GELORA.CO - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin (BGS) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Virus Nipah, penyakit zoonotik berbahaya dengan tingkat kematian yang bisa mencapai 75 persen.
Salah satu langkah pencegahan utama yang ditekankan adalah tidak mengonsumsi buah-buahan yang sudah terbuka, jatuh, atau tampak rusak.
Menurut Budi, penularan Virus Nipah kerap terjadi melalui buah yang telah digigit atau terkontaminasi air liur kelelawar.
Hewan tersebut merupakan inang alami virus yang dapat menularkan penyakit ke manusia melalui makanan yang tercemar.
“Penularannya banyak lewat buah yang sudah dimakan atau digigit kelelawar. Jadi untuk orang-orang Indonesia, termasuk wartawan yang bepergian ke daerah rawan, sebaiknya jangan makan buah yang terbuka,” ujar Budi dikutip pojoksatu.id dari instagram @pandemictalks (2/2/2026).
Ia menyarankan masyarakat memilih buah yang masih utuh dan tertutup, lalu mengupas sendiri sebelum dikonsumsi.
Dengan cara itu, kondisi buah dapat dipastikan aman dan tidak terkontaminasi.
Budi mencontohkan buah jeruk yang masih berkulit sebagai pilihan lebih aman dibanding buah potong yang dibiarkan terbuka.
“Kalau bisa makan jeruk yang tertutup, kita kupas sendiri, jadi bisa lihat kondisinya. Kalau ragu, lebih baik hindari,” tambahnya.
Tak hanya itu, Menkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri mengonsumsi buah jika kondisinya diragukan.
Sebagai alternatif, ia menyarankan memilih makanan yang sudah dimasak matang seperti nasi dan daging, yang dinilai lebih aman dari risiko penularan virus.
Virus Nipah sendiri dikenal sebagai penyakit zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia, serta antarmanusia melalui kontak erat.
Gejala yang ditimbulkan bervariasi, mulai dari demam, batuk, infeksi saluran pernapasan, hingga radang otak atau ensefalitis yang berakibat fatal.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah memperketat pengawasan di pintu masuk negara, terutama bagi pelaku perjalanan dari wilayah yang melaporkan kasus Virus Nipah.
Pemeriksaan skrining kesehatan terus diperkuat untuk mendeteksi potensi kasus sejak dini.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga memastikan kesiapan fasilitas laboratorium dengan menyiapkan reagen khusus untuk identifikasi Virus Nipah.
Langkah ini dilakukan agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat jika ditemukan kasus suspek di dalam negeri.
Menkes mengimbau masyarakat yang mengalami gejala seperti demam tinggi, batuk berkepanjangan, atau gangguan pernapasan setelah bepergian ke daerah dengan laporan Virus Nipah agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Deteksi dini sangat penting. Jangan menunggu parah, segera lapor ke tenaga kesehatan,” tegas Budi.
Pemerintah berharap kesadaran masyarakat dalam menerapkan langkah pencegahan sederhana dapat menekan risiko masuk dan menyebarnya Virus Nipah di Indonesia.***
