Poltekkes Garut Perkuat Satgas Kebencanaan untuk Kelompok Rentan

Poltekkes Garut Perkuat Satgas Kebencanaan untuk Kelompok Rentan

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, semakin tangguh menghadapi ancaman bencana alam melalui penguatan Satgas Penanggulangan Bencana (Satgas Kebencanaan) untuk kelompok rentan. Pada Kamis, 15 Mei 2025, Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Tasikmalaya menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Margalaksana, Kecamatan Cilawu, sebagai bagian dari Praktik Belajar Lapangan (PBL) mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Acara ini menjadi wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian—yang bertujuan membekali mahasiswa dengan keterampilan manajemen kebidanan komunitas berbasis budaya lokal dan ilmu pengetahuan teknologi kesehatan (iptek kesehatan). Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman mahasiswa, tapi juga meningkatkan kesiapsiagaan desa terhadap bencana, khususnya untuk melindungi kelompok rentan seperti ibu hamil, menyusui, bayi, balita, dan lansia.


Kegiatan ini dipimpin oleh Bdn. Wiwin Mintarsih Purnamasari, SSiT, M.Kes, dan timnya, yang terdiri dari dosen pembimbing dan mahasiswa RPL. Dilaksanakan di Desa Margalaksana, acara ini melibatkan kader kesehatan desa, warga masyarakat, serta perwakilan Puskesmas Cilawu dengan pembimbing lapangan Bdn. Lisna Mardiah, STr.Keb. Sebagai narasumber utama, Yanti Nurwanti, S.Sos, M.Si, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, menyampaikan materi pengelolaan bencana bagi kelompok rentan. Fokus utama adalah pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana, dengan penekanan pada dampaknya terhadap kelompok rentan yang sering kali paling terdampak dalam situasi darurat seperti banjir, longsor, atau gempa yang umum di Garut.

Tujuan kegiatan ini adalah memperkaya pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam melaksanakan PBL, sekaligus mengimplementasikan teori manajemen kebidanan komunitas di lapangan. Mahasiswa diajarkan untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam pelayanan kebidanan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, berbasis budaya lokal dan iptek kesehatan. Kegiatan ini juga bertujuan membentuk lulusan yang profesional, mampu memberikan pelayanan kebidanan berkualitas tinggi, dan berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat. Di Desa Margalaksana, yang berada di daerah rawan bencana, program ini langsung relevan untuk membangun ketahanan komunitas terhadap ancaman alam.

Hasil kegiatan ini sangat positif, di mana peserta memperoleh pemahaman baru tentang kesiapsiagaan bencana. Cucu Kaswati, salah satu kader kesehatan desa di Margalaksana, berbagi pengalaman. "Kegiatan ini memberikan pengetahuan baru tentang kesiapsiagaan bencana bagi kelompok rentan. Saya akan teruskan informasi ini ke warga desa dan koordinasikan dengan aparat desa," ujarnya dikutip https://poltekkesgarut.org. Kader seperti Cucu Kaswati menjadi agen perubahan utama, memastikan pengetahuan yang didapat diterapkan secara berkelanjutan di tingkat masyarakat. Kegiatan ini juga melibatkan warga umum dan kader kesehatan desa, sehingga menciptakan jaringan dukungan yang kuat untuk mitigasi bencana di masa depan.

Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya, sebagai penyelenggara, membuktikan peran strategisnya dalam pengabdian masyarakat. Institusi ini tidak hanya mencetak tenaga kesehatan kompeten, tapi juga berkontribusi langsung pada pembangunan desa tangguh bencana. Direktur Poltekkes Tasikmalaya, Dahrizal, menyatakan bahwa kegiatan ini selaras dengan visi Kementerian Kesehatan untuk membangun ketahanan kesehatan nasional. "Penguatan Satgas Kebencanaan adalah investasi untuk lindungi kelompok rentan. Mahasiswa kami belajar sambil mengabdi, dan desa seperti Margalaksana jadi lebih siap hadapi bencana," katanya.

Ke depan, Poltekkes Tasikmalaya berencana perluas program ini ke desa-desa lain di Garut dan sekitarnya, dengan integrasi pelatihan digital untuk monitoring bencana real-time. Dengan penguatan Satgas Kebencanaan di Desa Margalaksana, Garut bukan lagi daerah rawan bencana, tapi model ketahanan komunitas—untuk masyarakat Jawa Barat yang sehat dan siap hadapi tantangan alam.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita