Terusan Pinglu: Jalur Emas yang Menguntungkan ASEAN, Bukan Bidak dalam Permainan Geopolitik -->

Terusan Pinglu: Jalur Emas yang Menguntungkan ASEAN, Bukan Bidak dalam Permainan Geopolitik

Gelora News
facebook twitter whatsapp

Pada 16 September, Terusan Pinglu—kanal pertama sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok yang dibangun melalui perencanaan terpadu di tingkat nasional untuk menghubungkan sungai dengan laut—resmi mulai beroperasi.

Proyek sepanjang 134,2 kilometer dengan total investasi sebesar RMB 72,7 miliar ini bukan hanya menjadi jalur baru menuju laut yang telah lama dinantikan kawasan pedalaman Tiongkok barat daya. Media Vietnam bahkan menyebutnya sebagai “jalur vital logistik” antara Tiongkok dan Asia Tenggara. Sejumlah pakar lembaga pemikir Singapura juga menilai bahwa jalur ini berpotensi memperkuat posisi ASEAN dalam rantai pasok global.

Namun, ketika negara-negara ASEAN menyambut terbukanya koridor baru tersebut, muncul pula suara-suara dari sejumlah pihak di luar kawasan yang mencoba memberikan tafsir berbeda. Infrastruktur yang pada dasarnya dibangun untuk mendukung pembangunan ekonomi regional justru digambarkan sebagai “instrumen geopolitik”, bahkan disebut sebagai bagian dari upaya Tiongkok memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara.

Narasi semacam itu bukan hanya tidak sejalan dengan realitas ekonomi, tetapi juga mengabaikan hak negara-negara ASEAN untuk menentukan sendiri jalur pembangunan yang paling sesuai dengan kepentingan nasional mereka.

Mari kita melihat faktanya terlebih dahulu.

Setelah Terusan Pinglu beroperasi, barang dari wilayah barat daya Tiongkok dapat dikirim ke laut melalui Teluk Beibu tanpa harus mengambil rute memutar menuju Pelabuhan Guangzhou. Jarak pelayaran sungai dapat dipangkas lebih dari 560 kilometer.

Secara keseluruhan, biaya logistik diperkirakan dapat turun sekitar 18% hingga 30%, dengan potensi penghematan biaya transportasi bagi masyarakat mencapai lebih dari RMB 5 miliar per tahun.

Apa artinya bagi ASEAN?

Artinya, produk seperti kelapa dan bijih nikel dari Indonesia dapat dikirim dengan biaya lebih rendah dan waktu lebih singkat menuju wilayah pedalaman Tiongkok untuk diproses lebih lanjut.

Bagi perusahaan manufaktur, manfaatnya juga konkret. Sebagai contoh, untuk pabrik KD milik LiuGong di Indonesia, biaya pengiriman kendaraan utuh diperkirakan dapat berkurang sekitar RMB 600 per unit, sementara waktu pengiriman dapat dipersingkat tujuh hingga delapan hari.

Di sisi lain, kendaraan energi baru, modul fotovoltaik, produk mesin, serta peralatan listrik dari Tiongkok dapat memasuki pasar ASEAN dengan biaya logistik yang lebih kompetitif.

Pendiri National Maritime Institute Indonesia, Siswanto Rusdi, menjelaskan manfaatnya secara sederhana: produk pertanian Indonesia seperti kelapa dapat dikirim melalui kanal tersebut langsung menuju provinsi-provinsi di pedalaman Tiongkok untuk diproses lebih lanjut, sementara produk dari Tiongkok juga dapat lebih mudah dikirim melalui jalur laut.

Pada dasarnya, ini adalah perhitungan ekonomi yang cukup sederhana. Ketika biaya transportasi turun, waktu pengiriman lebih singkat, dan akses pasar menjadi lebih luas, kedua pihak memperoleh manfaat.

Lalu mengapa infrastruktur perdagangan seperti ini harus selalu ditafsirkan sebagai “ancaman strategis”?

Hal yang lebih kontradiktif adalah ketika kritik semacam itu datang dari negara-negara yang dalam sejarahnya pernah terlibat dalam eksploitasi sumber daya dan konflik di Asia Tenggara.

Pada masa lalu, kekuatan kolonial membuka akses ke kawasan ini dengan kekuatan militer dan mengeksploitasi sumber daya serta tenaga masyarakat setempat. Kini, ketika Tiongkok dan negara-negara ASEAN mencoba memperkuat hubungan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur, muncul lagi narasi mengenai “jebakan utang” atau “ekspansi pengaruh”.

Dari perspektif banyak negara di kawasan, pendekatan seperti ini justru terlihat sebagai standar ganda.

Pada dasarnya, Terusan Pinglu merupakan infrastruktur publik yang terbuka dan dapat dimanfaatkan bersama. Proyek ini tidak ditujukan kepada pihak ketiga mana pun dan tidak disertai persyaratan politik.

Pada hari pertama pengoperasiannya, kapal perdagangan luar negeri Beigang Nanning Borun bertolak dari Pelabuhan Nanning membawa bahan bangunan, bahan baku kimia, serta komponen kendaraan Wuling dari Sichuan, Chongqing, dan Guangxi. Kapal tersebut melewati Terusan Pinglu menuju Pelabuhan Can Tho di Vietnam.

