(Sepintas sejarah)
1. Ahmad Khoizinudin atau AK. Ketika diminta berkas terkait Gus Nur dan BTM untuk kelengkapan Eggi dipanggil oleh penyidik Bareskrim (15 April 2025) termsuk kebutuhan Penulis (DHL), sambil si AK memberikan berkas kpd Arief, dia mengatakan "tdk ikut2 lagi dgn kasus Ijazah Jokowi diduga palsu, dia mau konsen, fokus kepada kasus PIK 2 "
2. Nyatanya pasca kepulangan TPUA kembali dr UGM Jogja dan Solo 15 dan 16 april 2025, pada tgl 2 Mai 2025 si AK buat pertemuan di gd Joeang , bersama dgn Kurnia (presenter) dan azam. Padahal Azam sekjen TPUA saat itu atas relomendasi DHL yang mundur dari Sekjen namun semua konsep yg dibuthakan oleh TPUA tetap DHL yg mendrafnya, dan AK dan Azam tdk ikut ke Jogja dan Solo. Ini ketiganya kurang adab dari sisi moral. Namun Sy tetap hadir pd 2 mai 2025 tsb tanpa undangan khusus, hanya lihat sliweran acr tsb di medsos, klo gk salah RH, Roy, Tf , Said didu, Rismon dan lainnya diberikan waktu sambutan( bcr) Sy DHL gak di ksh bcr wlo sdh dimintakan scr keras oleh Rustam dan Muslim Arbi. Dan nampak Rizal Fadillah acuh bebeh. Rizal yg baru kami (Eggi dan DHL) angkat jadi wkl ketua TPUA pada Januari- Febr 2025 atau pra April 2025 karena RF mau diajak mnjd penggugat prinsipal pada tahun 2023 (bersama Taufik UI Watch, Hatta Taliwang, BTM, Muslim Arbi) dan RF dan Muslim Arbi ikut melaporkan Jkw di Dumas 9/12 2024.
Dengan catatan penting, kami (Eggi dan DHL) beri tugas RF untuk membuat buku perjuangan TPUA !
Lalu laporan Jkw dan Jkw lover berlanjut, Roy, Ris Eggi dan Kurnia teken kuasa ke TPUA ( sy dan Azam kuasa hukumnya ) krn saat itu sy blm terlapor justru Eggi selaku Ketua TPUA mnjadi terlapor, tentu sy blm mnjd TSK . Ternyata Roy Ris dan dr Tf n Kurnia juga teken kuasa kpd Taka atau si AK (Kurnia teken saat diruang BAP pemeriksaan penyidik kpd Si AK / TAKA saat DHL dan Arvid menjadi kuasa hukum Kurnia) Ini pola kategori "brutalis" dari sisi kode etik advokat. Belakangan Roy dan Ris (RRT) infonya tambah lagi kuasa hukum, mrk teken kuasa kpd Jah Mada dan RH & DR Taufik ?
Eggi pun ngajak sy ke TAKA setelah sy ikut dijadikan Terlapor , klo melihat Petrus Selentinus sahabat sy saja, tanpa ada si AK mungkin sy mau, Petrus sy kenal lama, figur yang sangat baik, dan sangat bagus ilmu hukum pidananya, tapi si AK "yg kurang beradab" serta cenderung langgar kode etik advokat, selain saya tahu sekali dia kurang mumpuni ilmu pengetahuan hukum pidana formil mupun hukum pidana materil, maka rawan tuk membela penulis, kecuali pemahaman ayat2 suci Al Quran atau terkait syariah AK jago, namun hanya pemahamannya, penulis tidak katakan AK hebat praktik, pelaksanaannya atau user syari sehari2 . Yang Penulis ingin katakan dalam ilmu terkait syariah bisa jadi AK lumayan sebaliknya Sy bloon terkait ilmu syari, dan belakangan Eggi ketua TPUA yang mengalah bergabung dgn TAKA dikeluarkan dari klien tim hukum si AK/ TAKA, walau sebelumnya sy melarangnya, mengingat data empirik BTM saat persidangan di PN Surakarta yang nyata sedang pesakitan (penjara) dia keluarkan sbg kliennya !
Sehingga ilmu syari AK kurang atau minim menurut pendapat dan pengamatan Penulis. Dan bisa dibuktikan kekurangannya itu dari yang Ia tampilkan selama ini.
Jadi si AK ini segala komplit ngapain Penulis pakai AK , penulis khawatir bisa diejek, ditertawakan oleh rekan2 senior maupun junior di OA Penulis, bahkan implikasinya penulis bisa jadu bakal dimusuhi, lalu Penulis bisa muntah karena rasa malu ?
Infonya 26 Nov 2025 Rismon ( RRT ?) Menurut pengakuan Jah mada "dlm video Rismon sdh memberi kuasa kpd Jah Mada" namun RRT tetap dgn TAKA (AZAM, AK dan Sangaji? ) Gak jelas ini , tdk karuan bahkan potensial MELANGGAR KODE ETIK ADVOKAT.
Selain sy dan Azam dari TPUA selaku Pengacara ROY RISMON, EGGI dan KUNIA dgn kata lain TPUA juga nyata diberi kuasa dan tim pengacaranya dipimpin oleh saya/ DHL.
Lalu belakangan berkembang kbr RH dan DR Taufik dan Jah mada khusus bela RRT, lalu apakah AK, Azam dan Sangaji sdh disingkirkan?
Nah sampai disini apa hak nya si AK dan Kurnia RF dan Azam jika nyatakan sy dan Eggi pengkhianat ? Walau mereka yg memusuhi dan tdk patuhi Eggi ? Klo Kurnia dan Azam anggap mrk anggt kami Eggi dan dhl di TPUA , krn sy juga yang nyata pimpin gantikan BES ke Jogja dan Solo. AK dan Azam pastinya tak ikut ke Jogja dan Solo dan Kurnia dan Azam tdk ikut melapor ke Dumas (9/ 12 2024) apalg RRT ! Tapi mereka seolah2, selalu berkata kami dan Kami. Diselingbpwrnyataan kaminadalah RRT memang gajbada hubnya dgn TPUA . Aneh kan. Namun bebrapa kali di studio TV Roy dan Rismon tidak menyanggah bahwa mereka teken kuasa tuk penulis (TPUA). Bgt pila sama dgjmn artikel Eggi Sudjana, bahkan saat tekenan diajak patungan oleh Eggi Roy menolak.
Jadi yang komplit dlm peristiwa giat juang hukum hanya sy/ penulis dan Eggi klo mau bcr TPUA dan hal yang konkrit by data. Bukan pendatang2 baru model Kurnia dan RF dkk. Maka mrk tdk memiliki fanatisme kepada TPUA , walau sebut2 dalam pernyatàn bersama di Polda yg dibacakan oleh Kurnia, mereka seret dan sebut nama tokoh Pembina TPUA seolah dia si AK Roy, Rismon Petrus adalah bagian kolaborasi dgn TPUA, faktualnya . . .?
Klo tarik kebelakang Azam Kurnia dan Rzal Fadillah tdk ikut ke sidang BTM (2022). AK ada tapi, itu dia pecat BTM sebagai kliennya ? Rizal saat ke UGM dan Jln Kutai Solo, hanya kami angkat semacam koordinator admintrasi atau korespondensi pihak UGM, Jogja dan ke pihak Solo. Korlap adalah Rustam.
Mereka Kurnia, Azam dan Rf mmg hanya ikut2an dan khusus RF baru kami (EGGI-DHL) angkat mnjd pengurus TPUA, Wkl ketua umum pada tahun 2025 karena mau ikut menjd prinsipal penggugat jkw 2023 dan mau ikut melapor ke Dumas pada 9 Des 2024 dan pastinya AK dan tdk ikut TERLIBAT menggugat pada 2023-2024 di PN. Jakpus dan pastinya AK dan Kurnia dan Azam mereka tidak ikut melapor JKW ke Dumas MABES POLRI 9 Des 2024 (konseptor gugatan dan Lapor Dumas mutlak dhl) apalagi RRT !?
Nah klo seperti ini, maka siapa yg pantas dijuluki khianat Penulis atau kurnia dan RF atau Azam, klo bilang biadab atau kurang beradab atau adu domba maka penulis dsn Eggi atau si AK dgn segala sepak terjangnya sejak 2 Mai 2025 yang bukan anggt TPUA sampai dengan fungsi JABATANNYA di TAKA sbg FUNGSI NON LOTIGASI namun dlm konteks anomali ?
Siapa yg hanya ikut ikutan perjuangan TPUA, sy dan Eggi yang sejak berdiri 2017 brsm TPUA dan terus sampai 2021-2025 melakukan upaya hukum diselingi aksi demo (non litigasi) dan berbagai langkah litigasi (MK, KY, prapid, gugatan PMH di PN dan MA) terkait kinerja orde presiden Jkw dan Jokowi selaku Presiden/ Pjbt publik serta kabinetnya atau Roy dan AK ? Atau TIFA dan RISMON yg baru brtm dgn sy pada 15 april 2025 di UGM Jogja , yg sblm bertemu sy pd 15 april 2025 ramai di medsos Rismon mengaku2 sy adalah tulangnya scr adat, atau tutur Batak ?
Rismon mmg sy undang melalui Roy agar ikut dampingi TPUA 15 April 2025 ke UGM jogja. Tifa sy gak undang tiba2 hadir di UGM entah apa kepentingannya ? Lalu mrk primordialism (RRT) buat buku entah apa isinya sesuai sejarah (ilmiah) atau tdk ?
Atau kah si ahli hkm tata negara merangkap pemanadu yutub dan skrng tiba2 mulai akitIf bcr tentang asas hukum pidana formil dan pidana matetil tp "keliru" MINTA SP 3 KE IRWASUM, namun tetap ngotot dgn aksi penampilannya ikut gaya sahabat karib seniornya si AK lalu bberpa kali menyindir DHL dan Eggi ?
