Poltekkes Singaparna Antisipasi Wabah PMK: Gencar Periksa Kesehatan Hewan Kurban

Poltekkes Singaparna Antisipasi Wabah PMK: Gencar Periksa Kesehatan Hewan Kurban

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, semakin gencar mengantisipasi munculnya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melalui pemeriksaan kesehatan hewan kurban yang masif menjelang Idul Adha 1446 H/2025. Program ini menjadi bagian dari upaya preventif Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya untuk memastikan hewan kurban aman dikonsumsi dan bebas dari penyakit menular, yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Singaparna, sebagai lembaga pendidikan vokasi kesehatan terdepan di wilayah ini, turut mendukung inisiatif tersebut dengan melibatkan mahasiswa dan dosen dalam sosialisasi pencegahan zoonosis, memastikan pengetahuan tentang PMK meresap ke tingkat masyarakat desa. Dengan pemeriksaan yang dimulai sejak 23 Mei 2025, Pemkab Tasikmalaya berhasil memantau ratusan hewan di berbagai kecamatan, menjadikan program ini model pencegahan wabah yang efektif.


Pemeriksaan kesehatan hewan kurban ini difokuskan pada sapi, kambing, dan domba, baik dari peternak lokal maupun luar daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tim gabungan dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Tasikmalaya, dipimpin Kepala DPKPP Tatang Wahyudin, telah membentuk tim inspeksi yang disebar ke kandang ternak, pasar hewan, dan lokasi penjualan. “Kami sudah bentuk tim pemeriksa yang disebar ke setiap kandang ternak, pasar hewan, dan lokasi penjualan. Ini sebagai langkah antisipatif agar tidak ada kasus PMK maupun penyakit menular lain yang membahayakan,” ujar Tatang Wahyudin, seperti dikutip dari https://poltekkessingaparna.id. Hingga 25 Mei 2025, pemeriksaan telah menjangkau kecamatan seperti Sukarame, Sariwangi, Sodonghilir, Ciawi, Rajapolah, Cisayong, Pagerageung, Sukaresik, Kadipaten, Manonjaya, dan Cineam, dengan hasil sementara menunjukkan tidak ada hewan terinfeksi PMK.

PMK, atau foot-and-mouth disease, adalah penyakit virus yang sangat menular pada hewan berkuku belah seperti sapi dan kambing, menyebabkan luka melepuh di mulut dan kuku yang menghambat makan dan bergerak. Penyakit ini bisa menyebar melalui kontak langsung, udara, atau kontaminasi pakan, berpotensi rugikan peternak hingga miliaran rupiah. Di Tasikmalaya, di mana hewan kurban mendominasi sektor ekonomi peternakan, pencegahan PMK krusial untuk jaga rantai pasok daging aman. drh. Rita, dokter hewan DPKPP Tasikmalaya, menjelaskan, “Pemeriksaan sudah mencakup sejumlah kecamatan, antara lain Sukarame, Sariwangi, Sodonghilir, Ciawi, Rajapolah, Cisayong, Pagerageung, Sukaresik, Kadipaten, Manonjaya, hingga Cineam. Tim akan terus bergerak hingga semua titik terpantau.” Ia menambahkan bahwa pemeriksaan melibatkan tes klinis, sampel darah, dan observasi gejala seperti demam, lesu, dan luka mulut.

Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Singaparna, yang berlokasi strategis di wilayah Tasikmalaya, memainkan peran krusial dalam mendukung program ini. Sebagai politeknik vokasi kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, Poltekkes turut berkontribusi melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Teknologi Laboratorium Medis. Direktur Poltekkes Singaparna, Dr. Hj. Siti Nurhaliza, M.Kes, menyatakan bahwa lembaga ini bangga mendukung antisipasi PMK. “Pemeriksaan hewan kurban ini strategi One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Mahasiswa kami edukasi warga tentang gejala PMK pada hewan dan risiko zoonosis bagi manusia, seperti infeksi kulit dari kontak luka hewan. Kami juga dampingi uji sampel di lab kampus untuk deteksi virus cepat,” jelas Dr. Siti. Poltekkes juga sediakan layanan skrining kesehatan gratis bagi peternak, mendeteksi 50 kasus potensial infeksi sejak Mei 2025 untuk rujukan ke puskesmas.

Keberhasilan pemeriksaan ini menjadi model pencegahan wabah nasional. Di Tasikmalaya, di mana 40 persen penduduk bergantung pada peternakan, program seperti ini krusial untuk lindungi kesehatan masyarakat menjelang Idul Adha. Poltekkes Singaparna berencana perluas edukasi ke 10 kecamatan pada 2026, terintegrasi dengan surveilans zoonosis. Dengan gencaran pemeriksaan ini, Tasikmalaya bukan lagi zona rawan PMK, tapi teladan pencegahan—untuk masyarakat sehat dan aman.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita