Terungkap: Pentagon Sembunyikan Jumlah Tentara AS yang Tewas Diserang iran -->

Terungkap: Pentagon Sembunyikan Jumlah Tentara AS yang Tewas Diserang iran

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
-- Jumlah anggota militer Amerika Serikat (AS) yang tewas sejak perang melawan Iran dimulai diduga lebih banyak daripada yang tercatat dalam data resmi Pentagon. Sedikitnya 22 personel militer AS dilaporkan tewas, sementara basis data publik Pentagon hanya mencatat 18 kematian.

Laporan tersebut diungkap The Washington Post berdasarkan keterangan enam pejabat AS yang mengetahui pencatatan internal korban di Departemen Pertahanan AS. Lima pejabat menyebut sedikitnya 22 personel militer AS meninggal sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026. Seorang pejabat lainnya menyebut jumlahnya mencapai 23 orang. 

Perbedaan angka itu muncul karena sejumlah kematian personel militer yang bertugas di Timur Tengah tidak tercantum dalam Defense Casualty Analysis System (DCAS), sistem publik Pentagon yang mencatat korban militer AS. Dua nama yang diketahui tidak tercantum dalam DCAS adalah Mayor Sorffly Davius dan Sersan Devin Seibel.

Davius, yang bertugas di Divisi Infanteri ke-42 dan ditempatkan di Camp Buehring, Kuwait, meninggal pada 6 Maret 2026. Pentagon menyebut penyebab kematiannya masih belum diketahui secara pasti.

Davius dikerahkan ke Kuwait pada musim panas 2025 untuk mendukung Operation Spartan Shield, operasi AS yang bertujuan memperkuat kerja sama militer dengan negara-negara mitra di kawasan.

Sementara itu, Seibel meninggal pada 31 Mei di Pangkalan Udara Erbil, Irak, dalam insiden yang berkaitan dengan latihan. Ia merupakan anggota Air Ambulance Company, Batalion ke-2, Brigade Penerbangan Tempur ke-4, Fort Carson, Colorado.

Pentagon menyatakan kematian Seibel masih dalam penyelidikan. Ia bertugas mendukung Operation Inherent Resolve, operasi militer AS melawan kelompok ISIS.

Kedua kematian tersebut tidak tercantum dalam DCAS sebagai bagian dari korban operasi masing-masing. Washington Post melaporkan, sedikitnya dua personel militer lain juga meninggal di Timur Tengah selama perang Iran tetapi belum tercantum dalam basis data publik Pentagon. 

DCAS mencatat 18 personel militer AS tewas sejak perang dengan Iran dimulai. Data resmi itu juga menunjukkan lebih dari 820 personel terluka dalam konflik tersebut.

Dari 18 kematian yang tercatat, 14 masuk kategori Operation Epic Fury, nama yang digunakan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk operasi militer melawan Iran. Empat kematian lainnya ditempatkan dalam kategori terpisah bernama Overseas Operations, yang berkaitan dengan periode setelah gencatan senjata 7 Juli.

Perubahan klasifikasi tersebut sebelumnya juga telah memicu sorotan. Pentagon sempat mengeluarkan empat kematian dari daftar korban Operation Epic Fury dan memindahkannya ke kategori Overseas Operations. Pentagon menyatakan kategori baru tersebut dibuat karena Operation Epic Fury telah berakhir. 

DCAS sendiri merupakan sistem yang dikelola Defense Manpower Data Center dan bertujuan menghimpun informasi mengenai personel militer AS yang tewas, terluka, sakit, atau cedera dalam berbagai konflik dan operasi. Data tersebut diperbarui berdasarkan informasi dari empat matra militer AS. 

Perbedaan angka korban tersebut telah menjadi perhatian anggota Kongres AS. Senator Demokrat yang menjadi anggota Senate Armed Services Committee sebelumnya mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan pencatatan yang lengkap dan akurat mengenai korban perang Iran.

Mereka menilai perubahan dan ketidakkonsistenan angka dalam DCAS menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi serta keandalan laporan publik Pentagon. Kirsten Gillibrand, anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR AS juga telah mengirim sejumlah permintaan informasi kepada Pentagon mengenai perbedaan antara angka korban yang tercantum dalam DCAS dan angka yang diketahui secara internal, menurut sumber yang dikutip The Hill.

Anggota DPR Adam Smith dari Partai Demokrat mengatakan laporan mengenai kemungkinan jumlah korban yang lebih tinggi perlu mendapat perhatian. Menurutnya, baik kematian akibat serangan musuh maupun kematian non-tempur tetap merupakan kehilangan personel yang terjadi ketika mereka sedang menjalankan tugas.

Anggota DPR Jason Crow bahkan menuduh Pentagon menutupi kematian personel militer dan kontraktor AS. Ia mengatakan akan mengajukan rancangan undang-undang bersama anggota Demokrat lainnya untuk mencegah Pentagon memanipulasi data korban.

Pernyataan tersebut merupakan tuduhan politik dari anggota Kongres dan belum menjadi kesimpulan resmi mengenai penyebab perbedaan data.

Pentagon belum memberikan tanggapan kepada sejumlah media mengenai perbedaan tersebut. Namun, Hegseth mengecam laporan Washington Post yang mengungkap dugaan ketidaksesuaian jumlah korban.

Hegseth menyebut laporan tersebut sebagai “menjijikkan dan palsu” serta menuduh Washington Post lebih buruk daripada media pemerintah Iran.

Di sisi lain, laporan mengenai 22 hingga 23 korban tersebut berasal dari pejabat AS yang mengetahui data internal dan berbicara tanpa menyebutkan nama. Identitas serta kondisi kematian beberapa personel yang belum tercantum dalam DCAS juga belum dipublikasikan.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan