GELORA.CO - Mantan Wakil Ketua Umum Relawan Pro Jokowi (Projo), Budianto Tarigan, melontarkan pernyataan keras terkait ucapan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi yang sebelumnya dikaitkan dengan isu masa depan kekuasaan Presiden Prabowo Subianto.
Budianto menilai Budi Arie masih merepresentasikan kepentingan politik mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Bahkan, ia menduga Jokowi menikmati berbagai pernyataan yang dilontarkan mantan Menteri Koperasi tersebut.
“Saya percaya Mas Jokowi menikmati apa yang dikatakan Budi Arie yang menyebut kekuasaan Prabowo tidak sampai 2029. Jokowi dalang, benar ini. Pemain watak,” kata Budianto Tarigan di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Sabtu (29/8/2029).
Menurut Budianto, pernyataan Budi Arie tidak dapat dilepaskan begitu saja dari relasi politiknya dengan Jokowi dan keluarga Solo. Ia menyebut Budi Arie selama ini masih menjadi representasi Jokowi dalam organisasi relawan Projo.
“Budi Arie itu kalau bicara, tetap dia representasi Jokowi dalam organ. Seakan-akan dosa ini dosa Prabowo sendiri. Padahal kondisi hari ini enggak terlepas dari 10 tahun Bapak Jokowi,” ujarnya.
Budianto kemudian menyinggung situasi politik menjelang dan setelah Pilpres 2024. Menurut dia, keberhasilan mempertahankan keberlanjutan kekuasaan menjadi hal penting bagi kelompok politik Jokowi.
Ia mengutip pernyataan Budi Arie yang pernah menyebut adanya kekhawatiran apabila kelompok pendukung Jokowi kalah dalam Pilpres 2024.
“Kalau Pak Jokowi tidak berhasil menjaga anaknya untuk tetap berkuasa, maka kalau 2024 kemarin kita tidak menang, kata Budi Arie kan ke penjara semua. Mau apa lagi? Itu yang membuat Pak Jokowi hari ini gelisah,” katanya.
Budianto juga menilai wacana mengenai percepatan pergantian kepemimpinan nasional sebelum 2029 bukan persoalan yang bisa dianggap sepele.
Menurutnya, kemungkinan adanya embrio atau benih gerakan politik ke arah perubahan kepemimpinan perlu menjadi perhatian serius.
“Percepatan pergantian kepemimpinan nasional sebelum 2029 itu sesuatu hal yang serius. Benih, embrio mungkin sudah ada,” ungkapnya.
Ia menduga terdapat pihak-pihak yang berharap munculnya kekacauan politik yang dapat mengubah konstelasi kekuasaan nasional.
“Mereka berharap ketika ada huru-hara politik, nomor satu turun, nomor dua naik,” kata Budianto.
Budianto juga menyinggung pertemuan politik pada 24 Agustus 2026 yang menurutnya perlu dibaca secara lebih luas oleh Presiden Prabowo.
Menurut dia, persoalannya bukan semata-mata mengenai langkah politik Budi Arie, tetapi kemungkinan adanya kepentingan politik yang lebih besar di belakangnya.
“Setelah kejadian itu, pertemuan 24 Agustus yang dibaca Pak Prabowo bukan Budi Arie. Langkah Pak Jokowi,” ujarnya.
Budianto menilai posisi politik Jokowi dan keluarganya kini menjadi faktor penting dalam membaca dinamika hubungan antara kekuasaan lama dan pemerintahan Prabowo.
Ia kemudian mempertanyakan bagaimana masa depan keluarga politik Solo apabila terjadi situasi yang tidak menguntungkan secara politik.
“Kalau misalnya nanti terjadi situasi yang tidak menguntungkan bagi keluarga Solo, Gibran tidak bisa diharapkan, apa yang menjadi penjaga terakhir dari Dinasti Solo ini?” katanya.
Menurut Budianto, salah satu kemungkinan yang dibayangkannya adalah adanya harapan agar Prabowo tetap memberikan jaminan keamanan politik kepada keluarga Jokowi.
“Dia minta balas budi dari Prabowo. Mohon keluarga dijamin, dijaga, dijaga. Pertahanan dia bisa di situ,” pungkasnya.
