Tenaga Ahli KSP Curiga Teknologi HAARP AS Penyebab Gunung Erupsi Saat Prabowo Bertemu Putin -->

Tenaga Ahli KSP Curiga Teknologi HAARP AS Penyebab Gunung Erupsi Saat Prabowo Bertemu Putin

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO
- Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ulta Levenia Nababan soal kemungkinan “faktor lain” di balik erupsi enam gunung api Indonesia memicu perdebatan tajam. Ia menyinggung proyek penelitian ionosfer HAARP di Amerika Serikat dan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, meski ia sendiri mengakui tidak ada bukti ilmiah kredibel.

Enam gunung yang erupsi hampir bersamaan pada 31 Agustus 2026 adalah Gunung Ibu (Maluku Utara), Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok (NTT), Semeru (Jawa Timur), Anak Krakatau (Selat Sunda), dan Sinabung (Sumatera Utara). Aktivitas beberapa gunung berlanjut hingga awal September, termasuk episode erupsi Anak Krakatau yang mengganggu penerbangan.

PVMBG Badan Geologi menegaskan erupsi itu independen. Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan setiap gunung punya “dapur” magma sendiri. Indonesia berada di Cincin Api Pasifik dengan 127 gunung api aktif, sehingga erupsi pada hari yang sama tidak otomatis saling memicu atau disebabkan satu proses geologi regional. Tidak ditemukan bukti satu pemicu bersama.

Pakar kebencanaan Daryono juga menolak narasi rekayasa teknologi. Energi erupsi berasal dari tekanan magma jauh di dalam kerak Bumi. Tidak ada gelombang elektromagnetik atau senjata buatan manusia yang mampu mengubah tekanan magma bersuhu ratusan hingga ribuan derajat Celsius di kedalaman puluhan kilometer. klaim semacam itu, menurutnya, mengabaikan ilmu kebumian.

Ulta menulis di media sosial bahwa otak skeptisnya “menghibur” kemungkinan HAARP, proyek yang sering dikaitkan teori konspirasi pengendalian cuaca atau gempa. Ia juga bertanya mengapa enam gunung erupsi sehari setelah pertemuan Prabowo-Putin di Vladivostok. Ia menyebut pemikirannya bisa dicap konspirasi, tetapi tetap mempertanyakan penjelasan “lumrah”.

Presiden Prabowo sendiri dalam rapat penanganan bencana menyebut rangkaian bencana sebagai “takdir” negara yang berada di Ring of Fire, bukan rekayasa.

Komentar netizen yang menohok


Pernyataan itu langsung dibalas pedas di media sosial. Beberapa yang beredar:

“Giliran kritik pemerintah harus pakai data dan fakta. Tapi giliran badan komunikasi RI boleh bikin teori konspirasi nggak berdasar.”

“Alam aja kena fitnah si mbak.”

“Sebelum ada data dan bukti ilmiah kuat, sebaiknya menahan diri beropini.”

Pendiri Kaskus Andrew Darwis juga mengingatkan publik membedakan spekulasi konspirasi dengan fakta geologi: gelombang HAARP tidak menembus kerak Bumi untuk memicu gempa atau erupsi.

HAARP adalah fasilitas riset ionosfer di Alaska. Gelombang radionya tidak diserap lapisan atmosfer tempat cuaca terjadi, apalagi kerak Bumi tempat magma bergerak. Klaim bahwa fasilitas itu bisa “mengatur” gunung di Indonesia tidak didukung data ilmiah.

Fenomena erupsi beruntun memang mengkhawatirkan dan mengganggu penerbangan serta aktivitas warga. Namun penjelasan resmi tetap sama: ini dinamika alami Cincin Api, bukan alat antek asing. Spekulasi tanpa bukti justru menambah kebisingan di saat publik butuh informasi mitigasi yang akurat.
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan