Kisah Letusan Gunung Api Hancurkan Kota Sodom Akibat Perbuatan Kaum Homo -->

Kisah Letusan Gunung Api Hancurkan Kota Sodom Akibat Perbuatan Kaum Homo

Gelora News
facebook twitter whatsapp

Dalam tradisi Islam dan Kristen, kisah kehancuran kaum Nabi Luth AS (dikenal juga sebagai kaum Sodom) menjadi salah satu peringatan paling keras dalam kitab suci. Mereka dihancurkan karena melakukan perbuatan yang dianggap sangat keji, yaitu mendatangi sesama jenis (homoseksualitas atau liwath) secara terang-terangan, di samping dosa-dosa lain seperti perampokan, kezaliman, dan penolakan terhadap ajaran nabi.

Nabi Luth AS diutus ke kota Sodom (dan kota-kota sekitarnya seperti Gomorah) untuk mengajak penduduknya bertauhid dan meninggalkan perbuatan tersebut. Namun, kaumnya justru menolak, mengejek, dan bahkan mengancam akan mengusirnya. Mereka berkata, “Usirlah Luth dan keluarganya dari negerimu ini, sesungguhnya mereka orang-orang yang berpura-pura suci.” Ketika para malaikat datang dalam wujud pemuda tampan sebagai tamu Nabi Luth, penduduk Sodom justru berkerumun ingin “menggauli” para tamu itu. Inilah puncak kemaksiatan mereka.

Bentuk Azab yang Diturunkan


Menurut Al-Qur’an, azab datang pada waktu subuh. Negeri mereka dijungkirbalikkan (yang atas menjadi bawah), disertai suara mengguntur yang dahsyat, lalu dihujani batu-batu dari tanah yang terbakar (sijjil) secara bertubi-tubi. Ayat yang paling sering dikutip adalah QS. Hud [11]:82:

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar.”

Hanya Nabi Luth AS beserta sebagian keluarganya yang beriman yang selamat. Istrinya sendiri termasuk yang binasa karena tidak beriman dan menoleh ke belakang saat azab turun.

Interpretasi sebagai Ledakan Gunung Api


Beberapa mufasir dan penulis tafsir ilmi di Indonesia, termasuk Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, menafsirkan peristiwa ini dengan analogi fenomena alam yang sangat dahsyat. Suara mengguntur diibaratkan letusan gunung berapi, pembalikan negeri digambarkan sebagai gempa bumi dan longsor yang hebat, sedangkan hujan batu dari tanah terbakar dihubungkan dengan lahar, batu vulkanik, atau material piroklastik yang terlempar ke udara lalu jatuh ke bumi.

Pendapat serupa juga muncul dalam beberapa kajian yang mengaitkan “batu sijjil” (tanah yang dibakar) dengan material vulkanik. Wilayah sekitar Laut Mati (Danau Luth) memang berada di zona sesar aktif (Dead Sea Transform Fault). Beberapa penulis menggambarkan bahwa aktivitas tektonik bisa memicu letusan atau ledakan material dari perut bumi, gas, belerang, dan batuan panas yang kemudian “menghujani” kota-kota di lembah tersebut. Smoke yang naik seperti dari tungku, seperti yang dilihat Nabi Ibrahim AS dari kejauhan, juga sering dihubungkan dengan asap letusan.

Namun, perlu dicatat bahwa secara geologi modern, tidak ada gunung berapi aktif di sekitar Laut Mati pada periode yang sesuai dengan kisah tersebut (sekitar 4.000 tahun lalu). Teori ilmiah yang lebih banyak dibahas belakangan justru mencakup gempa bumi hebat yang memicu penyemburan aspal, gas, dan belerang yang terbakar, atau bahkan ledakan udara meteor (airburst) di situs Tall el-Hammam yang diyakini sebagian arkeolog sebagai lokasi Sodom. Studi tentang meteor ini sempat dipublikasikan tetapi kemudian ditarik oleh jurnal terkait karena perdebatan metodologi.

Jejak di Laut Mati


Lokasi peristiwa ini diyakini berada di kawasan yang kini menjadi Laut Mati, danau dengan kadar garam ekstrem di perbatasan Israel-Yordania. Tidak ada kehidupan di dalamnya, dan kawasan sekitarnya gersang. Banyak yang menganggap kondisi ini sebagai sisa azab yang menimpa kaum tersebut. Pilar garam yang dijuluki “istri Luth” juga menjadi bagian dari tradisi lisan di kawasan itu.

Kisah ini berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an (antara lain dalam Surah Al-A’raf, Hud, Al-Hijr, Asy-Syu’ara, An-Naml, Al-Ankabut, dan Al-Qamar) sebagai pelajaran bahwa perbuatan yang dianggap melampaui batas, dilakukan secara terang-terangan dan menolak peringatan, dapat berujung pada kehancuran total.

Cerita ini tetap menjadi bagian penting dalam khazanah keagamaan, baik sebagai kisah sejarah maupun sebagai peringatan moral. Interpretasi ilmiah (gunung api, gempa, atau meteor) hanyalah upaya manusia memahami bagaimana azab itu terjadi di alam, sementara dalam keyakinan agama, semuanya terjadi atas kehendak Allah SWT.
SEBELUMNYA
Jadikan Sumber Pilihan