GELORA.CO - Teheran telah mengeluarkan peringatan keras kepada Washington: jika Amerika Serikat (AS) berani melancarkan serangan ke wilayah kedaulatan Iran, maka setiap pangkalan militer AS di kawasan tersebut—mulai dari Bahrain hingga Uni Emirat Arab (UEA)—akan menjadi target sah serangan balasan.
Pernyataan ini telah diungkapkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, seraya memastikan yang mereka lakukan jauh lebih keras dibandingkan ketika Perang 12 Hari melawan Israel 2025 silam.
“Tidak seperti sikap menahan diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, kini angkatan bersenjata kita yang kuat tidak ragu untuk membalas dengan semua yang kita miliki jika kita diserang lagi,” kata Araghchi, dikutip dari Fox News, Kamis (22/1/2026).
Donald Trump dan Ancaman "Bantuan Segera Datang"
Saat Iran berupaya keras meredam kerusuhan domestik terburuknya dalam beberapa dekade, Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan berpihak pada para demonstran.
Melalui pernyataannya, "Bantuan sedang dalam perjalanan (Help is on the Way)," Trump memicu kekhawatiran global bahwa serangan udara AS terhadap Iran mungkin tinggal menunggu waktu.
Meski pada 15 Januari Trump sempat melunakkan sikapnya dengan mengatakan "pembunuhan di Iran telah berhenti," opsi militer tetap berada di atas meja.
Sejumlah pergerakan strategis Pentagon memperkuat indikasi ini:
- Relokasi Pasukan: Penarikan pasukan dari pangkalan kunci sebagai langkah pencegahan.
- Sel Koordinasi Baru (MEAD-CDOC): Pembentukan pusat koordinasi di Al-Udeid, Qatar, untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara dan rudal regional.
- Kapal Induk USS Abraham Lincoln: Laporan menyebutkan kapal induk ini diperintahkan bergerak dari Laut China Selatan menuju teater Timur Tengah.
"Semua sinyal menunjukkan serangan AS sudah dekat. Ketidakteraturan adalah bagian dari strategi pemerintahan ini," ujar seorang pejabat militer Barat kepada Reuters.
Daftar Pangkalan AS yang Masuk "Radar" Rudal Iran
Iran bukan Venezuela. Teheran memiliki gudang senjata rudal balistik dan drone yang masif, serta sistem pertahanan udara yang jauh lebih unggul.
Berikut adalah aset-aset AS yang berada dalam jangkauan serangan Iran:
- Pangkalan Udara Al-Udeid (Qatar): Pangkalan terbesar AS di kawasan ini dan markas depan CENTCOM.
- NSA Bahrain: Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS yang mengawasi Teluk Persia dan Laut Merah.
- Camp Arifjan (Kuwait): Pusat logistik utama Angkatan Darat AS.
- Pangkalan Udara Al Dhafra (Abu Dhabi): Hub operasi udara dan pengintaian.
- Pangkalan Udara Prince Sultan (Arab Saudi): Lokasi penempatan sistem rudal Patriot dan THAAD.
- Pangkalan Udara Ain Al Asad (Irak): Pernah dihantam rudal Iran pada 2020 sebagai balasan atas kematian Qasem Soleimani.
Iran dilaporkan telah memperingatkan negara-negara tetangga seperti Arab Saudi, Turki, dan UEA bahwa pangkalan Amerika di wilayah mereka akan diserang jika AS menggunakan fasilitas tersebut untuk menggempur Iran.
AS Rayu Arab Saudi
Di sisi diplomatik, Penasihat Keamanan Nasional sekaligus Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah berkoordinasi dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.
Dukungan Saudi dianggap krusial jika serangan udara Amerika Serikat benar-benar diluncurkan.
Alasan Utama
Geografi dan Infrastruktur Militer
- Arab Saudi memiliki lokasi strategis di Teluk, dekat dengan Iran dan kawasan konflik utama.
- Basis udara dan fasilitas militer Saudi sering digunakan sebagai titik logistik dan peluncuran operasi AS di Timur Tengah.
Legitimasi Politik dan Regional
- Dukungan Saudi memberi legitimasi regional bagi operasi AS, karena Saudi adalah negara berpengaruh di dunia Arab dan Islam.
- Tanpa dukungan Saudi, serangan AS bisa dianggap sebagai intervensi sepihak yang memicu resistensi lebih luas.
Koordinasi Keamanan Energi
- Saudi adalah produsen minyak terbesar dunia. Stabilitas politik dan keamanan Saudi penting untuk mencegah gejolak harga energi global jika terjadi konflik.
- Dukungan mereka membantu menjaga pasokan minyak tetap aman meski ada eskalasi militer.
Namun, jika pun mendapat dukungan Arab Saudi, rencana ini tetap saja bukan tanpa hambatan:
- Risiko Perang Total: Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap agresi terhadap Pemimpin Tertinggi Iran berarti perang total.
- Kesiapan Pertahanan Israel: Israel dilaporkan merasa khawatir karena stok pencegat rudal (interceptor) mereka terkuras habis setelah perang 12 hari dengan Iran tahun lalu.
- Ketidakpastian Pasca-Rezim: Analis dari Stanford University, Ramzy Mardini, memperingatkan bahwa strategi "pemenggalan" kepemimpinan tanpa adanya kekuatan oposisi yang kuat di darat justru akan menciptakan kekacauan hebat yang sulit distabilkan.
Sanksi Ekonomi sebagai Alternatif
Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan bahwa tekanan finansial AS telah berkontribusi pada runtuhnya ekonomi Iran pada Desember lalu.
Sebagian pembantu Trump menyarankan opsi non-militer, seperti membantu koordinasi online para demonstran atau memberlakukan sanksi baru yang lebih mencekik.
Hingga saat ini, Gedung Putih masih mengirimkan sinyal beragam antara mendukung perubahan kepemimpinan di Iran atau sekadar melakukan serangan peringatan untuk meredam kekerasan di negara tersebut.
