GELORA.CO - Harapan Washington untuk menyeret Teheran ke meja perundingan tampaknya harus berbenturan dengan tembok baja. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara resmi menegaskan bahwa peluang dialog dengan Amerika Serikat (AS) sudah tamat. Alih-alih berunding, Garda Revolusi Iran justru tengah bersiap untuk perang habis-habisan.
Dalam wawancara eksklusif dengan PBS News, yang dikutip Selasa (10/3/2026), Araghchi menutup rapat pintu diplomasi. Ia menyebut sejarah panjang pengkhianatan AS sebagai alasan utama mengapa duduk semeja dengan Washington adalah kesia-siaan.
"Tembakan terus berlanjut, dan kami sangat siap untuk terus menghujani mereka dengan rudal selama diperlukan. Berbicara dengan orang Amerika tidak lagi masuk dalam agenda kami," tegas Araghchi dengan nada dingin.
Sentimen Ramadan: 'Tak Bicara dengan Setan'
Sikap keras pemerintah Iran ini rupanya mendapat dukungan penuh dari arus bawah. Di jalanan Teheran hingga jagat media sosial, narasi perlawanan kian kental dengan bumbu religius. Mengingat saat ini memasuki bulan suci, publik Iran menyuarakan dukungan kepada Ayatollah Mojtaba Khamenei untuk membalas kematian para martir.
"Selama bulan Ramadan, kami tidak berbicara dengan setan," demikian bunyi pesan yang menggema luas di berbagai platform digital Iran.
Senada dengan Araghchi, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak sedang mencari jalan damai atau gencatan senjata. Baginya, satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh agresor adalah kekuatan fisik yang melumpuhkan.
"Agresor harus dipukul mulutnya agar mendapat pelajaran. Mereka hanya menggunakan siklus 'perang-negosiasi' untuk mengonsolidasikan dominasi," tulis Qalibaf melalui akun X miliknya.
Gertakan Trump: Balas Dendam 20 Kali Lipat
Di sisi lain, Donald Trump tetap tampil dengan gaya khasnya: agresif dan penuh percaya diri. Dalam konferensi pers di Florida, Trump mencoba menenangkan pasar global yang mulai guncang akibat harga minyak yang melonjak melewati angka US$100 per barel.
Trump mengklaim operasi militer ini hanyalah 'ekspedisi jangka pendek' dan menyebut AS sudah menang dalam banyak hal. Namun, nada bicaranya berubah menjadi ancaman mematikan saat membahas kemungkinan Iran memblokade pasokan minyak global.
"Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dipukul oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LIPAT lebih keras daripada yang pernah mereka alami sejauh ini!" tulis Trump di platform Truth Social.
Selat Hormuz Tercekik, Ekonomi Global Terancam
Dampak nyata dari ketegangan ini paling dirasakan pada urat nadi energi dunia. Selat Hormuz, jalur krusial yang membawa 20 persen pasokan minyak bumi dunia, kini praktis tercekik. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah bersumpah tidak akan membiarkan satu tetes pun minyak meninggalkan kawasan tersebut selama agresi AS-Israel berlanjut.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengungkapkan kekhawatirannya. Kapal-kapal tanker kini terpaksa memutar jalan untuk menghindari Selat Hormuz. Meski jalur pipa alternatif dipacu hingga kapasitas maksimal 7 juta barel per hari, volume minyak yang tertahan tetap sangat signifikan.
"Situasi ini memblokir volume minyak yang cukup besar. Jika berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi global akan sangat serius, terutama pada lonjakan harga bensin dan avtur," peringat Nasser.
Dunia kini menahan napas. Di satu sisi, Iran memilih berpuasa dari dialog, sementara di sisi lain, Trump sudah menyiapkan 'palu gada' yang diklaim 20 kali lebih mematikan. Di tengah ego dua kekuatan besar ini, ekonomi global kini berada di ujung tanduk.
Sumber: inilah
