Jejak Semaun, Gembong PKI Menghimpun Massa di Semarang
logo

30 September 2021

Jejak Semaun, Gembong PKI Menghimpun Massa di Semarang

Jejak Semaun, Gembong PKI Menghimpun Massa di Semarang


GELORA.CO - Kepindahan Semaun dari tanah kelahirannya di Jombang, Jawa Timur ke Kota Semarang menjadi babak baru dalam perjalanan politiknya. Di kota tersebut, Semaun menjadi salah satu orang terpandang karena mempunyai pengikut yang besar.

Sekitar Juli 1916, Semaun diangkat sebagai Vereeniging van Spoor-en Tramweging Personeel in Nederlandsch-Indie (VSTP—Serikat Buruh Kereta Api dan Trem Hindia Belanda) di Surabya.

Tak lama kemudian, dia pindah ke pengurus besar VSTP di Semarang. Satu tahun kemudian, Semaun juga dipilih menjadi ketua Sarekat Islam di Semarang pada 6 Mei 1917.

"SI yang dipimpin Semaun itulah yang kelak akan menjadi SI Merah," jelas Dosen Sejarah Uneversitas Negeri Semarang (Unnes) Tsabit Azinar Ahmad, Selassa (14/9/2021).

Selain menjadi ketua SI Semarang, Semaun juga aktif dalam bidang kepenulisan. Di waktu yang sama, dia juga memimpin Sinar Djawa yang merupakan media yang dibentuk oleh SI Semarang.

Sinar Djawa yang kelak berubah nama menjadi Sinar Hindia itu diisi dengan tokoh-tokoh yang cukup mentereng seperti Mas Macro Kartodikromo dan juga Darsono.

Keuletan dan pengaruh Semaun membawa SI Semarang mempunyai basis massa yang besar di Semarang. Dalam tempo satu tahun, Semaun berhasil meningkatankan jumlah anggota SI Semarang.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1920 Semaun juga menjadi ketua Partai Komunis Indonesiia (PKI). Sebelum menjadi ketua PKI, Semaun juga kerapkali bersinggungan dengan SI pusat.

Hal itulah yang membuat SI yang dipimpin Semaun itu dijiluki sebagai SI Merah. Namun, tak lama kemudian Semaun digantikan oleh Tan Malaka karena dia berangkat ke Uni Soviet untuk menghadiri kongres.

Pada Mei 1922 Semaun dikabarkan kembali ke Hindia Belanda (Indonesia) dari Uni Soviet. Saat kembali ke Hindia Belanda kondisi Partai PKI tak begitu baik karena keterlibatan Partai PKI mendukung aksi pemogokan serikat buruh.

Dukungan PKI terhadap pemogokan buruh itu juga harus dibayar mahal, karena Tan Malak akhirnya diusir oleh Pemerintahan Hindia Belanda pada waktu itu.

"Namun pada 1923 Semaun juga ditahan karena pemogokan buruh kereta api. Setelah ditahan, Semaun diusir dan menetap di Amsterdam," paparnya.

Di Belanda, Semaun menjalin hubungan dengan Perhimpunan Indonesia yang merupakan salah satu organisasi mahasiwa Indonesia di  Belanda pada waktu itu.

Pada November 1926 dan Januari 1927 pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera pecah. Banyak orang PKI yang dibuang ke Digul, beberapa juga berhasil kabur ke Uni Soviet.

Menurutnya, di Eropa Timur Semaun dan teman-temannya mulai mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia. Terbukti beberapa negara Eropa Timur seperti Ukraina menjadi salah satu negara yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

"Jadi selain bangsa Arab, sebenarnya negara Eropa Timur juga mendukung kemerdakaan Indonesia ketika awal-awal dikampanyekan," ucapnya.

Kini, jejak Semaun masih bisa dilihat di sebuah bangunan SI yang berada di Kampung Gendong Selatan Sarirejo Semarang Timur.

Gedung tersebut menjadi saksi bisu pergerakan Semaun di Ibukota Jawa Tengah.

