waktu yang hampir bersamaan.

Pada 17 Februari 2026, masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek 2577. Sehari kemudian, 18 Februari 2026, menjadi momen istimewa di Indonesia karena bertepatan dengan 1 Ramadan 1447 Hijriah versi Muhammadiyah sekaligus Hari Rabu Abu yang menandai awal Prapaskah bagi umat Katolik.

Berdasarkan catatan sejarah, kejadian serupa terakhir kali tercatat pada 1863 dan diperkirakan baru akan kembali terjadi pada 2189. Artinya, fenomena ini termasuk peristiwa yang sangat langka dalam lintasan waktu.

Bukan Sekadar Kebetulan Tanggal


Secara astronomi, kalender Hijriah memiliki siklus 354 hari, sementara kalender Masehi 365 hari.

Perbedaan inilah yang membuat posisi tanggal terus bergeser setiap tahun. Ketika sistem lunisolar Tionghoa juga ikut bergerak dalam pola berbeda, peluang perayaan besar bertemu dalam rentang kurang dari 24 jam menjadi sangat kecil.

Namun demikian, bagi banyak pihak, fenomena ini bukan sekadar pertemuan angka dan tanggal.

Di Indonesia, momen tersebut menghadirkan potret unik kebersamaan.

Umat Muslim memulai ibadah puasa Ramadan, umat Katolik memasuki masa 40 hari pertobatan menuju Paskah, sementara masyarakat Tionghoa merayakan pergantian tahun dengan tradisi dan doa syukur.

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyebut kesamaan hari ibadah di tengah perbedaan metode penentuan kalender sebagai rahmat.

“Esensi puasa, baik di bulan Ramadan maupun masa Prapaskah, adalah pengendalian diri dan empati,” ujarnya di Jakarta, 17 Februari 2026.

Simbol Keberagaman Indonesia


Fenomena ini sekaligus menjadi refleksi tentang keberagaman Indonesia.

Dalam satu pekan yang sama, masyarakat menjalankan ritual berbeda dengan semangat spiritual yang serupa: introspeksi, pengendalian diri, dan harapan akan kebaikan.

Momentum ini pun menjadi pengingat bahwa perbedaan tradisi tidak selalu berarti jarak. Justru dalam irisan waktu yang singkat itu, lahir simbol harmoni dan kebersamaan yang jarang terjadi.

Tahun 2026 pun tercatat sebagai salah satu periode unik dalam sejarah perayaan lintas iman dunia. ***
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita