GELORA.CO - Abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan menyebar hingga ke tiga provinsi. Wilayah yang terdampak paparan abu vulkanik meliputi DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui konferensi video untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi di wilayah terdampak.
"Tadi, kami sudah melakukan video conference dengan para Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Semua melaporkan bahwa tidak ada korban jiwa sementara yang dilaporkan," kata Suharyanto dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9).
Menurut dia, pendataan terhadap dampak fisik akibat erupsi masih berlangsung. BNPB juga terus memantau perkembangan situasi di tiga provinsi yang terkena paparan abu vulkanik, termasuk DKI Jakarta yang turut terdampak.
"Dampak secara fisik untuk kerusakan ini terus masih dilakukan pendataan. Memang di Provinsi DKI Jakarta, Banten, dan Lampung ini semuanya terpapar abu vulkanik yang tadi sudah dijelaskan oleh Bapak Kepala BMKG," ucap Suharyanto.
BNPB, lanjut Suharyanto, telah mengambil sejumlah langkah untuk memastikan kondisi masyarakat terdampak terus terpantau. Pemantauan dilakukan secara berkala dengan melibatkan BPBD di daerah serta tim BNPB yang diterjunkan langsung ke lapangan.
"Yang pertama, tadi sekali lagi kami sudah melakukan video conference, tentu saja ini terus kita lakukan untuk mengetahui detik per detik, jam per jam, hari per hari daripada kondisi masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau ini," ucapnya.
Selain pemantauan jarak jauh, BNPB mengirimkan tim pendahulu ke wilayah terdampak. Sebanyak 10 personel diberangkatkan untuk melihat secara langsung situasi erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus mengidentifikasi dampaknya terhadap masyarakat.
"Ini sudah berangkat ke sana, mereka akan memantau secara langsung situasi di lapangan terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakatau sendiri maupun dampaknya kepada masyarakat," tutur Suharyanto.
BNPB juga melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan berbagai perangkat penanggulangan bencana di daerah. Pemeriksaan tersebut mencakup peralatan pemantauan, sirene peringatan, rambu evakuasi, hingga dokumen rencana kontinjensi yang dimiliki pemerintah daerah.
"Kemudian yang kedua juga, kami sudah melaksanakan pengecekan terkait dengan kesiapan alat perangkat. Nah, tadi Bapak Kepala BMKG juga menyampaikan seperti alat-alat pemantau, kemudian sirene, rambu evakuasi, kemudian piranti lunak rencana kontinjensi masing-masing kabupaten yang terdampak," jelasnya.
Tak hanya peralatan, BNPB turut mengecek ketersediaan kebutuhan dasar dan logistik di wilayah terdampak. Pemerintah daerah diminta memastikan persediaan makanan serta stok di gudang logistik pemerintah provinsi maupun kabupaten tetap mencukupi apabila kondisi memburuk dan bantuan diperlukan.
"Jangan sampai nanti kosong isinya, dan apabila memang diperlukan untuk bantuan dari pemerintah pusat, ini kami akan segera dorong," tegas Suharyanto.
Sementara itu, hingga saat ini belum ada pemerintah kabupaten maupun provinsi terdampak yang menetapkan status kedaruratan.
Meski demikian, BNPB memastikan langkah antisipasi tetap berjalan dan bantuan dari pemerintah pusat dapat segera digerakkan apabila situasi di lapangan membutuhkan penanganan lebih lanjut
Sumber: jawapos
.webp)