Laporan Internal: Sentimen Anti-China Saat Ini Berada di Titik Tertinggi Sejak Insiden Lapangan Tiananmen 1989 -->
logo

5 Mei 2020

Laporan Internal: Sentimen Anti-China Saat Ini Berada di Titik Tertinggi Sejak Insiden Lapangan Tiananmen 1989

Laporan Internal: Sentimen Anti-China Saat Ini Berada di Titik Tertinggi Sejak Insiden Lapangan Tiananmen 1989

GELORA.CO - Sebuah laporan internal di China mengungkapkan, saat ini tingkat sentimen global terkait anti-China semakin meningkat, bahkan berada di titik tertinggi sejak insiden Lapangan Tiananmen 1989.

Laporan tersebut dibuat untuk Kementerian Keamanan Negara pada bulan lalu untuk memperingatkan para pemimpin Beijing, termasuk Presiden Xi Jinping.

Sebuah sumber mengatakan kepada Reuters, Selasa (5/5), laporan tersebut disusun oleh Institut Hubungan Internasional Kontemporer China (CICIR), sebuah lembaga think tank yang berafiliasi dengan Kementerian Keamanan Negara.

Reuters sendiri mengaku belum melihat laporan tersebut, tetapi mendapatkan informasi dari orang-orang yang memiliki pengetahuan langsung mengenai hal tersebut.

Ketika dikonfirmasi, jurubicara Kementerian Luar Negeri China enggan mengomentari laporan tersebut.

Sementara Kementerian Keamanan Negara dan CICIR tidak menanggapi pertanyaan yang diajukan.

Meski begitu, sumber mengungkapkan, laporan tersebut menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi Beijing, khususnya terkait dengan investasi strategisnya di luar negeri dan pandangannya terhadap keamanan.

Selain itu, laporan tersebut mengungkapkan, hubungan antara China dan Amerika Serikat saat ini berada dalam titik terburuk selama beberapa dekade. Keduanya memiliki berbagai persoalan yang semakin meningkatkan ketegangan. Mulai dari demonstrasi Hong Kong, Taiwan, Laut China Selatan, hingga yang saat ini terjadi adalah pandemik virus corona baru.

Dalam laporan tersebut, Beijing meyakini Washington ingin menahan kebangkitan China. AS memandang China sebagai ancaman ekonomi dan keamanan nasional, serta demokrasi Barat. Laporan itu juga mengatakan Amerika Serikat bermaksud melemahkan Partai Komunis yang berkuasa dengan merusak kepercayaan publik. (*)