Hidangkan Sesajen untuk Penguasa Laut Palu, Ritual Pemuja Setan Dikecam
logo

7 Oktober 2018

Hidangkan Sesajen untuk Penguasa Laut Palu, Ritual Pemuja Setan Dikecam

Hidangkan Sesajen untuk Penguasa Laut Palu, Ritual Pemuja Setan Dikecam


GELORA.CO - Belasan warga melakukan ritual untuk memuja penguasa laut Palu di Pantai Talise, Mantikulore, Palu Timur, Sulawesi Tengah.

Warga menghidangkan aneka macam nasi, pisang, dan seekor ayam hidup. Sesajen tersebut dipersembahkan untuk penguasa laut Palu yang dianggap sebagai penyebab tsunami.

Sesajen disiapkan untuk tolak balak. Mereka meyakini bahwa pemberian sesajen kepada penguasa laut Palu akan menghindarkan warga dari bahaya.

Ritual tersebut dipimpin oleh seorang nenek yang diperkirakan berusia sekitar 80 tahun. Ia berdiri tergopoh-gopoh dibantu beberapa orang menuju ke tepi laut untuk memimpin ritual.

Pemberian sesajen itu menuai reaksi dari berbagai kalangan. Tak sedikit warga mengecam ritual tersebut karena dianggap musyrik alias menyekutukan Allah.

Warga menghidangkan sesajen untuk penguasa laut Palu

Sehari setelah video tersebut viral, ratusan warga langsung menggelar zikir dan doa bersama di lokasi yang sama. Kegiatan tersebut diakhiri dengan shalat gaib, Jumat (5/10/2018).

“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya agar orang mengetahui kebesaran-Nya untuk segera sadar atas apa yang sudah diperbuatnya,” ujar Tokoh Masyarakat Palu, Abdurahman.

Zikir dan doa dilakukan di dekat lokasi terparah akibat bencana gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala pada Jumat, 28 September 2018.

“Mudah-mudahan Allah SWT memberikan perlidunganya kepada seluruh warga kota. Gelaran zikir di pusatkan di Anjungan Talise, karena lokasi tersebut banyak menelan korban jiwa meninggal dunia,” katanya.

Ritual pemuja setan ditolak warga

Selain melaksanakan zikir dan doa bersama, sebagian warga mengecam ritual pemuja setan di Palu. Mereka pun memasang spanduk bertuliskan penolakan terhadap ritual Balia yang dianggap syirik.

“Kami masyarakat Sulteng menolak ritual sirik (Balia) pemuja setan,” demikian isi spanduk yang dibentangkan para santri di dekat pantai.


[psid]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...