Cerita Habib Pengubur Jenazah Covid-19: Kami Tak Pernah Lihat Agama, Kami Ikhlas
logo

26 Juni 2021

Cerita Habib Pengubur Jenazah Covid-19: Kami Tak Pernah Lihat Agama, Kami Ikhlas

Cerita Habib Pengubur Jenazah Covid-19: Kami Tak Pernah Lihat Agama, Kami Ikhlas


GELORA.CO - Bagi para sukarelawan pembantu pemakaman jenazah korban Covid-19, tolerasi adalah harga mati. Nilai kemanusiaan adalah prinsip tertinggi yang senantiasa mereka junjung. Sehingga, tak peduli siapa yang mereka makamkan, agamanya, dan sebagainya. 

“Toleransi bagi sukarelawan itu harga mati. Kami memberi pertolongan tanpa memandang ras, suku, golongan, maupun agama. Pertolongan kami pun tak mengenal batal teritorial. Orang Solo meninggal di Solo tetapi jenazahnya ketemu di Sragen atau bahkan sampai Blora pun tetap kami tolong,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, Sugeng Priyono, Kamis 24 Juni 2021. 

Dalam pemakaman jenazah Covid-19 pun dari pihak keluarga bisa langsung minta bantuan sukarelawan pemakaman lewat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen atau puskesmas. 

Sugeng menyampaikan dari pihak puskesmas sudah langsung menghubungi sukarelawan jika ada jenazah Covid-19 yang perlu layanan pemakaman.

“Sukarelawan pemakaman jenazah Covid-19 banyak dan berada dari berbagai organisasi,” kata Sugeng.

Salah satunya Habib Al Haj' (26), anggota Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sragen asal Jurangjero, Karangmalang, Sragen. Hingga Kamis, pukul 11.52 WIB, Habib mencatat sudah ikut serta dalam 316 kali pemakaman jenazah Covid-19.

“Hari Kamis ini, sudah antre untuk pemakaman enam jenazah dari tujuh pasien Covid-19 yang meninggal," kata dia.

"Enam jenazah yang antre itu ada di Karangmalang, Kedawung, Masaran, Sukodono, Sumberlawang, dan Miri. Di MDMC ada 15 orang sukarelawan khusus pemakaman jenazah Covid-19,” ujar Habib.

Habib dan sukarelawan lainnya tidak pernah mengenal waktu dalam tugas kemanusiaan memakamkan jenazah pasien Covid-19. Tengah malam atau  bahkan dini hari mereka dengan sigap melakukannya.

“Dalam memakamkan jenazah, kami tidak pernah melihat keyakinan yang dimiliki jenazah. Intinya, teman-teman sukarelawan itu selalu membantu semampunya saat ada permintaan pemakaman jenazah Covid-19 tanpa memandang apa, siapa, dari golongan mana. Bahkan upah pun tak pernah terpikir. Kami ikhlas,” ujarnya. 

Sukarelawan asal Gemolong, Sukino, menyatakan hal yang sama. “Kami los mengabdi di masyarakat dan tidak kenal waktu dan tempat. Kami melayani pemakaman jenazah dengan layak dan sebaik mungkin agar keluarga yang ditinggal legawa,” katanya. []