Gedung tersebut sudah mengalami perubahan, yang paling mencolok adalah lantainya. Gedung tersebut pernah satu kali ditinggikan.

Namun di tengah lantai bangunan tersebut ada lubang dengan ukuran 2x2 meter yang di dalamnya bertuliskan SI yang menandakan gedung tersebut benar-benar markas Sarekat Islam (SI) Merah di Semarang.

Berdasarkan arsip Kemdikbud Jawa Tengah,
bangunan yang berlokasi di Kampung Gendong Semarang ini dibangun oleh Semaun dan kawan–kawannya pada tahun beriringan yaitu tahun 1919 dan selesai pada tahun 1920.

Gedung Sarekat Islam atau Gedung Rakyat Indonesia dibangun di atas tanah wakaf salah seorang keturunan Taspirin yang menjadi anggota Sarekat Islam.
 
Pembangunan bangunan gedung didapatkan dari swadaya masyarakat berupa uang dan bahan bangunan. Tujuan didirikannya bangunan ini untuk sekolah pada siang hari dan pada malam hari digunakan untuk rapat umum Sarekat Islam.

Keberadaan SI School secara nasional diumumkan oleh Tan Malaka pada bulan Oktober dan November 1921 dalam majalah “Soeara Rakjat”.

Selanjutnya, bulan Desember 1921, dikeluarkan lagi buku kecil (brosur) tentang keberadaan sekolah tersebut. Tujuan Tan Malaka mendirikan S1 School karena dia ingin menciptakan sekolah tandingan yang menurutnya pada saat itu Politik Etis tidak etis untuk kaum kromo dan preletar.

Gedung SI Merah di Semarang menjadi bukti jejak Semaun sang pendiri PKI (suara.com/Dafi Yusuf)

Namun, kondisi bangunan bersejarah itu kini kurang terawat. Bahkan, beberapa warga sekitar tak mengetahui jika bangunan tersebut merupakan gedung bekas SI Merah di Semarang.

Ketua RW Gendong, Joko mengatakan,  gedung tersebut memang pernah disinggahi oleh beberapa tokoh nasional berhaluan kiri seperti Soekarno, DN Aidit, Tan Malaka dan Semaun.

"Kalau informasi yang pernah saya dapatkan tokoh-tokoh nasional pada radang kesini," jelasnya saat ditemui di lokasi beberapa waktu yang lalu.

Meski demikian, dia tak tau pasti seperti apa sejarah lengkapnya soal sejarah gedung tersebut. Pasalnya, banyak sesepuh kampung yang sudah meninggal akhirnya sejarahnya terpotong.

"Kalau lengkapnya seperti apa saya tak tau," ucapnya saat ditanya gedung tersebut hampir dibakar oleh tentara.

Hal itulah yang membuat mayoritas anak muda di kampung tersebut tak mengetahui jika gedung tersebut mempunyai sejarah yang panjang.

"Kalau yang orang-orang sepuh pada tau, tapi kalau anak-anak muda sekarang banyak yang tak tau," keluhnya.

Gedung SI Merah di Semarang menjadi bukti jejak Semaun sang pendiri PKI (suara.com/Dafi Yusuf)

Gedung tersebut, pernah dipugar pada 2018 karena atap bangunan tersebut sempat bocor. Bahkan, bisa dibilang gedung tersebut juga sempat tak terawat beberapa saat.

"Memang gedung ini tak ada yang menjaga, tapi kuncinya yang bawa kita," ucapnya.

Sebelum direnovasi, gedung bersejarah itu pernah dijadikan untuk tempat sekolah dasar. Selain itu, bekas gedung SI Merah itu juga pernah menjadi lokasi untuk salat Jumat.

"Di sini kan jauh masjidnya, akhirnya warga salat Jumatnya di gedung tersebut," katanya.

Dia menyebut, beberapa bangunan di gedung tersebut masih asli seperti tembok, jendela serta beberapa pintu dan jendela yang masih terpasang sampai saat ini.

"Kalau tiangnya beberapa ada yang baru, jendelanya juga tapi bentuknya masih sama semua," paparnya.[suara]
close
Subscribe