Pakar ITS: Waspadai Gunung Semeru dan Merapi -->

Pakar ITS: Waspadai Gunung Semeru dan Merapi

Gelora News
facebook twitter whatsapp
Pakar ITS: Waspadai Gunung Semeru dan Merapi

GELORA.CO -
  Pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meminta masyarakat mewaspadai Gunung Semeru dan Gunung Merapi di tengah aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi dalam waktu berdekatan. Belum lama ini, erupsi gunung Anak Krakatau menyebabkan sebaran abul vulkanik yang begitu luas.  

“Kalau untuk gunung api yang perlu diwaspadai saat ini, saya pikir Semeru dan Merapi. Keduanya perlu mendapat perhatian, karena berada dekat dengan zona-zona pusat penduduk,” kata Pakar dari Departemen Teknik Geofisika ITS Alutsyah Luthfian di Surabaya, Jawa Timur, Senin.

Fian, sapaannya, mengatakan aktivitas beberapa gunung api yang terjadi bersamaan tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung. Ini karena setiap gunung api memiliki sistem dan karakteristik masing-masing.

“Gunung api itu punya siklus dan karakter masing-masing. Jadi, ketika beberapa gunung api aktif dalam waktu berdekatan, belum tentu aktivitasnya saling berkaitan,” ujarnya.

Menurut dia, kedekatan waktu erupsi tidak cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa aktivitas satu gunung api memicu aktivitas gunung lainnya. Untuk mengetahui hubungan antar-aktivitas gunung api, kata dia, diperlukan kajian terhadap data geofisika dan kondisi sistem bawah permukaan masing-masing gunung.

“Tidak bisa hanya melihat waktunya berdekatan, kemudian menyimpulkan bahwa satu gunung memicu gunung yang lain. Harus dilihat data dan kondisi masing-masing gunung,” katanya.


Halaman 2 / 2
Fian mengatakan Gunung Semeru perlu mendapat perhatian karena perilaku erupsinya dinilai tidak selalu mudah diprediksi. Gunung tersebut juga berada dekat dengan kawasan yang memiliki konsentrasi penduduk tinggi.

“Semeru ini lebih perlu diwaspadai karena perilaku letusannya tidak bisa diprediksi dengan baik. Kadang-kadang Semeru bisa meletus besar tanpa ada aba-aba sebelumnya,” kata Fian.

Sementara itu aktivitas Gunung Anak Krakatau juga tetap perlu dipantau. Menurut Fian, karakter Anak Krakatau berbeda dengan Semeru dan Merapi karena berada di lingkungan laut. Kondisi tersebut membuat potensi longsoran tubuh gunung ke laut perlu menjadi perhatian dalam mitigasi karena peristiwa serupa pernah memicu tsunami Selat Sunda pada 2018.

Namun dia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menghubungkan aktivitas Anak Krakatau dengan aktivitas Semeru maupun gunung api lainnya. “Setiap gunung punya sistem magmatik sendiri. Jadi kita tidak bisa mengatakan karena Anak Krakatau aktif, kemudian Semeru ikut aktif atau sebaliknya,” ujar dia.

Fian mengatakan pemantauan geofisika dapat membantu memahami perubahan yang terjadi di bawah permukaan gunung api. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam risetnya adalah metode geofisika untuk mengetahui kondisi bawah permukaan dan mendeteksi perubahan yang mungkin berkaitan dengan aktivitas vulkanik.

“Kami mencoba melihat apakah ada aktivitas baru atau sinyal pendahulunya. Jadi, ada sinyal geofisika yang mungkin muncul sebelum letusan,” katanya.

Menurut dia, apabila pola sinyal tersebut dapat dikenali melalui penelitian dan didukung data yang memadai, informasi tersebut berpotensi meningkatkan pemahaman terhadap aktivitas gunung api. Namun metode tersebut belum dapat diartikan sebagai alat yang dapat memastikan kapan gunung akan meletus.

“Yang paling penting tetap pemantauan. Kita tidak bisa mengatakan gunung akan meletus hanya berdasarkan satu parameter,” ucapnya.

Fian meminta masyarakat tidak panik menyikapi aktivitas sejumlah gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan. Masyarakat, kata dia, tetap perlu waspada dengan mengikuti informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan