Tahanan Kasus Terorisme di Lapas Gunung Sindur Meninggal Dunia
logo

21 Juli 2018

Tahanan Kasus Terorisme di Lapas Gunung Sindur Meninggal Dunia

Tahanan Kasus Terorisme di Lapas Gunung Sindur Meninggal Dunia


GELORA.CO - Seorang tahanan lapas Gunung Sindur meninggal dunia dan dikembalikan pada keluarganya di Bima, Nusa Tenggara Barat. Lapas ini dikenal sebagai lapas berpenjagaan ketat karena di dalamnya juga terdapat ulama kharismatik Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Yaser bin Thamrin (30 tahun), seorang narapidana yang didakwa dengan kasus terorisme meninggal dalam tahanan penjara super maximum security LP Gunung Sindur, Bogor.

Pihak kerabat, yang enggan mengungkapkan identitasnya demi alasan keamanan mengatakan kepada Kiblat.net bahwa Yaser telah dimakamkan oleh pihak keluarga di Kelurahan Penatoi, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat pada Jumat, (20/07).

Sebelumnya, para kerabat dan teman-teman satu sel dengan Yaser di dalam Lapas Gunung Sindur mengaku tidak ada yang tahu kapan kepastian waktu meninggal dan apa penyebab kematian almarhum.

Namun, salah seorang keluarga korban mengatakan bahwa penjelasan dari pihak kepolisian, Yaser meninggal karena penyakit liver.

“Yang jelas saat diambil (polisi, red) dalam keadaan sehat. Keluarga kaget juga saat Selasa malam pihak kepolisian mengabarkan bahwa Yaser sudah meninggal,” katanya saat dihubungi Kiblat.net melalui sambungan telepon.

Jenazah almarhum dipulangkan ke rumah duka pada Jumat (20/07) dengan pesawat terbang dan langsung dimakamkan selepas shalat ashar. Ibu dan bibi Yaser turut mengikuti proses pengambilan jenazah dan menyertai almarhum saat dipulangkan.

Yaser bin Tahmrin diduga aparat terlibat dalam kasus penembakan dua polisi di Bima, yaitu Bripka Zaenal dan Bripka Gofur, pada 11 September 2017 lalu.

Yaser tidak terlibat langsung dalam kasus itu, namun menurut polisi, Yaser bin Thamrin dan Arkam ditangkap Densus 88 karena keterlibatan mereka dalam pelatihan fisik yang dilakukan pada internal JAT Bima.

Menurut keluarga, Yaser dikenal sebagai sosok yang ramah dan murah senyum. Dia merupakan lulusan salah satu PTN di kota Mataram, NTB dan pernah menjabat sebagai ketua mahasiswa pecinta alam (Mapala) selama satu periode di kampusnya.

Kasus kematian tahanan kasus terorisme, sudah kedua kalinya terjadi dalam satu bulan terakhir. Yang paling terakhir ialah kasus meninggalnya Ustadz Basri di LP Nusakambangan pada Sabtu, 7 Juli 2018. [kiblat]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...