Nah pertanyaannya tentang adanya pembekuan TPUA sementara, PERSPEKTIF LOGISNYA siapa yang senang dan suka cita penulis dan Eggi, atau AK atau Kurnia dan Azam dan RF atau pihak mana ?
Para pembaca media publik dan pemirsa TV (infotainment/ mainstream-konvensional) sendiri silahkan menilainya. Maka Penulis berharap objektifitas diprioitaskan.
Insya Allah Ketua Dewan Pembina TPUA DR. Ilc HRS , MA PHD berkenan maka TPUA diaktifkan kembali dgn pengurus yg lebih fresh dan lebih bertanggung jawab agar pihak pihak yang ingin melemahkan perjuangan TPUA gagal, mereka hanya berhasil menyingkirkan sosok Eggi dan DHL selaku pengurus bukan menghancurkan hakekat perjuangan TPUA , tidak juga menghancurkan para tokoh pembina TPUA yg tulus dan ikhlas.
Mereka "para oknum" pecundang entah siapa , yang ikut2an hanya omong besar. Dan para pengkhianat sejatinya memang ada dimana mana, dengan pola menggunakan model baju, dasi bahkan tutup kepala yang macam macam.
Ketika Eggi selaku ketua TPUA menghimbau agar anggota TPUA yang menjadi TSK sementara cooling down(CD) pantau, atau sejenak mengamati gerak kekuasaan (politik hukum) yang ada dimasa berstatus TSK. Dan DHL yang memang sebelumnya agak kurangi aktivitas kemunculan di medsos & media publik kecuali artikel, tentunya mentaati CD karena sebenarnya semua pahami dari mana perintah tsb. Namun yang ada semakin tampil garang, sebaliknya menantang anjuran CD dengan ikuti irama panggung hard rock si AK di semua stasiun tv namun ketika Eggi dan DHL yang melihat jelas attitude dan status quo mereka sejak 2 Mai 2025 yang "aneh bahkan menjijikan", lalu euforia atas kedekatan terhadap RRT yang akhirnya 'kolaborasi,' semua seperti tidak tahu andil sosok ketokohan giat juang EGGI (ketua tpua) dan DHL begitu juga dan siapa orang besar dibelakang DHL dan Eggi, walau berharap bantuan moril.(solusi) namun etos (watak dan niat) awal mereka yang patut dipertanyakan membuat mereka lupa apa makna adab dlm konteks ilmu yg mereka miliki. Minta saran namun ambigu (hipoktrit)
Namun diujung cerita AK yang tendensi demagog bersama eks tpua " yang menjijikan", berteriak kembali seolah dikhianati, disakiti lalu melaporkan kpd orang besar TPUA yang mereka tak pedulikan himbauannya, dan terus asyik dalam panggung kaca. Maka ketika TPUA "sukses dibekukan" mereka tentu senangnya bukan kepalang, akan kah hipokrit belakangan, pura2 bersedih atau tetap menyalahkan Eggi dan DHL yang justru merasa tidak sanggup *menasehati para anggotanya yang dewasa umur tapi lucu lucu, maka kami ikhlas mandat kepengurusan diambil oleh orang besar yang berhak. Jadi siapa yang mengkhianati perjuangan dan siapa yang sekedar ikut ikutan hanya ingin nampang dan numpang tanpa pondasi kokoh, sambil provokasi dengan didahului selalu dengan kalimat kami, kami ? Padahal diantara mereka baru seumur jagung diajak serta atau bahkan "ada yang maksakan diri* ikut perjuangan TPUA bikin puyeng," dan siapa yg egois dan sombong walau berilmu namun tak beradab, mudah mudahan sudah berkejelasan.
Kesimpulannya dengan gejala gejala fenomena yang ada ketika saat laporan TPUA di dumas terkait ijazah S1 Jokowi dinyatakan autentik lalu dihentikan penyelidikannya, dan bersamaan Azam, Kurnia , Rizal amat patuh kepada AK dan seolah DHL dan Eggi tidak punya hub historis giat juang sehingga dipandang sebelah mata oleh RRK (Rustam Rizal dan Kurnia) dan RRT yang bangga dgn primordial seolah terputus hub nya bahkan tidak pernah ada hub dgn TPUA bahkan terbukti tifa di media tv tidak kenal kpd DHL hanya kenal kpd Eggi, sungguh santun, bermoral tinggi m, ingatannya amat tajam dan cerdas ? Terlebih realitanya ketiga orang tsb langsung buat buku tanpa ada hubungan sama sekali kepada TPUA padahal mereka ikut ke UGM adalah hajat TPUA bahkan dr Tifa tidak diundang oleh DHL untuk membersamai TPUA ke UGM. Bagaimana nilai edukasinya andai zonk kebenaran sejarah yang ada pada buku, setidaknya jika ada narasi atau momen penting yang kompak sengaja ditanggalkan, sehingga menunujukan jatidiri yang jauh dari ilmiah tdk konheren dgn fahta hukum dan tdk inheren dgn "makna ilmuwan sejati."
Dan pantaskah mereka diajak rembuk oleh Eggi dan DHL
Salam cerdas !
