Sejumlah Gunung Api Meletus Bersamaan, Ini Dugaan Profesor BRIN -->

Sejumlah Gunung Api Meletus Bersamaan, Ini Dugaan Profesor BRIN

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Sejumlah Gunung Api Meletus Bersamaan, Ini Dugaan Profesor BRIN

GELORA.CO -
Fenomena sejumlah gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi atau peningkatan aktivitas dalam waktu berdekatan tidak serta-merta menunjukkan bumi sedang berada dalam kondisi kritis secara global. Profesor Riset BRIN Prof. Danny Hilman Natawidjaja mengatakan kemunculan aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah pada periode yang sama masih dapat dijelaskan sebagai kebetulan statistik.

Pernyataan tersebut disampaikan Danny ketika ditanya mengenai fenomena beberapa gunung api yang saat ini mengalami aktivitas erupsi secara bersamaan.

"Bisa saja ada satu kebetulan statistik dari siklus gunung api yang kebetulan sekarang itu beberapa lagi saatnya ada pelepasan energi, pelepasan magma, pelepasan energi, dan lain-lain,” katanya, Senin (7/9/2026). 

Menurut Danny memang terdapat berbagai mekanisme tektonik dan vulkanik yang secara teori dapat memicu perubahan pada sistem bumi secara lebih luas. Namun, berdasarkan pengalaman akademis dan data yang tersedia, belum terdapat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa saat ini bumi sedang memasuki periode kritis secara global.

"Nah kita juga tahu ada berbagai mekanisme tektonik dan vulkanik, gempa yang besar yang bisa memicu seluruh sistem di dunia, misalnya seperti ada perubahan medan magnet bumi, dan sebagainya lah. Untuk saat ini sejauh pengalaman saya, sejauh dari dunia akademis, data dan analisis, belum ada sih,” katanya. 

"Belum ada satu data dan analisis yang jelas bahwa sekarang ini kita berada di masa yang global, kritis di segi tektonik dan vulkanik. Belum ada sih. Jadi kita tidak bisa bilang apa-apa kalau ada global wake up sekarang ini,” katanya. 

Danny mengatakan dugaan mengenai adanya fenomena global yang mempengaruhi aktivitas tektonik dan vulkanik masih bersifat spekulatif.

"Masih dalam ide-ide. Ada beberapa dugaan tapi saya pikir masih belum jelas,” katanya. 

Ia juga menyinggung dugaan mengenai perubahan rotasi kutub bumi serta tanda-tanda perubahan iklim global yang disebut dalam diskusi mengenai fenomena tersebut. Namun, Danny menilai hal itu belum dapat dijadikan bukti adanya keterkaitan dengan meningkatnya aktivitas vulkanik secara global.

"Tapi kalau sejauh ini sih, belum ada yang pasti lah, memang ada spekulasi karena rotasi kutub kutub bumi itu adalah lebih cepat gitu ya. Ada tanda-tanda perubahan di global dan sebagainya, tapi masih spekulasi saja,” katanya. 

"Pada intinya kejadian banyak erupsi di satu masa itu masih bisa ditengahkan sebagai kebetulan statistika,” katanya. 

Danny juga menyinggung perkembangan teknologi, termasuk satelit, sensor, pemodelan, dan kecerdasan buatan (AI), yang dinilai dapat membantu meningkatkan pemantauan aktivitas kebumian. Namun, ia mengingatkan teknologi tidak serta-merta membuat gempa dapat diprediksi secara instan.
"Ya, pada intinya nggak ada resep yang spontan. Kita kan ingatnya semuanya sempat instan ya, gampang. Ada teknologi ini langsung bisa gampang, nggak bisa,” katanya. 

Menurut Danny, teknologi dan AI tetap membutuhkan dukungan penelitian yang komprehensif agar hasil analisis tidak justru menyesatkan.

"Jadi semua perkembangan teknologi itu akan membantu kita. AI juga membantu. Tapi untuk menggunakan AI kita juga harus pintar. Kalau tidak pintar, perbantuan malah tersesatkan."
Ia menilai pengembangan penelitian kebencanaan di Indonesia perlu terus diperkuat.

"Jadi perkembangan teknologi, perkembangan AI, itu sangat membantu. Tapi tetap saja harus didukung oleh pengembangan dari dunia penelitian itu sendiri. Penelitian yang harus lebih komprehensi. Jadi kita juga bisa main instan, tetap harus serius, intensif, dan komprehensif,” katanya. 

Danny juga menyoroti pentingnya peningkatan pendidikan dan kesiapsiagaan bencana di tengah masyarakat. Menurutnya, kepanikan yang kerap muncul ketika terjadi aktivitas gunung api atau gempa menunjukkan masih adanya persoalan dalam pemahaman masyarakat mengenai risiko bencana.
"Jadi intinya pendidikan dan kesiapsiagaan bencana di Indonesia itu, menurut saya masih sangat kurang ya, karena kalau sudah baik pemahaman dan kesiapsiagaannya, ya diskusi seperti itu sudah tidak perlukan lagi kan,” katanya. 

Ia menilai masyarakat seharusnya sudah mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika terjadi peningkatan status gunung api, ancaman tsunami, maupun gempa.

"Jadi seharusnya masyarakat harus tahu harus apa, kalau ada siaga gunung api, atau kalau ada isu ancaman tsunami atau gempa. Nah sekarang ini kan tidak. Tiap ada apa namanya event dari bahaya gunung api atau gempa, selalu saja begitu ada banyak kepanikan yang tidak perlu,” katanya. 
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan