GELORA.CO - Media Singapura The Straits Times menyoroti maraknya kejahatan jalanan di Jakarta yang belakangan viral di media sosial hingga memunculkan perbandingan dengan Gotham City, kota fiksi yang identik dengan kriminalitas dalam komik Batman.
Meski demikian, sorotan tersebut tidak menyurutkan minat wisatawan Singapura untuk berkunjung ke ibu kota Indonesia.
Dalam laporan yang terbit baru-baru ini, sejumlah wisatawan Singapura mengaku tetap merasa nyaman berlibur di Jakarta.
Bahkan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi Rp17.840an justru membuat Jakarta semakin menarik sebagai destinasi belanja dan wisata kuliner, sehingga mereka tetap datang dan berburu berbagai produk lokal dengan harga yang lebih terjangkau.
Wisatawan Singapura yang diwawancarai The Straits Times tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh reputasi Jakarta terkait kriminalitas.
Mereka justru memiliki “buruan” lain yang ingin dibawa pulang.
Bagi banyak wisatawan, nilai tukar rupiah yang lemah semakin memperkuat daya tarik Jakarta sebagai destinasi belanja dan kuliner.
“Tidak ada waktu untuk takut, masih banyak belanjaan yang harus dibeli,” canda Noraini Rahmat (52) yang berlibur ke Jakarta bersama dua saudara perempuannya dalam agenda yang ia sebut sebagai “maraton belanja penuh” pada 22–25 Mei.
Waspada Kejahatan
Hotel tempat Noraini dan saudara-saudaranya menginap di kawasan Menteng berada dalam jarak berjalan kaki dari beberapa pusat perbelanjaan besar di Jakarta Pusat.
Beberapa minggu sebelumnya, tepatnya pada 8 Mei, seorang warga negara Polandia menjadi korban penjambretan oleh pengendara motor di kawasan Kebon Sirih, Menteng.
Kemudian pada 14 Mei, seorang turis asal Italia kehilangan telepon genggamnya yang dirampas pengendara motor di dekat Bundaran Hotel Indonesia (HI), Menteng, saat menunggu layanan transportasi daring di pinggir jalan.
Rekaman kamera dasbor menunjukkan korban sempat mengejar pelaku sebelum terjatuh ke jalan.
Meski berbagai kasus kejahatan terjadi di Menteng, hal itu tidak membuat Noraini dan saudara-saudaranya khawatir.
“Tentu saja ketika video seperti itu viral, orang-orang akan membicarakannya. Tapi sejujurnya, kami hanya berusaha berhati-hati seperti saat berada di Singapura atau kota besar lainnya,” kata Noraini yang bekerja di sektor kesehatan.
“Jangan berdiri terlalu dekat ke jalan sambil memegang ponsel, jangan membiarkan tas terbuka. Hal-hal dasar seperti itu,” tambahnya.
Agenda mereka mencakup berburu busana muslim dengan harga terjangkau di pusat perbelanjaan Thamrin City, melihat-lihat merek lokal populer seperti Buttonscarves di mal-mal besar Jakarta, hingga wisata kuliner di kawasan Blok M yang sedang populer.
Mereka juga memanfaatkan jatah bagasi pesawat 30 kilogram untuk membawa pulang berbagai oleh-oleh seperti kue lapis dan camilan khas Indonesia.
Noraini menilai nilai tukar yang menguntungkan membuat perjalanan belanja ke Jakarta tahun ini terasa lebih menarik.
Pandangan serupa disampaikan Marcus Tan (38) yang singgah di Jakarta selama tiga hari setelah berlibur di Nusa Tenggara Timur bersama teman-temannya sebelum kembali ke Singapura.
“Seratus dolar Singapura terasa sangat bernilai di sini. Saya bisa membeli lebih banyak barang, makan lebih banyak, dan tetap merasa mengeluarkan uang lebih sedikit dibandingkan jika melakukannya di Singapura,” ujarnya.
Saat ini, nilai tukar dolar Singapura berada di kisaran Rp13.800, mendekati rekor tertinggi terhadap rupiah.
“Bahkan untuk merek yang juga tersedia di Singapura, kadang tetap lebih murah di sini setelah dikonversi ke dolar Singapura,” tambah Tan.
Sementara itu, Nur Syarifah (29) yang berkunjung ke Jakarta bersama lima teman dan seorang balita berusia tiga tahun mengatakan mereka tetap merasa nyaman datang ke ibu kota meski ada laporan mengenai meningkatnya kejahatan.
Mereka mengisi agenda perjalanan dengan mengunjungi restoran viral dan kafe populer di TikTok yang tersebar di berbagai kawasan Jakarta, termasuk Kemang dan SCBD.
“Kami tidak akan datang jika benar-benar merasa tempat ini berbahaya, apalagi ada balita dalam rombongan. Dibandingkan beberapa kota di Eropa yang terkenal dengan kasus pencopetan, Jakarta masih terasa cukup aman bagi kami,” ujar Syarifah.
Singapura merupakan penyumbang wisatawan terbesar kedua ke Indonesia setelah Malaysia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lebih dari 320.000 wisatawan Singapura berkunjung ke Indonesia pada kuartal pertama 2026.
Meski demikian, bahkan wisatawan Singapura yang mengaku tetap nyaman berkunjung ke Jakarta mengakui bahwa berbagai insiden kejahatan tersebut membuat mereka lebih waspada saat berada di ruang publik.
“Tentu saja kita tetap harus siaga,” kata Syarifah. “Tapi kami tidak merasa tidak aman saat berjalan-jalan di mal atau kawasan kafe di sini. Sejujurnya, kemacetan lalu lintas masih lebih membuat stres dibandingkan kejahatan.”