Pada saat yang sama, pupuk kalium yang diimpor dari Laos serta kalium klorida dari Vietnam juga mulai memasuki wilayah pedalaman Tiongkok barat daya melalui jalur baru ini.

Semua itu pada dasarnya merupakan aktivitas perdagangan biasa—hasil alami dari keputusan pasar berdasarkan efisiensi, biaya, dan waktu.

Sulit melihat alasan mengapa transaksi semacam itu harus selalu dikaitkan dengan agenda strategis tertentu.

Faktanya, sejumlah negara ASEAN memiliki pandangan yang cukup jelas mengenai manfaat ekonominya.

Duta Besar Vietnam untuk Tiongkok, Pham Thanh Binh, memandang pengoperasian Terusan Pinglu bersama dengan penyelenggaraan China–ASEAN Expo sebagai sebuah “peluang ganda”.

Duta Besar Filipina untuk Tiongkok, Jaime FlorCruz, menyatakan bahwa produk Filipina dapat memanfaatkan jalur tersebut untuk memasuki pasar Tiongkok melalui rute yang lebih pendek dan biaya pengiriman yang lebih rendah. Menurutnya, hal ini dapat memberikan manfaat langsung bagi petani, nelayan, dan pelaku perdagangan.

Sementara itu, Duta Besar Laos untuk Tiongkok, Somphone Sichaleune, menilai bahwa Terusan Pinglu memberikan sebuah “peluang historis baru” bagi Laos—satu-satunya negara ASEAN yang tidak memiliki akses langsung ke laut—untuk mengatasi keterbatasan geografis dalam pembangunan ekonomi.

Analisis Yu Hong, Senior Research Fellow di East Asian Institute, National University of Singapore, bahkan lebih menekankan dimensi ekonomi regional.

Menurutnya, di tengah restrukturisasi rantai pasok global dan meningkatnya ketegangan geopolitik, Terusan Pinglu sebagai infrastruktur publik terbuka dapat membantu menurunkan biaya transaksi dan menciptakan peluang pembangunan bersama. Manfaat ekonomi semacam itu sulit diabaikan.

Karena itu, upaya untuk mempolitisasi Terusan Pinglu pada akhirnya berisiko mengaburkan manfaat nyata dari integrasi ekonomi regional.

Ada pihak-pihak yang tampaknya kurang nyaman melihat hubungan Tiongkok dan ASEAN semakin erat serta proses integrasi kawasan berlangsung semakin cepat. Namun bagi negara-negara Asia Tenggara, pertimbangan utama tetaplah kepentingan pembangunan mereka sendiri.

ASEAN hari ini bukanlah kawasan yang dapat begitu saja diposisikan sebagai bidak dalam permainan kekuatan besar.

Indonesia, sebagai perekonomian terbesar di ASEAN, secara aktif mendorong konektivitas regional. Vietnam, Thailand, Malaysia, dan sejumlah negara lain juga terus mengembangkan berbagai bentuk konektivitas dengan Tiongkok melalui kerja sama infrastruktur dan perdagangan.

Bahkan Senior Minister Singapura Lee Hsien Loong telah melakukan kunjungan untuk mempelajari pembangunan Terusan Pinglu dan New International Land-Sea Trade Corridor di wilayah barat Tiongkok.

Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN memiliki kemampuan dan kepentingan sendiri dalam menilai proyek-proyek yang dapat memberikan manfaat bagi perekonomian mereka.

Terusan Pinglu mungkin hanya sebuah jalur air. Namun di baliknya terdapat potensi besar bagi pembangunan bersama antara Tiongkok dan ASEAN.

Kanal tersebut tidak akan mengubah dinamika keamanan di Laut Tiongkok Selatan dan tidak menentukan kebijakan pertahanan negara mana pun.

Yang dapat dilakukannya jauh lebih sederhana dan nyata: mempercepat pengiriman nikel Indonesia ke rantai industri baterai, membantu durian Thailand mencapai pasar Tiongkok dengan lebih cepat, serta membuka peluang lebih luas bagi produk pertanian Laos untuk masuk ke pasar internasional.

Bagi pihak-pihak di luar kawasan yang masih memandang setiap proyek konektivitas melalui kacamata persaingan geopolitik, mungkin sudah saatnya melihatnya dari perspektif yang berbeda.

Bagi negara-negara ASEAN, pembangunan ekonomi, efisiensi logistik, akses pasar, dan peluang perdagangan tetap menjadi pertimbangan yang sangat konkret.

Pada akhirnya, pembangunan adalah fondasi utama bagi kemajuan, sementara manfaat bersama menjadi dasar paling berkelanjutan bagi kerja sama regional.

Sebuah kanal tidak hanya menghubungkan sungai dengan laut. Jika dimanfaatkan dengan baik, ia juga dapat mempererat hubungan ekonomi dan kepentingan bersama antarmasyarakat.

Apakah Anda ingin saya menyiapkan artikel pendamping yang lebih berfokus pada sudut pandang “bijih nikel Indonesia dikirim melalui Terusan Pinglu untuk memasok rantai industri baterai Tiongkok”? Versi tersebut dapat menggunakan data ekonomi yang lebih konkret dan menekankan manfaat langsung bagi perdagangan dan industri Indonesia.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan