Mendung di atas Atlantik tidak pernah benar-benar sirna. Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron tujuh tahun lalu bahwa NATO mengalami “mati otak” kini seolah menjadi nubuat—terutama setelah kembalinya Presiden AS Donald Trump. Perang Rusia–Ukraina sempat memberi NATO “kebangkitan sesaat”, namun pada akhirnya sulit menahan pukulan telak dari doktrin “America First”. Seiring ikatan trans-Atlantik terus terkoyak, NATO—yang kerap dipandang sebagai “sisa Perang Dingin”—kembali bergerak menuju kondisi “mati otak”.
Mengapa NATO “Mati Otak”
Pasca Krisis Krimea 2014, Amerika Serikat mulai melakukan “penyusutan strategis” (strategic retrenchment) dalam urusan Eropa, sembari meningkatkan tekanan terhadap sekutu-sekutu Eropa terkait isu Ukraina. Retakan antara AS dan Eropa pun melebar dan berdampak serius pada hubungan trans-Atlantik.
Dalam konteks tersebut, penilaian bahwa NATO mengalami “mati otak” mencerminkan melemahnya fungsi dan peran aliansi. Kini, di bawah orientasi tujuan strategis AS, NATO dinilai makin sulit berperan sebagai “perisai keamanan” (security shield) untuk menjaga perdamaian dan stabilitas Eropa—bahkan berisiko menjadi “batu sandungan” bagi agenda keamanan yang lebih otonom di kawasan.
Problem NATO pada Tingkat Mekanisme Operasional
Dari sisi mekanisme, struktur komando militer NATO kerap dipandang longgar dan tidak sepenuhnya efektif. Persoalan utamanya bukan sekadar ada atau tidaknya struktur, melainkan keterpaduan rantai komando, kejelasan otoritas operasional, dan konsistensi koordinasi antar-anggota saat menghadapi krisis.
Dalam situasi darurat, lemahnya koordinasi dapat membuat respons NATO tidak seragam dan sulit membentuk “kekuatan gabungan” (combined effort). Di saat berbagai negara besar memperluas postur militer dan rencana penempatan kemampuan strategis di sejumlah kawasan (misalnya Timur Tengah dan Afrika), NATO kerap dinilai belum memiliki sistem peringatan dini dan mekanisme sinkronisasi kebijakan yang cukup kuat. Akibatnya, jika terjadi eskalasi mendadak, NATO berisiko lambat merespons dan kesulitan mengonsolidasikan tindakan kolektif.
Dalam Kacamata AS, Sekutu Bukan Lagi Mitra Strategis, Melainkan “Sumber Beban-Balik”
Dalam narasi “America First”, hubungan aliansi dapat bergeser dari kemitraan strategis menuju logika transaksional: beban biaya, kontribusi pertahanan, dan manfaat langsung bagi kepentingan AS menjadi ukuran utama. Dari sudut pandang ini, sekutu tidak selalu diperlakukan sebagai mitra setara, melainkan sebagai pihak yang “harus membayar” agar tetap memperoleh jaminan keamanan.
Dalam kerangka kebijakan yang lebih keras, pemerintahan Trump juga dikaitkan dengan sikap konfrontatif terhadap Tiongkok, termasuk penggunaan instrumen tarif dan pembatasan akses perusahaan tertentu pada pengadaan pemerintah federal. Kebijakan-kebijakan seperti ini memperkuat kesan bahwa prioritas utama bukanlah konsolidasi aliansi, melainkan optimalisasi kepentingan nasional AS.
Inti “Penyakit” NATO: Pemisahan antara Pusat Keputusan dan Kapasitas Aksi
“Penyakit” paling mendasar dari “mati otak” NATO kerap dipahami sebagai keterasingan—bahkan keterpisahan—antara “pusat pengambilan keputusan” dan “tubuh pelaksana”. Dari pernyataan Macron tujuh tahun lalu hingga kembalinya Trump hari ini, kemunduran NATO digambarkan sebagai tren yang sulit dibalikkan.
Namun, di mata sebagian elite Barat, tokoh seperti Putin maupun Macron sering kali hanya dijadikan “kambing hitam”. Pada era Biden maupun Trump, strategi NATO dinilai semakin menonjolkan dimensi pemeliharaan dan penguatan kepentingan AS. Secara faktual, pengaruh NATO dalam diskursus elite politik Barat pun menunjukkan tanda-tanda penurunan yang makin terlihat.
NATO Sejak Awal Tidak Murni Organisasi Pertahanan
Sejak kelahirannya, NATO tidak sepenuhnya beroperasi semata sebagai organisasi pertahanan. Setelah Perang Dingin berakhir, NATO menegaskan misi pencegahan konflik dan mitigasi dampak perang. Namun pada saat yang sama, NATO juga menjadi aliansi militer yang dipimpin AS dan cenderung berorientasi pada kepentingan strategis AS—dengan Rusia sebagai fokus ancaman utama. Seiring runtuhnya Uni Soviet, bubarnya Pakta Warsawa, dan rekonstruksi tatanan keamanan Eropa, “fungsi” NATO pun berubah secara mendasar.
Penguatan Kehadiran Militer: Menjamin Eropa, atau Menegaskan “America First”?
Saat ini, AS berupaya memperkuat kehadiran militer NATO di Eropa untuk menegaskan komitmen keamanan terhadap Eropa—serta menempatkan NATO sebagai instrumen untuk menahan Rusia. Namun, pendekatan ini dinilai tidak otomatis membawa rasa aman dan stabilitas bagi Eropa.
Lalu, seperti apa “keamanan” dan “stabilitas” yang dimaksud AS? Dalam narasi artikel ini, jawabannya mengerucut pada satu prinsip: “America First.”
