GELORA.CO - Dunia politik Karang Paci tengah diguncang prahara digital. Konflik obrolan di grup WhatsApp (WA) lintas anggota DPRD Kalimantan Timur kini resmi masuk ke ranah hukum kelembagaan.
Badan Kehormatan (BK) DPRD Kaltim mengonfirmasi telah menerima laporan dugaan pelanggaran etik yang dilayangkan oleh legislator Fraksi Gerindra, Akhmed Reza Fachlevi, terhadap anggota Fraksi Golkar, Syahariah Mas'ud.
Ketua BK DPRD Kaltim, Subandi, menegaskan bahwa berkas aduan sudah di tangan dan siap diproses secara prosedural guna menentukan apakah isi chat tersebut murni pelanggaran kode etik kedewanan atau sekadar masalah personal.
"Yang pasti karena surat masuk harus kita tindak lanjuti. Apalagi sudah kita konfirmasi yang bersangkutan, yang melaporkan, apakah ini dilanjutkan atau tidak, dan jawabannya dilanjutkan," tegas Subandi di Samarinda, dikutip Senin 1 Juni 2026.
Berawal dari Sengkarut Hak Angket yang Menyerang Personal
Sumbu kompor perseteruan ini sejatinya pecah dalam rapat pimpinan terkait penyerahan surat hak angket oleh Panitia Khusus (Pansus).
Reza merasa tersinggung berat atas pernyataan Syahariah di grup WA yang dinilai kasar dan menyerang ranah pribadi.
Meski Syahariah sudah berdalih bahwa ucapannya spontan akibat tensi politik pembentukan hak angket yang mendesak, Reza telanjur meradang.
Tensi rapat formal bahkan sempat meledak hingga Reza harus ditarik keluar ruangan oleh rekan sejawatnya demi menenangkan diri.
Tahapan penanganan perkara oleh BK DPRD Kaltim:
- Pihak pelapor secara gamblang menegaskan untuk tetap melanjutkan perkara ini ke jalur hukum etik ketimbang mengambil opsi berdamai.
- BK mewajibkan pelapor melengkapi seluruh dokumen pendukung dan bukti digital sebelum menyusun jadwal sidang resmi.
- BK tengah berpacu dengan waktu guna menyinkronkan jadwal rapat internal di sela-kesibukan menjelang masa reses dewan.
- Kendati pelapor bersikeras, pihak BK tetap membuka ruang mediasi kekeluargaan agar ketegangan politik ini bisa mereda tanpa sanksi berat.
“Saya mohon maaf kalau agak kasar. Saya bukan orang kasar, tapi dalam kondisi tertentu saya harus berbicara seperti itu,” ucap Syahariah Mas'ud saat memberikan klarifikasi di depan forum rapat.***
Sumber: konteks
