GELORA.CO — Kejaksaan Agung (Kejagung) mengerahkan personel tambahan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menjaga rumah kediaman Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Rumah yang berada di Jalan Radio I Nomor-5, Keramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) itu sejak Rabu (8/7/2026) sore dijaga ketat lebih dari 20-an prajurit TNI berseragam maupun yang tidak.
Pengamanan itu dilakukan setelah tim kepolisian dari Direskrimsus Polda Metro Jaya dan Kortastipidkor Mabes Polri melakukan penggeledahan di Restoran de Clan Signature, dan Koinn Money Changer yang berada di Jalan Cipete, Cilandak, Jaksel sejak Rabu (8/7/2026) siang.
Belum diketahui pasti apa hubungan antara aksi hukum penggeledahan di restoran itu dengan pengamanan ketat oleh TNI di kediaman Jampidsus Febrie.
Akan tetapi, terkait Restoran de Clan, dulunya rumah makan khas Prancis itu bernama Gontran Cherrier.
Di restoran itu, pada Mei 2024 lalu menjadi lokasi penangkapan salah seorang anggota Densus 88 oleh pasukan TNI pengawal Febrie karena nekat melakukan penguntitan terhadap Jampidsus.
Sejak kasus penguntitan itu, Jampidsus Febrie, pun dalam pengawalan ketat oleh personel TNI hingga kini. Terkait rumah kediaman Febrie yang dijaga ketat oleh TNI kali ini, pun pernah juga menjadi target penggeledahan oleh kepolisian dari tim Polda Metro Jaya pada Agustus 2025 lalu.
Ketika itu, tim kepolisian datang untuk melakukan penggeledahan karena terkait dengan penyidikan tindak pidana kekerasan yang terjadi di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat (Jakpus). Diduga pelaku kekerasan itu mencari perlindungan diri ke rumah Febrie.
Namun upaya penggeledahan ketika itu, berujung gagal karena pasukan TNI yang menjaga ketat rumah tersebut menolak kehadiran tim dari kepolisian.
Pun kali ini, Rabu (8/7/2026) pengamanan ketat oleh TNI di rumah kediaman Febrie dilakukan lebih ketat lagi. Dari pantauan Republika, lebih dari 20-an prajurit TNI yang berjaga-jaga di semua akses jalan masuk ke rumah Jampidsus itu.
Beberapa prajurit TNI yang menjaga rumah tersebut ada yang membawa senjata laras panjang. Sejumlah anggota TNI dengan pakaian sipil, pun turut menjaga rumah besar bercat putih tersebut.
Penjelasan Polri
Dari Polri, Kepala Kortas Tipidkor Irjen Totok Suharyanto menerangkan, penggeledahan di Restoran de Clan Signature dan Koin Money Changer bagian dari aksi serupa yang dilakukan kepolisian di delapan titik terpisah di Jakarta dan Jawa Barat.
Ia mengatakan, penggeledahan tersebut terkait dengan penyidikan gabungan oleh kepolisian dalam perkara korupsi tata kelola batu bara. Menurut Totok, penyidikan kasus tersebut terkait dengan peristiwa black out atau pemadaman listrik yang baru-baru ini terjadi di sejumlah daerah.
“Saat ini Kortas Polri sedang melaksanakan skema joint investigation dengan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya dalam penanganan perkara korupsi dan pencucian uang pada proses penanganan hukum,” kata Totok, Rabu (8/7/2026).
Selain perkara korupsi terkait pemadaman listrik tersebut, penyidikan gabungan oleh Polri itu juga sedang mengusut kasus korupsi terkait ASABRI dan Jiwasraya pada periode 2020 sampai 2025. “Kemudian juga terkait kasus pencucian uang dalam proses penyelesaian utang PT CBS kepada PT KNI yang terjadi di wilayah Polda Metro Jaya,” ujar Totok.
Dirreskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Victor Dean Mackbon menambahkan, dalam penyidikan kasus tersebut tim kepolisian menemukan adanya dugaan keterlibatan penyelenggara negara. “Langkah-langkah yang kami lakuka pada hari ini, kami melakukan upaya di dalam pemenuhan alat-alat bukti di kira-kira delapan lokasi,” kata dia.
Selain di Restoran de Clan dan Koin Money Changer, tim penyidik kepolisian juga melakukan penggeledahan di beberapa kantor yang berada di kawasan Pasific Place Jakarta Pusat (Jakpus), juga di beberapa tempat di kawasan Kuningan, Sudirman, juga Bogor.
Dari penggeledahan yang dilakukan kepolisian di Restoran de Clan dan Koin Money Changer, tim penyidik menemukan sejumlah barang bukti berupa brangkas. Di dalam brangkas itu terdapat sejumlah uang tunai dalam pecahan Dolar AS dan Singapura. Namun kepolisian belum mengitung berapa jumlah konversi dari temuan uang yang ditemukan di dua lokasi penggeledahan tersebut.
