Kematian Akibat Covid-19 di RI Aslinya 5 Kali Lipat Angka Resmi?
logo

6 September 2021

Kematian Akibat Covid-19 di RI Aslinya 5 Kali Lipat Angka Resmi?

Kematian Akibat Covid-19 di RI Aslinya 5 Kali Lipat Angka Resmi?


GELORA.CO - Berapa jumlah orang yang meninggal akibat pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19)? Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlahnya 4.539.723 orang oer 3 September 2021 pukul 06:16 CEST (11:16 WIB). Namun bukan tidak mungkin jumlahya jauh lebih banyak dari itu.

The Economist mencoba menguak berapa sebenarnya jumlah angka kematian akibat Covid-19. Dalam riset terbarunya, The Economist menilai agak sulit untuk menentukan jumlah yang pasti.

"Berapa banyak orang yang meninggal dunia karena pandemi virus corona? Jawabannya tergantung data yang tersedia dan tergantung bagaimana Anda mendefinisikan penyebab kematian.


"Banyak orang yang meninggal karena terinfeksi virus SARS CoV-2 tidak menjalani tes sehingga tidak masuk ke penghitungan resmi. Kemudian, tidak sedikit pula yang dinyatakan meninggal karena Covid-19 sementara memiliki kondisi penyakit lain. Ada pula kondisi yang membuat semakin rumit yaitu bagaimana dengan orang yang meninggal karena terlambat mendapatkan penanganan di rumah sakit?," sebut tulisan berjudul The Pandemic's True Death Toll itu.

Di tengah berbagai kerumitan itu, The Economist berkesimpulan angka kematian akibat Covid-19 di seluruh negara bisa mencapai 15,2 juta. Ada 95% kemungkinan angka berkisar antara 9,4-18,2 juta.




The Economist mengakui bahwa ini adalah perhitungan kasar dari data di 156 negara. Dari 156 negara tersebut, hanya 84 negara dengan penduduk di atas 1 juta jiwa yang memiliki data lengkap.

Oleh karena itu, The Economist menggunakan permodelan untuk mengukur angka kematian sesungguhnya akibat Covid-19. Permodelan itu dibangun dari lebih dari 100 indikator.

Dari permodelan itu, didapati bahwa Asia adalah kawasan dengan perkiraan angka kematian tertinggi. Data resmi menunjukkan angka kematian akibat Covid-19 di Benua Kuning adalah 1.053.290 orang atau 22,5 orang per 100.000 penduduk. Namun menurut pengukuran The Economist, angkanya bisa mencapai 3,4-12 juta atau 73-250 orang per 100.000 penduduk. Selisih antara proyeksi dan data resmi mencapai 700%.



Bagaimana dengan Indonesia? Well, ini yang mengerikan...

Kementerian Kesehatan melaporkan jumlah pasien meninggal dunia akibat Covid-19 per 5 September 2021 adalah 135.861 orang. Menurut kalkulasi The Economist, jumlahnya bisa mencapai 280.000-1,1 juta orang. Artinya, ada kemungkinan angka kematian akibat Covid-19 di Tanah Air 500% lebih tinggi dari data resmi.



Baca: Terima Honor Pemakaman Covid, Kemendagri Sentil Bupati Jember
Akan tetapi, The Economist menggarisbawahi perkiraan mereka bisa saja salah menggambarkan realita di lapangan. Pertama, permodelan The Economist dibangun dengan asumsi data resmi dari pemerintah sudah akurat. Dalam perjalanan, bukan tidak mungkin pemerintah di suatu negara mengubah indiktor untuk dianggap sebagai kasus kematian akibat Covid-19. Perubahan semacam ini bisa membuat permodelan The Economist menjadi tidak reliabel.

Kedua, negara yang melaporkan angka kematian dengan rutin dan relatif akurat adalah negara-negara berpendapatan tinggi dan menengah. Oleh karena itu, permodelan The Ecconomist jadi kurang akurat untuk menggambarkan kondisi di negara-negara miskin. Hal serupa juga terjadi di negara yang sedang dilanda konflik atau bencana alam, di mana angka kematian menjadi samar-samar. (cnbc)