Kontroversi Bandara IMIP Morowali: Awal Mula Mencuat dan Profil Fasilitas Strategis

Kontroversi Bandara IMIP Morowali: Awal Mula Mencuat dan Profil Fasilitas Strategis

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Sorotan tajam kini tertuju pada Bandara IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park) yang berlokasi di Sulawesi Tengah. Polemik ini mencuat setelah Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menyoroti keberadaan fasilitas udara ini sebagai "anomali" yang berpotensi merugikan kedaulatan ekonomi negara.

Bandara swasta yang menjadi bagian integral dari kawasan industri nikel raksasa ini menjadi perbincangan panas. Apa sebenarnya awal mula kontroversi ini dan bagaimana profil lengkap dari Bandara IMIP?

Awal Mula Polemik: Menhan Sjafrie Soroti Bandara Tanpa 'Perangkat Negara'
Kontroversi Bandara IMIP bermula dari pernyataan keras Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Saat meninjau lokasi pertambangan Morowali pada Kamis (20/11/2025), Menhan menyoroti fakta bandara tersebut beroperasi tanpa pengawasan ketat dari instansi negara.


Bahkan, ia menyebutkan bahwa tidak ada petugas dari Direktorat Jenderal Bea Cukai Kemenkeu yang ditempatkan di bandara tersebut.

Pernyataan ini segera viral dan memicu pertanyaan publik mengenai legalitas serta pengawasan di kawasan strategis tersebut. Menhan menyampaikan sorotan ini usai menghadiri Latihan Terintegrasi 2025 TNI.


Mengutip situs resmi Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, bandara yang dimaksud Sjafrie terletak dekat dengan jalur laut strategis: Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II dan III.

Sjafrie, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Pertahanan Nasional (DPN), menegaskan bahwa keberadaan bandara tanpa kehadiran negara merupakan anomali yang dapat membuat kedaulatan ekonomi Indonesia rawan.

Menhan RI berjanji akan melaporkan semua temuan dan evaluasi kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Ia menekankan pentingnya penegakan hukum tanpa pandang bulu.

"Republik ini tidak boleh ada republik di dalam republik. Kita harus tegakkan semua ketentuan tanpa kita melihat latar belakang dari manapun asalnya," tegas Sjafrie.

Sjafrie juga menyampaikan pesan kepada seluruh elemen bangsa, menegaskan bahwa negara tidak akan berhenti menindak kegiatan ilegal yang merugikan kekayaan nasional.

Profil Bandara IMIP: Fasilitas Udara Penunjang Industri Nikel

Bandara IMIP merupakan fasilitas strategis yang dibangun untuk menunjang aktivitas Kawasan Industri Morowali Industrial Park (IMIP), kawasan industri berbasis nikel terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data resmi dari Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, berikut adalah profil Bandara IMIP:

Pengelola: Swasta.
Klasifikasi: 4B.
Otoritas Pengawasan: Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar.
Status Operasi: Khusus untuk penggunaan domestik (non-kelas).
Kode ICAO: WAMP.
Kode IATA: MWS.

Lokasi: Jl. Trans Sulawesi, Fatufia, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Aktivitas Penerbangan Cukup Tinggi
Data menunjukkan bahwa lalu lintas udara di Bandara IMIP cukup aktif. Hingga tahun 2024, tercatat ada 534 penerbangan yang dilayani dengan total penumpang mencapai 51.800 orang.

Bandara ini memiliki infrastruktur yang memadai untuk mendukung penerbangan komersial dan kargo

Panjang Runway: 1.890 meter.
Lebar Runway: 30 meter.
Daya Dukung (PCN): 68/F/C/X/T.
Ukuran Apron: 96 × 83 meter.
 


Mengenal Kawasan Industri IMIP
PT Indonesia Morowali Industrial Park (PTIMIP) adalah perusahaan pengelola kawasan industri nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Kawasan ini merupakan kerja sama antara Bintang Delapan Group (Indonesia) dengan Tsingshan Steel Group (Cina).

Tsingshan Group dikenal sebagai perusahaan terbesar di dunia dalam pengolahan nikel. Kawasan Industri IMIP terintegrasi dan menghasilkan produk utama seperti:

Nikel
Stainless steel
Carbon steel
Bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle).

Selain itu, IMIP juga memiliki fasilitas penunjang lain yang lengkap, termasuk coal power plant, pabrik-pabrik pendukung, pelabuhan, dan tentu saja, Bandara IMIP yang kini jadi sorotan

Sumber: jawapos 
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita