logo

9 Juli 2018

Gerindra: Cukup Sudah Meninabobokan Rakyat dengan Pernyataan-pernyataan yang Tidak Berbobot

Gerindra: Cukup Sudah Meninabobokan Rakyat dengan Pernyataan-pernyataan yang Tidak Berbobot


GELORA.CO - Partai Gerindra turut menanggapi nilai tukar rupiah terhadap dollar yang masih melemah.

Dilansir TribunWow.com, hal tersebut mereka sampaikan melalui akun Twitter @Gerindra yang diunggah pada Senin (9/7/2018).

Gerindra mengatakan apabila pelemahan Rupiah telah melewati target APBN 2018 di mana nilai tukar Rp 13.400 per dollar AS.

Gerindra menyebut apabila pelemahan rupiah berdampak pada industru makanan dan minuman, yang membuat para pelaku usaha semakin kesulitan.

Mereka kemudian mengatakan jika pernyataan rupiah melemah bukanlah sebuah masalah adalah pernyataan yang aneh.

Menurut Gerindra, pelemahan rupiah menyebabkan pelaku industri terpaksa menaikkan harga produk mereka agar tidak tergerus.

Lebih lanjut, Gerindra kemudian melontarkan sindiran kepada pemerintah yang dianggap memberi pernyataan tak berbobot.

"1. Kurs Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat belum beranjak dari Rp 14.400 per USD.

Nilai tukar ini telah melewati target Pemerintah dalam APBN 2018 sebesar Rp 13.400 per USD.

Bahkan kita masih inget "Jokowi presiden Dollar tembus Rp. 10.000"

2. Pelemahan Rupiah tersebut sangat berdampak terhadap industri makanan dan minuman (mamin) dan membuat susah para pelaku industri tersebut.

3. Jadi sangat aneh jika ada pernyataan bahwa pelemahan Rupiah saat ini bukanlah sebuah masalah, terlebih hal tersebut dinyatakan oleh orang yang tidak berkompetensi atau bertupoksi dibidang ekonomi.

4. Seharusnya Pemerintah sadar, bahwa para pelaku industri makanan dan minuman sudah terlanjur mengikuti APBN Rp. 13.600.

Tapi, ternyata sudah 14.000 sudah melewati, dan terancam menuju Rp. 15.000.

Dan itu sangat berdampak pada industri mamin.

5. Akibat dari pelemahan Rupiah ini, para pelaku industri mamin tengah mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual.

Langkah ini diambil untuk menutupi hasil keuntungan dari penjualan (margin).

6. Pelemahan Rupiah tersebut mempunyai pengaruh terhadap bahan pokok hingga 4 sampai 6 persen, tergantung industrinya, jenis bahan kategori pangannya apa.

Semakin besar ketergantungan impornya semakin tinggi harga kenaikan pokok produksinya.

7. Para pelaku industri mamin terpaksa menaikkan harga agar marginnya tidak tergerus.

Tapi apakah dengan menaikan harga pasar kuat?

apakah daya beli mendukung?

Jadi inilah dampak dari pelemahan Rupiah yang harus dipahami oleh elite bangsa ini.

8. Cukup sudah meninabobokan rakyat dengan pernyataan-pernyataan yang tidak berbobot.

'Rupiah melemah, tidak masalah.

Daging mahal, makan keong sawah. Cabai mahal, tanam sendiri,'" tulis Gerindra.


Diberitakan Kompas.com, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S Lukman menyebut jika pelemahan rupiah membuat anggotanya keteteran.

Menurutnya, para pelaku industri makanan dan minuman hanya memprediksi batas nilai tukar rupiah di kisaran Rp 13.600 sampai Rp 14.000 saja.

"Kita sebenarnya ingin stabil. Tapi kalau tahun ini terlanjur mengikuti APBN patokannya 13.600. Tapi, biasanya industri ada toleransinya 14.000. Tapi, ternyata 14.000 sudah melewati, ancamannya masih terjadi. Makanya saya katakan industri ini lagi hitung-hitungan," kata Adhi, Sabtu (7/7/2018).

Untuk mempertahankan bisnis mereka pun terpaksa menaikkan harga jual.

"Saya perkirakan pengaruhnya terhadap bahan pokok sekitar 3 sampai 6 persen, tergantung industrinya, jenis bahan kategori pangannya apa. Semakin besar ketergantungan impornya semakin tinggi harga kenaikan pokok produksinya. Ini kita sedang me-review apakah perlu naik harga pokoknya atau tidak," imbuh Adhi.

Selain menaikkan harga jual, mereka juga tengah mengkaji beberapa upaya lain, seperti mengganti bahan baku dan kemasan.

"Kalau kita naikkan harga agar margin-nya tidak tergerus, apakah pasar kuat, apakah daya beli mendukung, dan ini lagi hitung-hitungan. Masing-masing bisnis sedang mempertimbangkan itu," lanjut Adhi.

Meski rupiah terus terupuruk, Adhi menyebut jika ia belum mendapat laporan jika ada pelaku industri yang sampai gulung tikar akibat hal itu.[tribun]

Loading...
loading...