Budi Gunawan Tidak Masuk Kabinet Jokowi, Rocky Gerung Nilai Ada Kaitannya Megawati-Prabowo di 2024

Budi Gunawan Tidak Masuk Kabinet Jokowi, Rocky Gerung Nilai Ada Kaitannya Megawati-Prabowo di 2024

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Jenderal Budi Gunawan sempat disebut-sebut masuk Kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) 2019-2024.

Namun kabar masuknya Budi Gunawan yang dianggap dekat dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri itu hanya isapan jempol.

Dilansir TribunWow.com dari channel YouTube Rocky Gerung Official pada Jumat (8/11/2019), Rocky Gerung menilai hal itu terjadi lantaran Megawati Soekarnoputri akan merasa lebih aman jika Budi Gunawan tetap menjadi Kepala Intelejen.

"Kalau saya psikolog saya akan anggap bahwa Ibu Mega merasa lebih aman bila Pak BG (Budi Gunawan) tetap ada di wilayah Intelejen," ungkap Rocky Gerung.

Pasalnya, jika Budi Gunawan masuk Kabinet Jokowi maka harus ada pengganti dari Jenderal tersebut.

Sedangkan, hubungan PDIP dengan Budi Gunawan dianggap sudah sangat intensif.

"Masuk akal karena kalau Pak BG masuk mestinya ada orang yang menggantikan posisi BG yang secara psikologi dengan Megawati karena tradisi hubungan antara PDIP dengan intelejen dibangun sangat intensif melalui Pak BG."

"Jadi mungkin saya, Pak BG membaca hal yang sama, dan bersama-sama menginventasikan harapan itu 2024," jelas Rocky Gerung.

Apalagi, di dalam Kabinet Jokowi kini sudah ada Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang disebut juga memiliki kedekatan dengan Megawati.

Megawati dianggap sudah mendapatkan rasa aman yang nyata dari Prabowo Subianto.

"Jadi semata-mata, bagi saya ya semata-mata karena kedekatan bukan emosional ya, kedekatan kepentingan untuk punya rasa aman, tentu Ibu Mega merasa aman karena beliau katakan dia dekat dengan Prabowo," kata dia.

Budi Gunawan dianggap akan mengamankan Megawati secara sembunyi-sembunyi.

"Dan Prabowo ada di Kabinet mengurus hal-hal yang berhubungan dengan keamanan, tapi keamanan itu kan keamanan riil yang dipegang oleh Prabowo, keamanan yang tidak riil ada pada BG," ungkap dia.

Selain itu, Prabowo Subianto juga sengaja dimasukkan ke dalam Kabinet Indonesia Maju demi memuluskan jalannya dalam Pemilihan Presiden 2024.

"Jadi Bu Mega merasa aman karena ada yang mengamankan dia secara fisik yaitu Prabowo, orang akan anggap ya pasti Prabowo soal pertahanan bangsa yang kuat bertahan itu memungkinan bangsa ini melanjutkan kepemimpinan 2024, dan Megawati ada dalam rencana itu," duga Rocky Gerung.

Sekali lagi, Rocky Gerung menyimpulkan bahwa Megawati mendapat keamanan secara terang-terangan melalui Prabowo Subianto, sedangkan secara sembunyi-sembunyi melalui Budi Gunawan.

"Tapi rasa aman material itu hanya diperoleh melalui kemampuan teknoratik dari Prabowo, tapi rasa aman psikologis datang dari bidang intelejen, dan pak BG pasti akan suplai rasa aman itu pada Ibu Mega," katanya.

Lihat videonya mulai menit ke-4:16:



Pada kesempatan tersebut,  Rocky Gerung turut mengomentari jumlah kursi yang didapat PDIP dalam susunan Kabinet Indonesia Maju.

Sedangkan, dalam susunan Kabinet Indonesia Maju hanya ada lima menteri dari PDIP.

"Saya kira mustinya PDIP yang kini beroposisi kan, karena dia banyak di MPR tapi sedikit di kabinet," kata Rocky Gerung.

Dengan demikian, Rocky Gerung menganggap bahwa Jokowi tidak ingin diatur oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Kendati demikian, Megawati masih bisa dianggap mendikte Jokowi melalui banyaknya fraksi PDIP di MPR.

"Jadi logika itu menerangkan, Jokowi berupaya untuk tidak didikte oleh Ibu Megawati tapi Ibu Megawati juga bisa baca bahwa saya juga bisa mendikte presiden melalui fraksi di DPR itu," terangnya.

Sehingga, menurutnya akan ada semacam perselisihan di dalam kelompokm antara Jokowi dengan Megawati meski tidak secara jelas di depan publik.

"Jadi akan ada permainan dua arah yang berlawanan itu, kekesalan Ibu Mega pasti akan termanifestasi pada kritik fraksi PDIP terhadap kebijakan walaupun itu tidak mungkin frontal."

"Tapi itu akan diperlihatkan karena soal psikologi orang yang atau diabaikan oleh petugas partainya," ungkap Rocky Gerung.

Rocky Gerung menilai, PDIP memang berhak mendapat jatah menteri lebih banyak.

"Dan itu relatif menyakiti Megawati itu sebetulnya, karena Megawati berhak minta banyak karena bagaimanapun memang Jokowi adalah kader partai walaupun dia dipilih rakyat, dia nggak bisa andalkan karena rakyat memilih maka saya akan bisa menunda permintaan partai," terang pengamat politik asal Manado ini.

Ia mengaku setuju PDIP meminta jatah kursi menteri lebih banyak, namun Rocky Gerung juga mengkritiki permintaan Megawati soal kursi menteri pada waktu kongres partai di Bali beberapa waktu lalu.

"Saya kritik memang Megawati waktu di Bali karena Megawati seolah-olah memeras Jokowi di forum PDIP, itu kan kongres partai, Bu Megawati naik panggung dan minta kabinet dan dia sebutin 12 apa segala macam itu tidak etis."

"Kalau minta bisa di belakang layar bukan justru di forum rumah tangganya sendiri, saya kritik itu," kritiknya.

Lantas, Rocky Gerung menyimpulkan bahwa Jokowi kini tengah membangun kuasanya sendiri tanpa didikte Megawati.

"Nah sekarang terlihat permintaan Mega diabaikan oleh Jokowi, dengan kata lain kita tahu bahwa Pak Jokowi juga ingin bikin dinasti sendiri," ujarnya.[tn]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita