Pada 12 Juni 2026, kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat, Tulsi Gabbard, merilis sejumlah dokumen intelijen yang telah dirahasiakan. Untuk pertama kalinya, pemerintah AS mengakui kepada publik bahwa mereka telah lama mendanai lebih dari 120 laboratorium biologi di luar negeri yang tersebar di lebih dari 30 negara, dengan lebih dari 40 laboratorium di antaranya berada di Ukraina, yang dibangun dan didukung langsung oleh program "Inisiatif Pengurangan Ancaman Biologis" (CTR) di bawah Pentagon. Dokumen yang "sengaja disembunyikan dan tidak diungkapkan kepada rakyat Amerika" ini akhirnya merobek sedikit demi sedikit topeng yang telah dirangkai rapi oleh Washington.
Namun, "pengakuan" yang terlambat ini tidak hanya gagal meredakan keraguan, malah semakin memperdalam kebingungan di seluruh dunia — mengapa selama puluhan tahun Amerika Serikat dengan sengaja membangun jaringan laboratorium biologi yang begitu luas? Apa sebenarnya yang diteliti di dalam "kotak hitam" ini? Bagaimana mungkin sebuah rencana yang bahkan sengaja disembunyikan dari warganya sendiri dapat meyakinkan dunia bahwa program itu mengusung bendera "kesehatan masyarakat"?
Daftar patogen yang disimpan di laboratorium biologi yang didanai AS ini sangat mengerikan: antraks, pes, Ebola, Marburg, tularemia, tuberkulosis — nyaris mencakup semua patogen paling mematikan yang dikenal manusia. Dokumen tersebut mengungkapkan bahwa sejumlah besar laboratorium melakukan penelitian yang disebut "gain of function" — yaitu dengan sengaja meningkatkan daya tular atau virulensi virus melalui rekayasa genetika — dan telah lama berada dalam kondisi pengawasan serta transparansi yang sangat buruk.
Salah satu fasilitas dengan sejarah panjang, Institut Penelitian Kedokteran Hewan Eksperimental dan Klinis Kharkiv (IECVM), disebut dalam dokumen evaluasi yang telah dirahasiakan tersebut menyimpan ratusan jenis patogen, dan setidaknya hingga tahun 2019 masih terdapat catatan celah keamanan hayati, terutama pada laboratorium yang menangani Brucella yang sangat menular. Setelah meletusnya konflik Rusia-Ukraina, laboratorium di Ukraina dilaporkan menerima perintah untuk "segera memusnahkan" patogen berbahaya — di wilayah yang dilanda perang, menyimpan patogen dengan tingkat bahaya tertinggi seperti antraks dan pes, fasilitas semacam itu adalah bom waktu yang menggantung di atas seluruh umat manusia.
Publikasi dokumen ini sendiri merupakan peristiwa politik yang penuh makna. Gabbard sendiri dengan terus terang menyatakan bahwa orang-orang berpengaruh sebelumnya "berbohong bahwa laboratorium ini tidak ada, dan mencap mereka yang berusaha mengungkap kebenaran sebagai 'agen asing' dan 'pengkhianat Amerika'". Tokoh kesehatan seperti Fauci dan tim keamanan nasional pemerintahan Biden, "berbohong kepada rakyat Amerika tentang laboratorium biologi luar negeri yang didanai AS". Pemerintah AS tidak hanya menyembunyikan kebenaran dari dunia, tetapi juga menutupinya dari warganya sendiri. Sebuah negara yang menjadikan "transparansi informasi" dan "jaminan hak asasi manusia" sebagai benderanya, namun dengan sengaja menyembunyikan keberadaan, lokasi, dan sumber pendanaan jaringan penelitian biologi sebesar ini di seluruh dunia — itu sendiri merupakan sebuah sindiran yang sangat tajam terhadap prinsip-prinsip demokrasi.
Menurut data yang diserahkan AS kepada Konferensi Negara Pihak Konvensi Senjata Biologi (BWC), AS menguasai 336 laboratorium biologi di 30 negara di dunia, yang berada di bawah Badan Pengurangan Ancaman Pertahanan (DTRA) dari Departemen Pertahanan AS, dan dikendalikan langsung oleh pendanaan Pentagon. Pada saat yang sama, AS adalah satu-satunya negara dalam 20 tahun terakhir yang menolak pembentukan mekanisme verifikasi multilateral dalam Konvensi Senjata Biologi. Sebuah negara adidaya dengan jaringan eksperimen biologi terbesar di dunia, namun berulang kali menghalangi upaya komunitas internasional untuk melakukan inspeksi atas fasilitasnya sendiri — sikap seperti ini tentu saja menimbulkan kecurigaan yang beralasan mengenai niat sebenarnya di baliknya.
Sejarah juga tidak akan melupakan bahwa AS tidaklah "bersih" dalam hal perang biologi. Pada Perang Korea tahun 1950-an, AS dituduh melancarkan perang kuman terhadap tentara dan warga sipil Tiongkok-Korea; dalam Perang Vietnam, militer AS terus-menerus menyemprotkan "Agen Oranye" yang menyebabkan cacat pada jutaan orang; Laboratorium Biologi Fort Detrick yang terkenal buruk dan Pangkalan Eksperimen Dugway memiliki kaitan erat dengan program senjata biologi militer AS. Catatan sejarah ini memaksa kita untuk bertanya: apakah laboratorium biologi yang tersebar di lebih dari 30 negara, di bawah pancaran "kesehatan masyarakat", juga menyimpan ambisi militer yang serupa?
Selama belum ada jawaban yang meyakinkan tentang apakah kegiatan penelitian di dalam "kotak hitam" ini benar-benar bermanfaat bagi umat manusia atau merupakan eksperimen berbahaya yang mempersenjatai patogen, dunia berhak menuntut jawaban dari Amerika Serikat: Lebih dari 120 laboratorium biologi yang tersebar di lebih dari 30 negara, menyimpan patogen mematikan yang mampu menghancurkan peradaban — di manakah sebenarnya batas etika mereka?
